Prolog

12 1 1
                                        

"Ini ikannya musuhin gw, kali ya? "
Seorang gadis cantik mengomel karena tidak ada ikan yang menggigit pancingan nya.

Setelah beberapa lama, dia berencana untuk menyudahi acara memancing yang dia mulai karena gabut. Tapi, saat dia akan membereskan pancingan nya...

Blub blub

Kail tertarik. Gadis tadi yang tidak siap pun tertarik oleh ikan yang ukuran nya cukup besar. Seberapa kuat dia mencoba, dia tetap saja tertarik oleh ikan itu kedasar danau.

'Gw gak bisa nafas... Masa iya princes cantik matinya gegara ditarik ikan? Pasti ntar diberitain kalo gw bundir'

Batin gadis itu dengan pasrah.

.
.
.
.
.

Hallo, gadis manis. Selamat datang ditempat akhir•

"Apa nih? "

Gadis yang unik. Baru kali ini ada yang mati karena mancing. Kasihan sekali.•

"Ngejek nih maksudnya? "  Gadis itu marah karena merasa diejek oleh makhluk yang entah apa jenisnya.

•Aku adalah malaikat penjaga pintu. Kau bisa memilih pintu 'surga' atau 'neraka•

"Aku- Aku memilih surga! "

Baik, selamat datang di surga•

.
.
.

Suara burungnya berkicauan. Aroma obat yang anehnya menambah suasana menjadi semakin Damai. Angin semilir ringan menyapa dedaunan. Hari yang indah jika tidak ada matahari yang menusuk mata dengan cahayanya.

Seorang perempuan berambut panjang membuka kelopak matanya menampilkan mata biru yang tajam dan indah.

'Selamat pagi!! Apakah gw udah disurga?? Kok bau obat? '

Perempuan itu melirik sekeliling dan melihat ponsel yang berada disamping bantal. Dengan penasaran dia mencoba membuka kunci dengan sidik jari dan berhasil. Dia membuka galeri dengan niat ingin mengetahui siapa pemilik ponsel tersebut.

'Ini HP gw? Kan pake sidik jari gw. Ini gw pindah tubuh ya, kayak yang di novel-novel itu? '

Dengan pikiran absurd dan takut karena belum menerima ingatan dari yang diduga jiwa asli, perempuan itu mencoba berjalan ke dinding dan menghentakkan kepalanya hingga berdarah. Dengan lemas dan rasa pusing yang kuat, dia kembali ke tempat tidur. Entah karena memang sakit atau karena tingkah bodohnya, perempuan itu tak bisa menahan kantuk.

Ketika dia terbangun sudah ada dua orang yang menatapnya dengan kebencian.

"Kalian siapa? Aku siapa? Ini dimana?" perempuan itu menjalankan rencananya yaitu berpura-pura amnesia.

"Panggil dokter. " ucap seorang pria yang sekiranya berusia 40 tahun kepada satu pria lain yang masih remaja.

'Mungkin anaknya.' batin si perempuan.

Tak berselang lama, dokter datang dengan satu suster yang membantu membawa alat-alat yang mungkin akan digunakan oleh dokter.

Tak menunggu waktu lama, dokter langsung memeriksa si perempuan dan si suster memasang perban untuk kepalanya.

"Kami tak tahu pasti ada apa dengan kepalanya, tapi kami menyimpulkan bahwa pasien mengalami amnesia. Akan lebih baik jika kita melakukan scan agar dapat mengetahui lebih jelas." ucap dokter.

"Tidak perlu. Biarkan saja." si pria tua membalas. Mendengar jawaban dari pria tua, dokter dan suster izin keluar dan  meninggalkan mereka bertiga didalam ruangan.

"Jadi saya siapa?" tanya si perempuan. 'Kayak nya iya nih, gw pindah jiwa beneran, deh. Keren' batinnya.

Bukannya menjawab, pria tua malah meninggalkan si perempuan dengan pria muda. Merasa jika dia harus menjelaskan, pria muda itu memulai percakapan.

"Gw Alverick Roneo. Gw abang lo, walaupun gw benci ngakuinnya"

"Gak tanya. Gw tanya nya siapa gw buka siapa elo."

Mendengar jawaban si perempuan pria muda yang diketahui sebagai Alverick ini menatap dengan aneh.. Seperti... Melihat Alien yang tidak punya otak.

"Iya, iya. Lo itu Ravenia Winter Roneo. Lo punya 4 sodara. Salah satunya gw. Yang lain ada abang kedua lo Berland Alvi Roneo, abang ketiga lo Calvin Brio Roneo, sama adek lo Aleccia karla Roneo" jelas Alverick pada si perempuan yang kini telah diketahui namanya sebagai Ravenia.
,
'Keren juga nama gw. Raven!' batin Raven narsis. "Rajin yah, bapak lo" ucapnya tanpa beban.

"Rajin gimana? " Tanya Alverick bingung. "Papa emang suka kerja sih" sambung nya.

"Bukan, maksudnya tuh... Rajin banget dia bikin anak" balas Raven santai seakan  ucapannya bukan hinaan halus.

"Bangsat" Tanpa diduga, Alverick malah cekikikan sendiri. Sepertinya yang gila bukan cuma Raven saja.
"Sejak kapan lo bisa ngelawak? "

"Sejak terbentuk didalam perut. Gw aslinya tuh emang lucu, ketutup sarkas aja"

Rasanya, seluruh perasaan benci yang ada pada hati Alverick menghilang. Seakan dia tidak berbicara dengan Raven, tapi dengan orang lain.

Ravenia : A Way To Stay Waras. Stories to obsess over. Discover now