That night, you're lips were so sweet.

163 19 5
                                        

"Hei, Karasu, kau yakin tidak ingin mencoba dengan salah satu wanita disini?"

Lamunannya buyar, gelas berisi New York Sour yang sedari tadi ia putar, kembali dia minum. Melihat wanita-wanita yang sedang berdansa disana saja sudah membuatnya bosan. Entahlah, ia sedang tidak bersemangat kali ini. Setelah segelas cocktail yang berada ditangannya habis, ia menuju ke meja bar tempat dimana para bartender membuat minuman.

"Permisi, aku ingin segelas New York Sour lagi." Pintanya.

"Mohon tunggu sebentar." Jawab salah satu bartender pria dengan surai putih hijau didepannya. Pria itu sangat tampan, bahkan cantik dimatanya. Karasu sampai dibuat mendelik oleh sang bartender. Mata hijau menawan milik lawan bicaranya sungguh indah.

Ia ingin tahu lebih banyak tentang si bartender.

Segelas Cocktail yang pesan tadi sudah jadi, sang bartender itu menaruh gelas berisi minuman tersebut didepan Karasu. Saat ia hendak beranjak dari sana, suara yang sama menahan dirinya. Karasu memanggilnya.

"Maaf, jika aku boleh tahu, siapa namamu?" Tanya Karasu.

Ia tersenyum dan menjawab pertanyaan lawan bicaranya. "Apa aku harus menjawabnya?"

"Aku rasa disini sangat ramai, bagaimana jika kita berbicara ditempat yang lebih sepi?" Lanjutnya. Karasu langsung beranjak dari tempat ia duduk tadi, disusul oleh si bartender. Teman-temannya yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Karasu hanya tertawa,

"Cepat juga ya dapat 'teman', walaupun laki-laki sih."

"Yah, dia kan, Karasu. Apa yang menurutnya cantik akan dia ambil, haha."

Sementara itu, diruangan VVIP yang Karasu pesan sebelumnya, mereka berdua sudah berada disana. Sang bartender membuka suara, "Jadi, apa yang kau mau dari ku, Tuan?" Tanyanya.

Karasu berjalan mendekat kearahnya, pria didepannya menyentuh dagunya perlahan, membuat ia mendongak untuk melihat sang lawan bicara yang lebih tinggi darinya. Jika dilihat dari dekat, pria ini memang tampan.

"Aku suka matamu, cantik. Bukan hanya matamu saja, dirimu juga. Dan sepertinya tubuhmu... juga indah." Ibu jarinya naik untuk mengusap ranum pria didepannya dengan lembut.

"Boleh ku coba ini?"

Permintaannya diberi anggukan kecil oleh si cantik. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Wajah si cantik sedikit memerah, ia juga tampak memejamkan matanya. Dan kali ini, bibir Karasu sudah menempel sempurna di bibirnya. Karasu mulai memiring-miringkan kepalanya, kekanan lalu kekiri. Karena tak kunjung membalas ciumannya, Karasu menggigit kecil bibir si manis agar mau terbuka.

Rintihan kecil keluar dari mulutnya karena bibirnya digigit oleh sang empu. Merasa mulut si manis itu sedikit terbuka, Karasu memperdalam ciuman, mengabsen satu-satu gigi serta gusi yang rasanya manis dilidahnya. Desahan serta erangan kecil keluar dari mulut si manis, terdengar sangat erotis di telinga Karasu.

Sudah sekitar 3 menit mereka berciuman, Karasu melepas pagutan mereka karena si cantik menepuk-nepuk dadanya, tanda ia sudah kehabisan napas. Ia terengah-engah. Meraup udara dengan rakus.

"Apa ini pertama kali bagimu? Baru sebentar saja, kau sudah kehabisan napasmu." Ucap Karasu disusul kekehannya saat melihat si cantik yang terduduk dikasur ruangan itu sambil setia menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Memangnya kenapa jika ini baru pertama kali?"

Karasu mendekatkan lagi tubuhnya kearah si cantik lalu mengungkungnya. Lalu kembali mencium bibir merah muda milik yang lebih kecil. Diciuman ini, si cantik mulai mengikuti ritme Karasu. Karasu merebahkan tubuh sang empu dikasur lalu melepas ciumannya. Mata sayu milik si cantik semakin membuat Karasu bergairah.

"Otoya... Namaku Otoya Eita." Namanya indah, sama seperti pemiliknya, batinnya.

Karasu kembali memberi kecupan pada wajah Otoya. Mulai dari dahi, kedua matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, lalu merambat menuju lehernya. Kecupan serta gigitan kecil Karasu berikan pada leher jenjang milik Otoya sehingga memberikan bekas bekas kemerahan di leher putih nan mulus itu.

"Hei.. Eita..."

"Hmm...?"

"Kita lanjutkan di apartemenku." Karasu membawa Otoya untuk pergi dari bar tersebut dan menuju ketempat dimana Karasu memarkirkan mobilnya. Ia berencana membawa Otoya ke apartemennya. Otoya hanya diam tak berkutik. Hanya pasrah saat dirinya dibawa oleh Karasu. Tubuhnya sudah terlalu lemas untuk sekedar bicara. Berselang lima belas menit, mereka sampai disalah satu apartemen disana, tempat dimana Karasu tinggal.

Karasu membuka pintu apartemennya, mendudukkan Otoya di sofa miliknya, lantas kembali meraup ranum merah muda yang terasa manis dibibirnya. Tanpa waktu lama, Karasu melepas baju yang menempel di tubuhnya serta melepas satu persatu kancing kemeja milik Otoya secara perlahan. Membiarkan tubuh indah milik si manis terekspos.

 Dingin menerpa kulit mereka. Tapi tidak terasa dingin lantaran kegiatan panas mereka. Menyalurkan kesenangan serta kenikmatan untuk mereka berdua. Menghabiskan malam indah itu bersama. 


UDAH WOI, UDAH !!!!

aku baru pertama kali bikin nsfw, jadi maapkeun kalo ada typo atau penggunaan kata yang salah, gomenasai minna-sama.

Salam hangat, Yoichipyo.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 04, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

In That Night, Just Me and You.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang