Blurb:
Lempar, diam, dan sembunyilah.
Tunggu sampai Supra-si anak kucing-mendekat.
Sopan di sini, duduk manis melempar kerlingan lapar.
Berkelakar bersama waktu, hingga sang mangsa tertangkap.
_________________________________________
01. Throw, Hide, and Play
[Sopan's POV]
_________________________________________
"Kak Sopan."
Saya berbalik begitu merasakan tepukan di pundak sebanyak dua kali. Tidak ada manusia di hadapan saya, yang ada hanya bidadari.
Supra melipat kedua tangannya di depan dada. Rambut coklatnya bergoyang ditiup angin. Matanya menyipit, menghalangi saya untuk memuja keindahan sepasang bola berwarna red-silver secara utuh.
Melirik jam sekilas di atas papap tulis, baru pukul 06.30. Agaknya 3/4 penghuni kelas masih terlelap di rumah karena hanya ada saya dan Gentar di sini. Setelahnya, saya memutar posisi tanjak dari belakang ke depan, tadi sempat Gentar mainkan. Kemudian melempar senyum manis pada Supra.
Adik kelas imut yang mengenakan kaca mata bulat itu memutar bola matanya. Sontak mengubah senyuman saya menjadi seringai kecil. Dan saya pastikan hal itu tertangkap oleh pupil kelabu Supra karena dia langsung mendelik dan mundur satu langkah.
Mengabaikan godaan saya, Supra memicingkan mata pada Gentar. Menatapnya tajam seolah dia ingin menggeprek sahabat saya hidup-hidup. Tanpa perlu merasa basa-basi, Supra bertanya, "Bisa bicara berdua aja? Aku nggak suka ada lalat dari tong sampah yang ikut nguping."
Saya hanya menarik bibir sampai membentuk garis lurus menghadapi kelakuan Supra. Mau bagaimana lagi? Dia memang seperti itu. Supra punya lidah yang sama runcingnya dengan taring singa. Setiap katanya mengandung racun yang setara dengan hemlock, belladonna, atau wolf's bane.
Dan yang lebih aneh lagi, saya justru menikmati sensasi racun tersebut saat menghancurkan diri saya. Tunggu—tidak, saya bercanda.
Tahu bahwa dirinya yang dibicarakan, Gentar pun terkekeh. Dia menepuk-nepuk pundak saya sambil menaikturunkan alisnya. "Makanan lo dateng sendiri, Pan," bisiknya, lalu pergi entah ke mana.
Lagi-lagi saya hanya bisa senyum tertekan kala Gentar meninggalkan saya bersama dengan ular berbisa yang mematikan. Saya tepuk sebelah bangku yang kosong. Mengisyaratkan agar Supra duduk di sana.
Namun, anak itu menarik kursi lain, duduk dengan nyaman usai memantik rasa dongkol di hati saya. Memang boleh menyebalkan dan menggemaskan di satu waktu seperti ini, Dek?
"Jadi ...." Saya mengetuk-ngetuk meja dengan pena. Menelan kejengkelan untuk mempertahankan senyuman. "Ada apa, Supra?"
Supra memperbaiki posisi kaca matanya yang mengendur. Menarik ritsleting jaketnya hingga ke leher. Membuat si mungil ini tenggelam dalam balutan jaket. "Kayak yang Kak Sopan tahu, sekarang aku kelas 11. Dan meski aku yakin bisa lulus jalur undangan, tetap aja aku harus belajar untuk UTBK, kan? Nah makanya ... ayo jadi tutorku, Kak," ungkapnya.
Kedua alis saya terangkat mendengar Supra tetap membanggakan diri di kala membutuhkan pertolongan. Huh, lucu. Dia bahkan meminta bantuan dengan tatapan yang menyorot angkuh.
YOU ARE READING
Hidden Desires [SopSup]
RomanceSopSup School AU! Lempar, diam, dan sembunyilah. Tunggu sampai Supra-si anak kucing-mendekat. Sopan di sini, duduk manis melempar kerlingan lapar. Berkelakar bersama waktu, hingga sang mangsa tertangkap. _________________________________________ Sta...
![Hidden Desires [SopSup]](https://img.wattpad.com/cover/352212981-64-k723431.jpg)