“Hindari belakangmu!”
Teriakan seorang pria yang coba memberitahu temannya untuk menghindari serangan dari makhluk melata menjijikan yang hampir membunuhnya. Peringatan itu ditanggapi dengan lompatan ke samping kiri dan langsung menusukkan pedangnya ke makhluk itu.
“Terima kasih, Noir!” balas orang itu, sembari terus memainkan senjata panjang dan tajamnya ke makhluk-makhluk lain.
Sebuah serangan sihir tiba-tiba melewati mereka dan mengenai makhluk yang lebih besar, membuat Noir tak bisa membalas perkataan temannya. Seorang gadis dengan tongkat sihirnya yang bercahaya terus meluncurkan sihir seperti api, membakar semua makhluk melata yang mengelilinginya.
“Aku punya firasat buruk dengan kemunculan slug dalam jumlah besar. Kita harus menyelidikinya setelah ini,” kata gadis itu setelah tarikan dua napas, “Apakah kalian punya ide untuk itu?”
Sebuah anak panah memelesat dari kilauan sinar matahari dan mengenai makhluk yang dipanggil slug di dekat pohon. Seseorang mendarat di antara mereka. “Apakah mungkin gunung berapi yang sedang erupsi akhir-akhir ini adalah pemicunya?”
“Entahlah, bagaimana menurutmu, Noir?” tanya si pria berpedang setelah menebas slug terakhir di sekitarnya.
“Kita selesaikan tugas hari ini, dan kembali melapor ke kepala desa Bradford!” perintah Noir, “Aku mulai merasa kepanasan!”
“Kau tak bisa menangani panas sekitar dengan baik. Apa kau perlu sihir es Gladia?” ledek Dylan.
“Aku tidak mau melakukannya,” sahut Gladia yang baru saja merapalkan sihir.
Semua orang mengeluarkan serangan terakhir masing-masing untuk menghabisi slug yang tersisa. Area di sekitar mereka tampak berantakan karena serangan slug dan aksi mereka. Slug menjadi salah satu makhluk menyebalkan yang kerap meresahkan manusia, sehingga Slug Hunter pun dibentuk.
...
Setelah berdansa kematian bersama para slug, Slug Hunter berjalan pulang ke desa Vertmoor, desa tempat singgah mereka. Mereka berbincang tentang serangan slug yang sering terjadi akhir-akhir ini.
“Kau tahu, pekerjaan ini sangat melelahkan. Slug terus menyerang tanpa henti,” keluh si pria berpedang sembari membersihkan pedangnya dari darah slug.
“Bukankah kau sangat menyukai pekerjaan ini? Apalagi setelah kau mengakui bahwa daging slug bakar sangat enak,” ejek Noir.
“Dylan memang seperti itu. Dia tak pernah jujur dengan hasratnya,” timpa si pemanah dengan nada ejekan.
“Aku serius, Garrick! Ini bukan seperti aku membenci pekerjaan ini!”
Noir menoleh ke si gadis. “Gladia, apakah kau ingin berkomentar tentang kemunculan slug-slug itu?”
“Aku tak mau berkomentar yang aneh, tapi aku berharap ini bukan karena hal itu. Kau ingat yang pernah kuceritakan sebelumnya?”
“Cerita apa?” tanya Dylan sambil menoleh.
“Kau akan mengetahuinya segera,” jawab Gladia mempercepat langkah.
“Hei, apa kita tidak berhenti sebentar untuk membeli minum setelah kita tiba di desa? Menari bersama slug-slug itu membuatku lelah,” sahut Garrick tiba-tiba.
“Kau pergi saja. Aku harus menyerahkan hasil pembersihan ke kepala desa,” jawab Noir.
...
Perjalanan mereka berakhir di sebuah desa besar yang menjadi tempat singgah sementara mereka dalam petualangan panjang. Masalah Slug yang muncul akhir-akhir ini serta sebuah gunung berapi yang tiba-tiba aktif menarik perhatian Noir, ketua Slug Hunter, sejak menginjakkan kaki di desa beberapa hari lalu. Sesuai dengan nama regu mereka, Slug Hunter, pekerjaan ini adalah makanan mereka sehari-hari.
YOU ARE READING
Slug Hunter (Cerpen Fantasi)
FantasySlug Hunter, regu khusus pembasmi Slug, merupakan regu khusus yang dibentuk oleh aliansi kerajaan untuk membasmi makhluk bernama slug, hewan melata berukuran besar yang meresahkan masyarakat. Diketuai oleh Noir, ahli pertahanan diri, mereka berkelan...
