'Buk Bak Buk Bak Buk Bak'. Terdengar suara pukulan yang terdengar seperti kepalan tangan mengenai tubuh.
"Anjing, sini lo jangan lari-larian laki bukan sih lo, berani aja sama cewe giliran ngehadepin cowo kabur lo anjing."
Suara lantang seorang pria yang sedang berkelahi dengan teman satu sekolahnya. Ya seperti yang kita kira itu adalah *Awan* sang pentolan SMA Jaya. Dengan nama lengkap Kurniawan Suryasa Pamungkas, kawan-kawannya lebih sering memanggilnya Awan.
"Kenapa lagi si lo wan, udah bisa masuk rumah sakit tuh anak orang, udah stop wan jangan di terusin." Dirga sambil memiting tubuh Awan agar tak melanjutkan perkelahian itu.
Ya, dia Satya Dirgantara teman sekelas Awan yang terkenal pendiam, agamis dan memiliki karisma tersendiri, dia juga termasuk murid terpandai di SMA Jaya.
"Lepasin gua Ga, tenang ga bakal gua buat mati tuh anak orang, paling cuma patah tulang aja anak kayak gitu ga bisa di biarin, nanti bisa makin seenaknya sendiri." Ucap Awan kepada Dirga sembari berusaha melepaskan pitingan tangan Dirga pada tubuhnya.
"Udah Wan, berhenti atau saya skors kamu, ucapan kamu sudah tidak karuan dan apa-apaan penampilan berantakan kamu." Suara lantang terdengar dan terasa berat, ya dia pak Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMA Jaya.
'Sial kenapa sih dia harus ikut-ikutan' batin Awan dalam hatinya karena di tegur oleh pak Bahri.
"SEKARANG KAMU PERGI KE RUANG BK, DAN TEMUI SAYA DISANA TERMASUK KAMU RAMA". Ya, Rama adalah orang yang sedang berkelahi dengan Awan.
"Baik pak..!!" Ucap Awan dan Rama hampir bersamaan setelah mendengar ucapan dari pak Bahari.
Awan dan Rama menuju ruang BK dengan muka babak belur di antara keduanya,
"Permisi, selamat pagi bapak ibuk yang saya cintai dan saya hormati tidak bosan saya sampaikan rasa sayang saya kepada bapak dan ibu guru sekalian, dan saya datang berkunjung untuk menambah tali silaturahmi dan ingin mengetahui kabar bapak ibu sekalian." Ucap Awan sesampainya di depan pintu ruang BK.
Sontak para guru di dalam ruang BK tertawa dan terlihat juga ada yang kesal dengan ucapan Awan. Kemudian Awan dan Rama di sidang oleh pak Bahari dan ibu dewi selaku pembina BK.
"Jadi permasalahan dari kalian berantam itu apa Awan?. Bisa jelaskan ke saya?" Tanya pak Bahri kepada Awan.
"Saya cuma ngasih KBM tambahan pak sama Rama, saya lihat tadi dia lemes kayak kurang olahraga, maka dari itu saya yaaa sedikit ngajak olah raga lah pak." Jawab awan dengan mimik muka yang tenang dan tidak merasa ada beban.
"Saya serius Awan!!!, Tolong jelaskan apa yang terjadi, kamu sudah sering membuat onar di sekolah Awan, jangan mempermalukan ayah kamu selaku kepala komite sekolah kita Awan." Jawab pak Bahri dengan wajah serius dan merasa kasihan.
Raut muka Awan langsung berubah ketika ayahnya di sebut dalam permasalah itu. Ayah Awan adalah ketua komite sekolah SMA Jaya, beliau merupakan pejabat kota di kota S.
"Baik pak, saya mohon undur diri saya minta maaf telah berbuat onar di sekolah ini, dan saya minta tolong bapak kasih pembelajaran kepada Rama kalo sama wanita jangan suka kurang ajar, dia sudah melakukan pelecehan, sekali lagi saya minta maaf, saya harus pergi, permisi pak." Ucap awan dengan tertunduk. Dan pak Bahri juga mempersilahkan Awan untuk meninggalkan tempat dan pak Bahri melanjutkan pembicaraannya dengan Rama.
Aku hanya seorang anak biasa aku tak memandang siapa orang tuaku, dan aku membenci suatu yang tidak baik, manusia diciptakan untuk saling mengerti bukan memanfaatkan.
Aku hanya seorang anak biasa aku tak memandang siapa orang tuaku, dan aku membenci suatu yang tidak baik, manusia di ciptakan untuk saling mengerti bukan memanfaatkan.
YOU ARE READING
TIRED
RandomMengisahkan dua pasang kekasih yang memiliki problematika dalam kisah percintaan mereka dari awal kenal dan mengisahkan tentang Awan sang berandal dan Bulan sang Hafidzah.
