Epilog Tanpa Prolog

9 0 0
                                        



"Kana!"

Suara lantang itu menggelegar dalam seisi lapangan basket indoor. Seorang gadis berambut hitam sebahu yang tengah sibuk berkutat dengan ponselnya menoleh. Lelaki itu berlari kecil menghampirinya di sisi lapangan.

"Minta air dong." Sambungnya sembari terengah.

Gadis itu, Kana, memutar bola mata jengah. Ia melempar sebotol air bersegel kearah lelaki tadi, Hersa.

"Ayo kalian buruan dong. Mendung diluar, udah mau ujan." Gadis itu menggerutu.

"Bentaran." Sahut Kastara, teman sepermainan Hersa yang juga akrab dengannya.

"Masih mau ke kafe yang baru itu?" Hersa melayangkan pertanyaan sembari meneguk air.

Gadis itu mempoutkan bibir dan mengangguk dengan tampang malas. Ponsel yang menunjukan pukul empat lewat lima belas jelas terpampang pada layar ponsel Kana. Ia menghela napas panjang.

Hersa, lelaki itu menyinggung senyum kecil melihat gadisnya mendengus, lantas meraih handuk pada pundak Kana dan menyeka peluh. Mengemasi barang dan memapah bawaannya.

Kana meniup anak rambut pada dahi, lantas bangkit dari tempatnya bersimpuh.

"Kas, ayo!" Pekik Kana dari sisi lapangan. Lelaki yang tengah mendribble bola pun menoleh.

"Yoi."

Jalanan kota tidak pernah hening. Matahari di barat enggan menampakan wajahnya lagi. Hiru pikuk kota pada sore hari membawa serta orang-orang kembali dari penatnya mengais rezeki. Angin bertiup sepoi-sepoi.

Dalam perjalanan menuju kafe, sedikit banyak Kana mengoceh mengenai rasa latte yang dirumorkan enak. Ocehannya itu ditanggapi Kastara, hingga mereka melupakan eksistensi Hersa yang mendengar sembari menaruh atensi penuh pada ramainya jalanan.

Saat ini gadis itu duduk di sudut cafe ditemani Hersa dan Kastara. Dengan secangkir latte dan hot cappucino di hadapan.

Sedangkan Kastara duduk dengan meja kosong. Kana bersikeras meminta lelaki itu untuk makan sedikit saja, ia memerlukan energi untuk terus melanjutkan aktivitas.

Sungguh, telinganya panas mendengar rentetan ocehan tiada akhir. Lelaki itu mengalah, lantas bangkit dari tempatnya. Pergi memesan sepiring karbohidrat. Kana tersenyum menang.

Lalu ia memungut ponsel dari hand bag di atas pangkuannya, sibuk memotret latte yang mengeluarkan uap panas. Tak lama jemari lentik itu meraih dinding cangkir, mengangkatnya dan meniup perlahan.

GLUK

Satu tegukan membuat kedua sudut bibirnya terangkat. Hersa yang sedari tadi mengamati turut tersenyum.

"Enak Na?"

Pertanyaan itu dilayangkan Kastara. Ia kembali dengan sepiring santapan pada nampan yang tengah dipapahnya. Lantas kembali duduk di samping Hersa sembari menautkan kedua tangan, merapalkan doa pada Tuhan.

"Banget. Minimal cobain sekali sebelum mati." Gadis itu menyodorkan secangkir latte miliknya pada Kastara.

Kedua remaja bertubuh jangkung itu tertawa, "Alay." Timpal Hersa di sela tawanya. Lantas mereka terlibat dalam perbincangan ringan sembari tertawa. Sesekali Hersa melayangkan candaan mempererat hubungan.

Ketiga remaja itu merupakan teman karib semenjak mengenakan seragam biru putih hingga saat ini duduk di bangku sekolah menengah atas.

Namun Kastara sering dipandang bagai karakter figuran diantara mereka, atau sebut saja orang yang berdiri di tengah dua insan yang sedang berbagi kasih.

epilog tanpa prologWhere stories live. Discover now