OO.

2K 299 107
                                        

Pemuda berkulit tan—sahabat tumbuh kembang Piko alias sahabat sejak dia masih merangkap atau jika bisa sejak masih dalam kandungan sudah siap dengan Motor Aerox andalannya di depan rumah. Motor kingkong sialan kalau kata Piko karena ia harus mengangkang lebar-lebar ketika menaikinya.

"Apa harapan Anda di semester baru ini saudara Piko?" Tanya Ebit sembari memanasi motornya dengan geber-geber sok keren.

Piko yang ditanya awalnya hanya diam. Ebit dilihat dengan tatapan heran seakan mengatakan serius lu masih nanya? Kedua tangannya dinaikkan ke pinggang. Lalu keluhan berupa helaan napas yang dihiperbola ia layangkan. "Nggak sekelas sama lo, Bit," ucapnya final diikuti senyum paksa. Senyum mengejek lebih tepatnya.

"Gue juga ogah kali sekelas bareng lu lagi," ucap Ebit tidak mau kalah. Merasa direndahkan oleh Piko. Dih, Siapa juga yang mau sekelas lagi bareng bocah iblis macem Piko?

Enggan berdebat lebih anjut, Piko lantas ikut mengeluarkan Motor Beat merah kesayangannya. Tidak ada aktivitas geber-geber sok keren. Ia hanya mengeluarkan motor, memakai helm, menyalakan motor, kemudian melaju meninggalkan Ebit.

"ck." Ebit berdecak sebelum ikut menjalankan motornya menyusul Piko.

Usai memarkirkan motor masing-masing, Piko dan Ebit kemudian berjalan menuju tempat daftar pembagian kelas siswa akan terpampang.

Keduanya dalam hati merapalkan doa penuh harap agar tidak dipertemukan di kelas yang sama lagi seperti semester sebelumnya. Bukan tanpa alasan, Piko dan Ebit dengan apesnya atau mungkin sebuah takdir telah berbagi kelas yang sama sejak kelas sepuluh tanpa disengaja. Tidak, jangan menyebutnya sebuah takdir, Piko dan Ebit kemungkinan akan merinding sambil ber-huek ria ketika mendengarnya.

Papan buletin sudah penuhi oleh kerumunan siswa guna mencari nama masing-masing. Suara-suara berujar geser, minggir, kaki gue keinjek, gak keliatan pala lu kegedean, umpatan-umpatan karena tidak diberi ruang, atau yang memilih jalan praktis dengan berteriak minggir air panas sahut-sahutan bergantian.

Padahal, pihak sekolah bisa saja membagikan pengumuman pembagian kelas secara online daripada merepotkan para siswa seperti ini. Tapi apa boleh buat, sekolah sepertinya lebih senang melihat para siswanya kesusahan.

"Bit," panggil Piko kepada Ebit seraya mengangkat dagunya ke arah papan buletin. Matanya bergantian menatap Ebit-papan buletin-Ebit. Liatin nama kita bit, seperti itu kurang lebih yang ingin ia sampaikan.

Ebit yang punya karisma babu-able—menurut Piko, memasang ekspresi malas.

"Ogah. Males. Sumpek, Pik."

Tapi beberapa detik kemudian berjalan menuju papan buletin ketika mendapat tatapan tajam bak siap melahap dari Piko.

Ebit berhasil menerobos gerombolan manusia tersebut dengan memilih jalan praktis yang dimodifikasi dengan menambahkan bumbu-bumbu kepercayaan diri kelewat tinggi.

Minggir orang ganteng mau lewat

Bermodalkan kalimat tersebut, Ebit akhirnya berdiri tepat di depan kertas pembagian kelas ditempelkan. Matanya dengan tajam mencari nama Piko Abigail dan Ebit Liam jayaksa.

Bukan IPA 1. Ebit tidak menemukan namanya atau pun nama piko di daftar kelas tersebut.

IPA 2? Masih tidak ada. Bukan kelas ini juga.

Ebit beralih pada daftar nama di kelas IPA 3.

Ebit Liam Jayaksa. Tepat di urutan ke tujuh. Ebit akan menghabiskan kelas dua belasnya di kelas IPA 3. Oke, Ebit sudah mengetahui kelasnya, sekarang giliran mencari nama bocah sialan yang mengirimnya sempit-sempitan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 19, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PIKOBIT | hyuckrenWhere stories live. Discover now