い ち

21 4 0
                                        

Step up satu menit, go!
Sebagai manager, Kyomoto memimpin penuh tim sepak bola sekolahnya.

Kyomoto Taiga, mantan kapten yang berhasil membawa sekolahnya juara tahun lalu.
Dirinya dipilih menjadi manager musim ini untuk membimbing adik-adik kelasnya agar bisa mengikuti jejaknya dan merebut kembali gelar juara tahun ini.

Mata Kyomoto menemukan Meguro merangkul seorang pemuda yang sudah lama tidak ia lihat.

Kyomoto beranjak dari kursinya, "Ayo kita bagi jadi dua tim"














"Cukup buat hari ini. Minggu depan latihan lagi ya"
Kyomoto menutup latihan hari ini.

"Terima kasih Senpai"
"Terima kasih Kyomo, duluan ya"
"Kyomoto-kun, terima kasih"


Walaupun teman-temannya sudah pulang, Kyomoto memiliki kebiasaan untuk pulang lebih lambat.

Terkadang dirinya merenung sambil memutar lapangan, atau seperti saat ini, mengulang kembali teknik sulit yang sudah ia pelajari dua minggu terakhir.

"Seharian kamu ngehindarin aku terus"

Kyomoto terkejut mendengar suara laki-laki yang tidak asing di telinganya. Kakinya seketika tidak mampu menjaga keseimbangan bola yang ada di atas punggung kakinya itu.
    Walaupun sudah lama tidak bertemu, suara berat khas ituー Kyomoto mengenal betul siapa pemilik suara itu.

Hokuto menarik bola yang terjatuh dari kaki Kyomoto gesit. Dirinya menirukan teknik yang sulit Kyomoto lakukan.
Di bawah kaki Hokuto, bola itu berputar sangat indah. Kyomoto kagum.

Kyomoto tidak bisa mengelak kalau faktanya Hokuto memang pemain hebat.
Di umur yang masih sangat muda, Hokuto tidak mungkin bisa mendapatkan kontrak untuk menjadi pemain di salah satu klub dengan kasta tertinggi di Jepang, jika hanya mengandalkan tekun dan kerja keras saja.

    Intinya, Hokuto memiliki bakat yang luar biasa. Dan Kyomoto sadar bahwa permainan dirinya memang masih tertinggal di bawah Hokuto.

"As expected, pemain J1"

Hokuto terkekeh, menendang bola itu kearah Kyomoto.
Untunglah Kyomoto memiliki reflek yang bagus sehingga ia bisa menangkap dengan sempurna tendangan keras milik adik kelasnya itu.

Dirinya tidak bisa membayangkan bila bola itu mengenai tepat ke arah mukanya.
  Yang jelas, setelah menerima bola dari Hokuto, tangan Kyomoto sudah terasa kebas.

Hokuto duduk mengambil air mineralnya,"Mungkin kamu ada benarnya" Ucap Pemuda itu, lalu meneguk habis botol airnya.

Kyomoto bergidik heran.

Bukankah mereka tidak pernah berbicara satu sama lain? kenapa tiba-tiba Hokuto menjadi sesantai ini
berbicara dengannya.

Dirinya tertarik, duduk disamping Hokuto, mendengarkannya.

Hokuto menatap rumput lapangan yang kasar dan membentuk pola bulat menggunakan jari telunjuknya,
"Kamu tau? beberapa pertandingan terakhir, aku terus-terusan dicadangin. Aku makin gak punya menit buat main. Jujur aja, aku frustasi"

Kyomoto bisa melihat sangat jelas raut wajah Hokuto, jelas pemuda itu benar-benar sedang khawatir.
Hokuto yang bisa frustasiー cukup mengejutkan buat Kyomoto.

Selama ini Dirinya mengira kalau Hokuto adalah anak yang sangat santai dan serampangan.

   "Emang apa salahnya dijadiin cadangan?"
Kyomoto menatap kuku Hokuto yang sudah penuh dengan tanah.
Saat ini, Hokuto sudah membentuk pola bulat yang kelima.

Hokuto menghela napasnya berat,"Kamu nggak tau sebesar apa tekanan yang dikasih orang-orang ke aku."
Hokuto membersihkan kukunya yang penuh dengan tanah menggunakan jerseynya.
"Semua orang bilang kalau aku harapan, sedangkan aku udah beberapa bulan di klub, tapi baru ngasih lima gol."

Hokuto sudah masuk akademi sejak kecil.

      Kemampuannya yang diatas rata-rata, membawa dirinya menjadi salah satu wakil tim nasional U-16 dua tahun lalu.
     Dirinya yang berhasil mencetak dua gol, yang membawa kemenangan telak untuk Jepang.
Orang-orang di dekatnya pun menaruh ekspetasi lebih kepadanya.
    Tapi, dirinya belum mampu untuk membawa beban itu bersamanya.

Hokuto menatap Kyomoto pasrah,
"Aku nggak merasa permainanku menurun.
Pas aku nanya ke pelatih, ternyata dia juga ngeluhin sifat aku. Sama kayak yang kamu bilang waktu itu."

Kyomoto dengan mudah mengingat kejadian yang di maksud Hokuto.

    Tinggal menghitung jam sebelum pertandingan, Hokuto tanpa merasa bersalah menghampirinya.
  Pemuda itu baru menyadari jika jadwalnya bentrok, dan harus absen dari pertandingan, yang dimana Kyomoto sudah menyelesaikan formasi dan taktik untuk tanding.

    Tentu saja Kyomoto marah sejadi-jadinya. Mengutuk Hokuto yang egois dan seenaknya.
Walaupun begitu, Hokuto tetap absen, dan mau tidak mau dirinya secepat mungkin mengulang kembali semua kerjaan yang sudah ia selesaikan.

      Mulai dari situ, Kyomoto pun memberi jarak dengan Hokuto.
Ia tidak mau bekerja dengan orang yang bertindak semaunya sendiri, tidak peduli walaupun ia bintang sekalipun.
      Hokuto pun semakin jarang menunjukkan dirinya akibat sibuk bertanding di Liga, Jarak diantara mereka berdua pun makin menjauh dengan sendirinya.

Hadirnya Hokuto setelah 3 bulan absen, lalu menyeritakan semua kekhawatirannya kepada Kyomoto, cukup membuat dirinya terkejut.

    Bisa mengenal sisi lain Hokuto, membuat Kyomoto berpikir,
Hokuto tidaklah seburuk yang ia bayangkan.

     Setidaknya untuk saat ini, Kyomoto ingin situasi mereka berdua tetap seperti ini untuk lebih lama lagi.

Kyomoto berdiri, mengulurkan tangannya,"Mau latihan tambahan sebelum pulang?"

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jan 23, 2023 ⏰

¡Añade esta historia a tu Biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

「 Bonheur. 」Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora