Bab 1 : Hoshi

735 48 0
                                        

·┊⋆˚★˚⋆┊·
╡⋆☆鬼滅の刃☆⋆╞
–✧⋆˚₊‧ASTERIA‧₊˚⋆✧–


"Lari lebih cepat!"

"Hoshi, kuda-kudamu masih lemah!"

"Ulangi lagi!"

Halo, aku Hoshi. Sakamoto Hoshia. Usiaku sebelas tahun. Sekarang aku sedang dilatih ilmu berpedang oleh ayahku. Karena dunia yang aku tinggali saat ini, memiliki ancaman besar yang disebut oni.

Iblis. Makhluk pemakan manusia yang berkeliaran di malam hari. Kelemahan utama mereka ialah sinar matahari. Namun, mereka juga bisa dibunuh dengan memenggal kepalanya menggunakan logam khusus.

Pemburu iblis. Organisasi yang tidak diakui pemerintah mengemban tugas berat karena harus selalu bersiaga untuk membunuh iblis di malam hari. Senjata yang digunakan adalah logam khusus yang ditempa menjadi pedang. Untuk menjadi seorang pemburu iblis, diharuskan mengikuti ujian seleksi akhir di gunung Fujikasane selama tujuh hari.

"Hoshi, coba ayunkan."

Aku ingin menjadi pemburu iblis. Orang-orang hebat yang menyelamatkan ratusan nyawa. Jadi aku dilatih oleh ayahku yang merupakan mantan pemburu iblis juga. Selain itu, pamanku adalah seorang pemimpin organisasi tersebut.

"Mulai pernapasanmu."

Tapi, sudah tiga tahun aku berlatih habis-habisan aku belum bisa juga melakukan ilmu pernapasan. Yaitu teknik dalam bernapas yang bisa meningkatkan kekuatan tubuh. Ilmu pernapasan menjadi syarat agar bisa memiliki katana yang bisa berubah warna. Nichirin, namanya.

Sejak masih sangat kecil aku didiagnosa menderita gangguan pernapasan. Paru-paruku tidak dapat memasok banyak oksigen seperti kebanyakan orang. Bisa dibilang, aku tidak bisa bernapas secara normal.

"Aku ... gagal lagi, Ayah."

Ayahku menghela napas panjang. Meskipun merasa kecewa, namun ayah tidak bisa memaksaku. Bernapas normal saja aku tidak bisa, apalagi melakukan teknik. Hidup panjang pun aku sudah bersyukur.

Terkadang aku merasa iri. Karena penyakitku ini, aku selalu dilarang jika ingin mencoba hal baru dengan alasan terlalu berbahaya. Aku bahkan tidak bisa berenang. Padahal aku sangat suka bermain air.

"Hoshi, antar ini ke tempat paman." Ayah memberikanku keranjang yang isinya entah apa. Aku tidak berniat mengintip.

"Jika ingin bermain, pulangnya jangan terlalu sore. Ayah harus pergi ke kota dan tidak bisa menjemputmu."

Aku mengangguk. Menyimpan pedang kayu yang digunakan berlatih, lalu pergi ke tempat tujuan dengan diantar oleh seekor gagak.

Iya, gagak.

Hewan ajaib yang bisa berbicara dan menjadi sarana komunikasi para pemburu iblis. Aku mendapatkannya karena pamanku.

Karena kehadiran keluarga pamanku sangat rahasia, wujudnya hanya diketahui oleh pemburu iblis tingkat tertinggi yang disebut Hashira. Kediamannya pun tidak diketahui siapapun. Gagak yang menjadi sarana komunikasi selalu diganti dengan rutin demi menjaga keamanan pemimpin pemburu iblis.

"Karasu, apa masih jauh?" tanyaku pada si gagak. Gagak ini adalah gagak ketujuh yang diganti.

"Kwak! Hampir sampai, kwak!" Uhh, suaranya nyaring sekali.

Aku berjalan diam. Ingin segera sampai karena tubuhku sudah lelah karena berlatih. Cuaca juga lumayan terik karena hari masih siang.

"Kwak! Sampai di sini! Dia akan mengantarmu, kwak! Aku pergi! Kwak! Kwak!" Gagak itu langsung pergi tanpa menunggu responku.

ASTERIA | Demon SlayerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang