Saat ini, pintu kamarku didatangi oleh tamu tak diundang. Dengan senyuman lebar merekah di wajahnya, ia mengulurkan tangan padaku.
"Senang bertemu denganmu lagi, Anastasia."
"Apa... Kita pernah bertemu?"
***
Supir yang mengantarkanku sudah berjalan jauh, aku hanya memandanginya sampai benda hitam beroda empat itu menghilang dari penglihatanku.
"Aku diberi tahu untuk mencari kepala asrama, lalu eee... Sepertinya aku akan disambut pria bertubuh besar itu disana."
Aku bermonolog, kemudian memandang bangunan megah yang berdiri di hadapanku, mulutku menganga lebar dibuatnya. Bukan karena tanpa alasan, bayangkan saja jika gedung yang lebih mirip dikatakan sebagai kastil ini adalah sebuah sekolah. Tampak luar, sekolah ini terlihat tua namun dilain sisi juga terawat. Dengan taman depan yang dipenuhi oleh murid serta beberapa jenis tanaman yang belum pernah ku temui sebelumnya. Kesan pertama yang cukup bersahabat untukku, namun yang aneh hanya satu...
Aku tidak tahu sekolah ini ada.
Sepertinya kita harus mengkilas balik kejadian yang membuatku datang ke sekolah misterius ini.
***
"Apa... Kita pernah bertemu?"
Pria berbadan besar di hadapanku hanya tertawa, entah apa yang lucu sampai membuat air matanya menetes di sela-sela ia tertawa.
"Maafkan aku, jujur saja aku merasa geli dengan ini semua."
Kedua alisku kini saling bertaut, "Maksudmu?"
"Itu artinya kau tak perlu mengetahui apapun! Sepertinya kau hanya dapat mengandalkan takdir yang akan membawamu ke suatu tempat!"
Tak mengerti, secara tak sadar aku meninggikan suaraku. "Kau! Jangan berlagak seolah-olah sedang memprediksi masa depanku! Aku akan memanggil orang tuaku jika kau tak kunjung pergi!" Entah kenapa aku merasa kesal, kesal karena orang aneh tiba-tiba memasuki kamarku dan dengan lagak mengetahui masa depanku nanti.
Padahal dia tak tahu apa-apa.
Dengan perasaan kesal aku melangkah mendekatki pintu kamar, namun dengan cepat dihadang. Aku mengerutkan alis, kemudian beralih menatapnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mencegahmu."
Alisku makin mengerut dalam, aku menatapnya sinis. "Tolong menyingkirlah atau aku akan teriak." Ia bergeming, tak mengindahkan kalimatku. Terpaksa aku menarik napas, bersiap-siap untuk mengeluarkan suara.
Ketika akan melepaskan suara, tiba-tiba saja pintu kamarku menghilang. Digantikan dengan pemandangan padang rumput yang luas. Beberapa helai rambutku ikut menyapa langit, aku mematung. Berusaha memahami apa yang sedang terjadi saat ini, ketika aku mengalihkan pandang ke arah pria bertubuh besar misterius ini.
Aku dapat melihat langit-langit kamarku lagi. Pria di depanku ini hanya mengulum senyum, bisa ku lihat ekspresi puasnya karena berhasil mengerjai anak kecil yang tak lain adalah aku sendiri.
"Kau..."
"Keren 'kan?"
Aku mematung.
"Jika kau ingin tau, tolong dengarkan apa yang akan aku katakan terlebih dahulu. Sikapku tadi memang sedikit menyebalkan, apalagi kau sedang kebingungan."
Aku mengerutkan bibir, "Aku bersyukur kau paham, apalagi aku bukan orang yang menjadi sopan apabila orang asing tiba-tiba muncul dan seolah-olah tahu semua hal tentangku. Itu mengesalkan," ucapku berterus terang.
"Ah, kau kesal karena itu ternyata."
"Maaf?" Aku meninggikan suaraku.
"Okeh lebih baik kita kembali ke topik, aku sudah membuang banyak waktu dan tenaga hanya untuk menjemputmu."
Aku menatapnya kesal, "Harusnya aku yang mengatakan itu!" Sampai pada akhirnya aku tersadar dengan kalimat terakhir yang baru saja ia katakan. "Tunggu, menjemputku?"
Ia mengangguk, "Yah, bisa dibilang kau diundang untuk mengikuti program sekolah kami. Dengan kata lain, murid pindahan."
Aku terdiam, berusaha mendengarkan sampai selesai.
"Alasan mengapa kau yang dipilih... Aku rasa hal itu akan terjawab di kemudian hari. Yang pasti kau perlu bersiap-siap untuk menyiapkan semuanya. Untuk ijin orang tua, sejujurnya kami tidak membutuhkan hal itu.
Ia menjeda.
Karena kami sendiri percaya diri untuk tidak meninggalkan luka sekecil apapun padamu. Tetapi kedua orang tuamu akan tetap mengetahui hal ini, jadi kau tak perlu khawatir hanya karena tak dapat kembali untuk pulang," jelasnya.
"Aku baru tau jika ada modus penculikan seperti ini."
"Terserah kamu mau berkata apa, perlu ku garis bawahi jika kau perlu mempersiapkan semuanya mulai sekarang. Karena tiga hari kedepan kau akan dijemput, tepat di jam delapan pagi."
"Tunggu, aku belum setuju-"
"Kau harus setuju."
Ia menekankan kata bagian tengah, yang artinya aku tak bisa membantah.
"Apa yang akan terjadi jika aku tak ingin pergi?"
"Kita akan mencari penggantimu tentu saja, yang pastinya akan merepotkan ku lagi."
"Kalau begitu!"
"Tetapi... "
Kini ia menatap mataku, dengan seringai menjengkelkan ia berkata, "Apa kau tidak penasaran dengan hal yang baru saja kau lihat?"
Aku meneguk ludah.
"Sepertinya kita sudahi saja obrolan kita, remaja seperti mu memang sulit untuk diajak bekerjasama tapi di lain sisi mudah untuk diberi sedikit dorongan." Ia tertawa, kemudian perlahan melangkah menuju pintu kamar.
Ia sudah berhadapan dengan pintu, tangannya memegang gagang pintu kamar, bersiap untuk keluar. "Akan ku katakan ini lebih awal... kau perlu berhati-hati. Terkadang diam adalah anugerah." Setelah itu dia menghilang di balik pintu yang perlahan tertutup rapat.
Sial.
***
Jika diingat kembali, keputusan ku memang kekanakan. Tapi setidaknya aku harap rasa penasaranku akan kejadian sebelumnya bisa terjawab di sekolah ini.
Setelah puas melihat sekeliling, aku mulai melangkahkan kaki untuk melewati gerbang sekolah. Dengan mengandalkan insting, aku menyosori lorong sekolah. Berbagai macam jenis murid menarik perhatianku, banyak dari mereka berdiri di lorong dengan membawa buku tebal di tangan mereka.
Beberapa dari mereka juga terlihat sedang asik mengobrol dengan teman, sedangkan beberapa juga sedang melakukan sesuatu yang hanya mereka sendiri ketahui. Semakin aku menyosori lorong sekolah ini, makin dibuat penasaran aku olehnya. Sampai pada akhirnya aku menyadari...
Jika aku tersesat.
'Sepertinya aku perlu bertanya.'
To Be Continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Endlessly
FantasiAnastasia menyesal karena penasaran dengan hal yang sebelumnya ia lihat di kamarnya, ini semua karena pria berbadan besar itu! Kini, ia harus dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki kekuatan magis, sedangkan dirinya hanya manusia normal tanpa ke...
