"Sekian kelas pada sore hari ini, terimakasih"
Ku hela nafas lega lalu segera memasukkan beberapa alat tempurku ke dalam tas dan bergegas untuk keluar kelas.
Ku perlambat langkah kakiku saat didepanku terdapat dosen waliku yang juga berjalan keluar kelas
"Dor!"
Kedua mataku terbelalak saat melihat Oniel berada di tengah-tengah pintu. Wait, dia salah sasaran?
"Begini kelakuan kamu terhadap dosen kamu sendiri?!"
"Eh? Maaf Bu Mel, saya gak sengaja"
"Pfft"
Aku berusaha menahan tawaku mati-matian saat melihat muka Oniel yang seperti tertangkap basah skidipawew di semak-semak.
"Awas kamu"
Bu Melody pun akhirnya pergi dan sedangkan aku memilih menertawakan nasib Oniel yang terkena semprot oleh dosen waliku
"Hahahahaha, bau-bau nilai D"
Aku semakin tertawa keras saat melihat Oniel yang mendengus kasar lalu menatapku dengan tatapan tajam
"Gara-gara lu ya anjing"
Aku pun mengangkat tanganku sambil tertawa kecil "wow santai bro, mending nyari dede gemes dulu gak sih"
"Anjing lah, degem mulu otaklu. Padahal mah lebih menggoda janda"
"Ya itukan menurut lu"
"Hilih kintil, udah diem ae lu. Gua lagi meratapi nasib matkulnya Bu Melody"
Ku rangkul pundaknya lalu berjalan menuju parkiran dengan sedikit tertawa kecil. Kadang aku merasa bahwa Oniel ini otaknya berada di perut bersama dengan para organ pencernaan.
"Udah daripada lu ngetawain gua mending kita by one Tekken"
Alisku terangkat sebelah lalu menatap Oniel dengan heran "serius lu? ntar kalah nangis"
"Bangsat lu, Del. Mentang-mentang sering menang"
Aku tertawa pelan lalu melepaskan rangkulanku pada pundaknya "makanya jangan cupu jadi cowo"
"Ck, buktiin aja nanti"
Ku anggukkan kepalaku lalu membuka sebungkus permen karet yang Oniel sodorkan
"Taruhannya apa dulu nih" tanyaku sambil mengunyah permen karet yang berada di mulutku
"Pecel lele deket alun-alun"
"Oke deal"
Kini aku dan Oniel telah berada di parkiran. Ku sodorkan kunci motor maticku ke arahnya sedangkan aku memilih menunggu sambil menyapa beberapa mahasiswa kenalanku
"Yok"
Aku pun menoleh ke arah Oniel lalu naik ke atas motorku yang ku beri nama cakwe
"Lu gak berniat ganti motor gitu?"
Ku gelengkan kepalaku "enggak, vario masih the best buat gua"
**
Setelah selesai dari rumah Oniel, kini aku berada di rumahku yang nampak tidak ada orang. Mataku mengerjap pelan saat melihat sesuatu berwarna putih berada di area dapur
"Ohhhh....kulkas" gumamku sambil berjalan ke arah saklar
Ctek
Aku pun menghela nafas lega lalu berjalan ke arah dapur untuk mengisi tumblerku dengan air putih.
"Yuhuuu Adel sayang!"
Ku tolehkan kepalaku ke arah mama dan menghela nafas panjang saat dia mengecup kedua pipiku.
"Ma, anakmu lagi ngisi air nih. Nanti tumpah" ucapku sambil menunjukkan tanganku yang sibuk dengan tumbler dan dispenser
"Habisnya mama udah lama gak ketemu kamu loh, Del"
"Astaga, kita tadi pagi sarapan bareng kalau mama lupa"
Aku pun segera menjauhkan tumblerku dari dispenser saat tumblerku telah penuh dengan air putih. Ku tutup tumblerku lalu meletakkannya di dalam tasku.
"Iyaa deh. Oiya, besok ada temen mama yang mau tinggal disini, tolong kamu jaga sikap ya"
"Lah ngapain tinggal disini?"
"Dia dari luar negri, terus cerai sama suaminya. Sementara mama suruh tinggal disini aja karena dia udah gak punya keluarga"
Aku mengangguk pelan lalu berjalan ke arah tangga yang menuju lantai dua. Ngapain juga sih mama nawarin temennya untuk tinggal disini? Bisa-bisa hidupku gak tenang kalau di rumah ini ada 2 emak-emak.
TBC
VOTE!!
YOU ARE READING
Karafernelia - Delshel
FanfictionKarafernelia (Caraphernelia) memiliki arti keadaan dimana seseorang meninggalkan kita, namun jejak langkahnya masih tertinggal dan menyisakan luka dalam kenangan kita. Terkadang judul bisa tidak sesuai cerita. ‼️GXG STORY ‼️
