"Kalo kamu masih nekat menerima orang lain, aku sebar foto-foto kamu."
Elia menutup sambungan sepihak dengan tangan gemetar, lalu membuka pesan-pesan yang dikirim dari nomor baru. Dia membekap mulut, menangis tanpa suara takut orang tuanya di luar mendengar. Dadanya bergemuruh hebat, sesal dan ketakutan berkumpul seolah sedang mengolok-olok.
"Jahat banget lo, Ga," lirih Elia dengan suara sepelan mungkin. Dia segera menghapus foto-foto yang tidak sepantasnya. Seumur hidup dia sangat menyesal pernah menjadi kekasih Galih, lelaki yang cintanya berubah obsesi usai putus. Padahal Galih yang melibatkan orang ketiga, berselingkuh di belakang dengan alasan khilaf.
Tidak ada niat Elia untuk membalas chat yang masuk, seperti biasa dia justru memblokir nomor Galih sekalipun tahu lelaki itu akan menggunakan nomor baru untuk meneror.
"Lo ganti nomor, buang kartunya, berapa kali gue bilang, El!" Itu sulosi dari Tiara, satu-satunya sahabat yang tahu detail masalah serta aib-aib Elia. Dia mengatakan entah ke berapa kali dengan gemas karena lagi-lagi Elia menolak.
Dengan omelan berkali-kali baru Elia mau mengganti nomor, dia merasa berat karena sudah lama menggunakan nomor itu dan banyak yang penting.
Tapi, semua percuma, entah memiliki keahlian atau mata-mata di mana Galih mendapatkan nomor Elia lagi sekadar untuk meneror.
"Udah nggak usah ditanggapi, toh dia cuma ngancem," nasihat Tiara ketika Elia kembali mengadu, mengendap ke belakang supaya orang tuanya tidak mendengar.
Elia masih cuti, dia mengambil sisa cutinya untuk menangkan diri berharap Galih berhenti mencarinya. Ternyata, orang itu memiliki tekad sekuat baja.
"Takutnya dia beneran nyebar gimana nasib gue, Ti?"
Dengan sesenggukan Elia bercerita, dia terlalu syok setiap melihat foto tidak senonoh yang jelas dirinya. Padahal dia merasa tidak pernah melampaui batas sewaktu pacaran bersama Galih apalagi sampai membuka helai bajunya.
"Gue pusing, beneran, nggak bisa mikir kalo lo masih panikan. Gue udah nyuruh tenang, berapa kali coba? Kalo gini terus yang ada Galih makin senang. Dia aja bolak-balik ke sini cari lo udah gue gampar masih aja nggak tau malu!" Tiara mengoceh dengan kecepatan melebihi kereta. "Eh, gue mau berangkat dulu, ya, tuh Davin udah jemput."
"Iya, hati-hati."
"Lo yang hati-hati bukan gue, udah nikmati cutinya jangan nangis terus. Lo kayak bukan Elia si ceria yang gue kenal, deh."
Setelah sambungan telepon berakhir, Elia menunduk dengan lemas. Dia hanya tersenyum getir mendengar kalimat Tiara barusan. Bagaimana caranya ceria kalau dunianya berubah penuh ketakutan usai putus dari Galih.
Dengan sisa tenaga, Elia balik ke kamar serta beralasan belum lapar setiap mamanya menyuruh makan. Seleranya lenyap, dia hanya menatap wajah mamanya yang mulai keriput dimakan usia, membayangkan ekspresi kecewa dan marah kalau semua ancaman Galih nyata. Bagaimana dengan nasibnya? Perasaan keluarganya dan amarah kakak-kakaknya?
Kadang Elia memikirkan opsi kembali pada pria licik itu, mengorbankan diri daripada terus diteror. Tiara akan terus mengucapkan seluruh isi kebun binatang mengutuk Galih, dia mengingatkan Elia agar tidak bodoh kembali pada lelaki tak punya otak semacam itu.
081xxx
Percuma kamu blok nomorku, Sayang. Aku masih punya stok banyak. Aku kangen banget pelukan kamu, ciuman sama kamu, cepat ke sini, ya.
Lagi, tangan Elia gemetar memegang ponsel. Kenapa Galihnya berubah mengerikan seperti monster?
Elia masih ingat lelaki yang berpacaran selama dua tahun dengannya selalu treat layaknya ratu, memanjakan dia, seolah-olah Galih sangat memujanya. Selama ini Elia berpikir Galih setia, buktinya waktu senggang selalu menyempatkan datang, di sela-sela kesibukan mengurus semua usahanya selalu memberi kabar.
