prolog

0 0 0
                                        

Angin berhembus menerpa wajah cantiknya, ia berdiri sembari bertumpu pada pembatas balkon, menikmati semilir angin.

Ia membuka mata nya, menatap langit sore yang begitu indah, ia pun berjalan kearah meja dan kursi kecil yang berada disana, ia pun mendudukkan dirinya disana.

Menatap ponselnya yang terus bergetar menampakan panggil masuk, dengan santainya ia mematikan ponselnya.

Lalu kembali menatap langit sore "sore ini, sore indah, sangat cocok untuk berjalan-jalan mengunakan sepeda." Gumamnya.

Ia pun mengangguk kan kepalanya, lalu pergi masuk kearah kamarnya, ia pun menutup pintu kaca balkon itu, lalu berjalan kearah meja belajarnya.

Ia pun mengambil jaket yang tersampir di kursi belajarnya, lalu bergegas turun dari tangan.

Sunyi dan hampa, rumah besar yang tampak sepi, sudah biasa bagi seorang Anettha Vielanda.

Ia yang hidup bersama papah dan kakak laki-laki nya, sang papah yang sibuk dengan pekerjaannya, dan sang kakak yang sibuk bermain bersama teman-temannya.

Ia pun berjalan kearah garasi, lalu mengeluarkan satu sepeda, dan membawanya keluar rumah tersebut.

Ia sangat menikmati nya, tujuannya adalah taman dan super market.

Tak lama dari itu, ia sampai di taman, indah, itulah yang terlintas di benak anettha, tanaman bunga menghiasi taman itu, di sana juga terlihat sebuah air mancur.

Anettha turun dari sepeda nya, dan mendorongnya, lalu memberhentikan dirinya di kursi panjang disana.

Tak lupa ia juga menyetandarkan sepeda nya, ia duduk termenung disana, matanya terus fokus pada langit sore.

Ia sangat menyukainya, ia tersenyum tipis kala berkhayal jika ia memiliki kekasih yang akan selalu bersama dengannya, bahkan selalu ada saat ia butuhkan.

ia terkekeh, lalu berucap "kapan ya dapet pacar." ucapnya.

"Kapan-kapan!" Saut seorang bocil laki-laki ingusan sembari menyeruput es.

Anettha tampak berdecak, lalu menghampiri bocil laki-laki itu "kamu ngga boleh gitu, harusnya kamu doain kakak biar dapet pacar." ucap anettha sembari menyamakan tingginya dengan bocil itu.

"ga ah, ga mau, orang kaga di bayar juga." ucap songong bocil itu.

"Siapa nama kamu?" Tanya anettha.

"Kamu nanyeak?" Balas nya.

"Nyebelin, siapa nama kamu anak kecil?" Tanya anettha sekali lagi.

"Rendy." Jawab si bocil sembari kembali menyeruput es.

"oh, nih, doain kakak biar dapet pacar." ujar anettha setelah menyodorkan uang lima puluh ribu di hadapan Rendy.

Rendy terbelalak kaget, meski kaget, Rendy tetap menerima nya, bahkan ia langsung tersenyum sumringah "haha, iya kak, Rendy doain semoga kakak dapet cowok yang ganteng, kaya, baik, romantis, hmm apa lagi ya?" ujar nya mengusap dagu nya heran.

"haha, makasih ya." ucap anettha lalu mengusap pucuk kepala Rendy.

Rendy pun tersenyum, anettha pun meninggalkan Rendy yang kini sudah pergi karena sudah sore juga.

Anettha berjalan membawa sepeda nya, untuk pergi kearah super market yang berada di dekat sana.

Anettha memarkirkan sepedanya, lalu bergegas masuk kedalam super market, ia tampak buru-buru karna sebentar lagi malam.

ia tampak pusing memilih-milih barang yang akan ia beli, "apa lagi ya?" gumam nya.

Bruk

"owh, maaf!" ujar Anettha saat tak sengaja menabrak lelaki bertubuh tinggi.

Anettha pun langsung memunguti barang-barang yang jatuh dari tangannya, dan ia juga membantu memunguti barang-barang lelaki dihadapannya.

Sedangkan si lelaki? Ia bahkan tak berkutik, untuk sekedar mengambil barang miliknya pun ia terlihat enggan.

"maaf ya? aku ngga sengaja." ucap Anettha sembari menaruh barang-barang itu pada tas belanja si lelaki.

Si lelaki tak menjawab, ia memilih berlenggang pergi meninggalkan Anettha yang tengah menghela nafasnya gusar.

...

mff jelekk!

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 08, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

AnetthaStories to obsess over. Discover now