Prolog (di luar blog)

2 0 0
                                        

"Menurut kamu apa yang membuat dia datang dan pergi di kehidupanmu seenaknya, padahal dia bisa saja menetap karena rasa nyaman?"

"Tentu saja karena aku tidak cantik. Apa lagi?"

Lelaki di sampingku tertawa mendengar jawaban yang lebih terdengar seperti gurauan. Padahal memang benar begitu adanya.

"Lucu, ya? Aku tidak tahu diri sekali terus mengejarnya. Berharap suatu saat dia bersyukur atas kehadiranku. Kejam sekali kalau benar dunia ini akan terus dipenuhi orang-orang yang menilai sesuatu dari luarnya saja".

"Kamu hanya perlu menemukan orang yang merasa cukup dengan kamu, Ra. Tapi sebelum itu, kamu juga harus merasa cukup dengan diri kamu sendiri."

Aku tersenyum sarkas. Dia tidak tahu rasanya dipandang sebelah mata karena fisik, sih. Anak orang berada, keluarga cemara, dan yang terpenting good looking seperti dia mana tahu rasanya diabaikan karena sesuatu hal yang di luar kendali kita.

Dia mana tahu rasanya dipandang sinis oleh tukang parkir yang giginya sudah kering karena kebanyakan tersenyum ramah ke gadis-gadis cantik. Mana tahu rasanya diperlakukan berbeda dari gadis-gadis cantik yang seolah kesalahan mereka sebesar apapun bisa dimaafkan. Seolah separuh masalah hidupmu selesai kalau kamu cantik. Itu yang kutahu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 27, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dia DewanggaWhere stories live. Discover now