Kadang lelaki sangat pandai menyimpan rapat pengkhianatan, Elia tidak pernah menyangka Galih yang di depannya terlihat begitu mendamba, di belakang memadu kasih dengan wanita lain.
"Aku khilaf, tolong jangan pergi, El. Kamu tahu gimana aku melakukan segalanya demi kamu, aku nggak pernah peduli capek, aku mengutamakan kamu daripada diri aku sendiri." Itu pembelaan Galih sewaktu pengkhianatannya terungkap, dia masih saja mencari pembenaran. Kalau saja tidak ingat lelaki itu sudah selingkuh, pasti Elia akan melunak dengan ekspresi memohonnya.
Elia melempar ponselnya, dia ingin menjerit mengingat semua kelakuan Galih. Padahal dia sudah memberi kepercayaan penuh pada Galih, sekarang salah dia sendiri sampai rasanya hati Elia kebas. Tidak akan ada sedikit pun cinta lagi untuk Galih, semua hilang begitu saja, menguap bersama rasa kecewa.
081xx
Angkat telepon aku, Sayang.
Galih terus mengirim pesan sampai Elia muak, dia hanya mengintip saja, enggan membuka apalagi membelas. Biarkan saja Galih capek menghubungi.
081xx
Ingat kalau kamu cerita sama saja bunuh diri, orang lain mana mungkin percaya sama pembaan kamu buktinya ada di aku.
081xx
Kamu nekat dekat sama cowok lain, dia akan jijik sama kamu, El! Kamu cuma milik aku!
Elia terpaksa membuka chat dari Galih, lalu kembali menangis. Berkali-kali mamanya curiga melihat anaknya sembab, dia hanya mengatakan tidak apa-apa meninggalkan banyak tanda tanya di benak sang mama.
Rasanya Elia ingin memaki-maki Galih di depan orangnya. Kenapa dia pernah memberikan hati pada lelaki sebrengsek dia??
Lagi dan lagi, Galih terus mengirim ulang foto-foto Elia yang memamerkan kulit mulus tanpa penutup. Elia mengerang marah, lalu membekap mulutnya.
Dia pernah berniat lapor polisi, tapi kembali berpikir panjang mengingat perasaan sang mama dan keluarganya. Melapor sama saja mempermalukan diri sendiri dan mengecewakan keluarga.
"Maafkan Elia, Ma," rintih gadis itu dengan bahu naik turun. Rambut panjang berwarna cokelat madu yang biasa selalu disisir rapi kini dibiarkan acak-acakan, wajahnya polos tanpa make up dan tidak mengenakan skincare. Dia benar-benar mirip bebek sawah yang kucel, penampilan itu tidak penting sekarang bagi Elia.
Tangis Elia dipaksa berhenti mendengar suara ketukan pintu dari luar. Mamanya menggedor pelan, mengatakan kalau ada yang mau bertemu di luar.
Seketika tubuh Elia gemetar, dia menggigit bibir. Takut kalau-kalau Galih nekat datang ke rumah, jelas lelaki itu tahu alamat keluarga Elia karena semasa pacaran pernah beberapa kali berkunjung untuk dikenalkan. Elia sudah tahap sejauh itu memberikan kepercayaan pada Galih, sialnya justru disakiti begitu hebat.
"El, kamu di dalam? Itu loh udah ditunggu," ulang mamanya lagi dengan nada khawatir.
"I-iya, Ma." Mau tak mau Elia harus menemui tamunya agar sang mama tidak cemas, sebelum itu Elia tak lupa menyeka air matanya dengan punggung tangan. Dia juga menyisir rambut dengan jari karena tidak mungkin keluar dengan penampilan seperti orang depresi.
Dengan menyiapkan mental serta mengatur pernapasan, Elia melangkah menuju ruang tamu, dia takut gagal mengendalikan diri dan justru memukul kepala Galih sampai bocor. Jujur, ide semacam itu berkali-kali melintas di kepala sekalipun nyalinya tidak akan mampu merealisasikan.
Elia melirik kanan kiri usai melihat punggung lelaki itu yang duduk di sofa, mamanya pasti sedang di dapur membuatkan minum dan mengambil camilan. Mamanya selalu baik pada tamunya sekalipun tidak tahu orang semacam apa yang datang, lebih baik diusir bagusnya.
"Siapa, ya?" tanya Elia mengerutkan kening begitu mendekat, posturnya bukan Galih. Jelas Elia hafal sekalipun dari jarak sekian meter dengan keadaan Galih berdesakan di keramaian Elia tetap akan mengenali lelaki itu, apalagi sekarang jarak dekat.
YOU ARE READING
Obsesi Mantan
ChickLitTentang Elia yang memilih berpisah daripada terluka, lelaki yang dia percaya sudah berkhianat
