Cobra saat itu sedang berada di Itokan seperti biasa, duduk, menikmati bir dingin kesukaannya, sementara musik klasik bersenandung dari CD yang sedang diputar. Yamato di sebelahnya sedang melahap yakisoba dengan asyiknya. Dan, di sebelah Yamato ada Noboru yang sedang bekerja di laptop-nya.
Saat itulah hapenya yang tergeletak di atas meja berdering. Tentu saja dia mengambilnya dan membaca Caller ID.
Anak itu lagi!, Pikirnya.
Cobra tersenyum kecil membayangkan sosok si penelepon: seorang pemuda kurus berketinggian sedang, dengan celana jeans belel dan bandana biru melingkari dahinya.
"Mau apa?" Cobra menjawab telepon itu, bersamaan si penelepon menyapanya dengan suaranya yang khas; "Yo, Cobra-chan!"
Dan, seperti biasa, suara Murayama selalu terdengar ceria sekaligus menyebalkan.
"iiii, Kenapa suaramu begitu?" Tanya Murayama di seberang sana mendengar respon Cobra, "Kau sedang kesal? Ada yang mengganggumu? Katakan padaku siapa--"
"Kau yang sedang menggangguku saat ini." Balas Cobra tak acuh, "Katakan saja apa lagi maumu."
"Duh, Cobra-chan, kau benar-benar dingin--"
"Bye!" Cobra memutuskan hubungan telepon dan meletakkan kembali hapenya ke atas meja. Tentu saja, hapenya berdering lagi.
"Manusia tengil itu masih mengganggumu?" Tanya Yamato dengan mulut penuh, matanya melirik ke hape Cobra di atas meja, "Kenapa dia tidak belajar saja, sih?! Sudah tidak lulus berapa tahun dia?"
Cobra angkat bahu. Tetapi Noboru menengok dan menyeletuk, "Tiga, empat atau lima tahun, kurasa."
Hape Cobra masih berdering. Rupanya si keras kepala di ujung sana memutuskan untuk memaksa Cobra mengangkatnya lagi, karena dering itu tak putus-putus.
"Jawab sajalah." Gumam Yamato, "Penasaran apa maunya."
Maka Cobra mengambil hapenya dan mengangkatnya.
"Cobra-chan!" Logat suara manusia di seberang sana masih saja terdengar manja ceria dan sekaligus sangat menyebalkan. Ciri khas Murayama. "Akhirnya dijawab juga! Ehh-- jangan dimatikan dulu! Begini, Cobra-chan...."
Yamato melirik Cobra yang sedang mendengarkan celoteh pemuda dua puluhan di seberang sana yang masih berstatus SMA 3 entah sampai kapan. Kemudian, Cobra menjawab, "Tidak. Tidak ada." Lalu mematikan hubungan telepon lagi.
Yamato sudah menghabiskan yakisoba-nya dan mengelap mulutnya dengan serbet.
"Mau apa dia?" Tanya Noboru penasaran.
"Minta pekerjaan." Jawab Cobra.
"Ha?" Yamato sampai menengok menatap sahabatnya yang berambut diwarnai pirang itu.
"Dia dipecat lagi dari pekerjaan lamanya?" Celetuk Noboru.
Cobra mengangguk.
Noboru berpikir sejenak, lalu tawanya terlepas keluar, "Kurasa dia mengidolakanmu." Ucapnya, "Ingat, kan, dia pernah tanya apa dia bisa gabung di Sannoh. Lalu dia cari-cari alasan untuk bisa mengobrol berdua denganmu. Alasannya mau beli motor dan minta nasehat atau referensi tentang motor. Lalu seringkali meneleponmu."
Yamato ikut tergelak. "Ya, siapa yang tidak mengidolakan Cobra?!" Balasnya, "Kurasa Chiharu juga."
"Chiharu hanya mengidolakanmu." Balas Cobra pada Yamato. Beberapa pesan whatsapp masuk di hape Cobra, maka dia mengambilnya dan membacanya sekilas, lalu meletakkan hapenya lagi tanpa membalas satu pun.
***
YOU ARE READING
Psychotic Idiotic
FanfictionFanfic asal aja, tidak jelas. Setting : HiLo The Worst. I do not own characters. Slight of Murayama x Cobra tapi masih aman untuk yang bukan pecinta BxB
