Aku tersadarkan oleh sinar mentari pagi yang menghangatkan, kicauan burung yang merdu, dan suara aliran sungai yang menenangkan.
Tampak kombinasi antara hutan hujan tropis dengan area taman bermain yang terbengkalai, berselimutkan kabut tipis.
Entah mengapa, tempat ini terasa familiar bagiku. Di mana ini sebenarnya?
Samar-samar, aku melihat wujud seseorang.
Orang itu sedang termenung di tepian sungai, helaan nafas panjang dan berat kerap kali dihembuskannya. Sesekali menjambak rambutnya sendiri.
Oh...
Dia beranjak, lalu berjalan mendekat ke arahku.
Aku hendak bersuara dan bertanya padanya, sebuah pertanyaan sesederhana...
"Apakah kau baik-baik saja?"
Namun, aku tidak bisa bergerak, membisu tak berdaya. Sekujur tubuhku bagaikan dilapisi es, tapi tanpa hawa dingin yang menikam.
Ia menoleh sejenak ke arahku, menatap wajahku dengan tatapannya yang kosong.
Perlahan meletakkan jari telunjuknya di bagian leherku, lalu berulang kali menjentikkan jarinya.
Berselang beberapa detik, ia kemudian pergi, berlalu begitu saja.
Apa maksudnya melakukan itu? Aku tidak mengerti sama sekali.
Tetapi...
Aku mulai menyadari sesuatu.
Ah, itu...
Dia terlihat seperti...
... aku.
YOU ARE READING
Relung Senyap
FantasyTempat yang indah namun terlupakan, dapatkah kamu menemukannya kembali?
