My Journey

7 0 0
                                        




Hujan gemericik terdengar di telinga, sejak semalam hujan mengguyur Bandung hingga subuh. Aku menarik selimut menggulungkanke tubuhku seperti kepompong dan menutup nya hingga kepala, aku ingin tidur. Akhir-akhir ini tak bisa tidur hampir tak pernah mendapatkan kualitas tidur yang baik. Insomnia mungkin, waktu tidur 7-8 jam adalah kemustahilan dalam hidupku kini. Padahal tidur adalah salah satu obat agar manusia tetap waras menjalani hari.

Aku pernah membaca quotes yang bertebaran tentang hujan, salah satunya adalah hujan terdiri dari 1 % dan 99% kenangan. Hujan melemparkanku ke masa-masa pahit dan manis seperti mengisahkan kenangan dan perpisahan. Seperti slide yang diputar slow motion, mengingatkan kenangan-kenangan yang berkelebatan di masa lalu, ada ayah dan senyum ibu, ada Gerry dan semua hal romantisnya. Aku menggelengkan kepala, air matanya menetes perlahan. Bodoh, hanya itu kata yang paling cocok menggambarkan hidupku sekarang dan membiarkan lelaki itu pergi membawa segalanya, membuat penyesalan berkepanjangan.

Aku merasa bukan diriku yang dulu, hidupku kini berubah suram. Aku takut bertemu dengan orang-orang sekelilingku, aku malu, tak punya wajah lagi untuk sekedar menunjukan muka sejak pernikahanku batal sementara undangan sudah disebar. Saat istirahat di kantor aku enggan makan bersama atau sekedar mengobrol seperti biasa. Aku lebih suka berkutat dengan pekerjaan dan hanya bersembunyi di ruanganku. Berkali-kali teman di kantor mengajak hangout bareng, sekedar makan siang di luar atau ngopi-ngopi sepulang ngantor tapi tetap hal itu juga tak bisa aku lakukan. Aku statis, tak bergairah, tak bergerak juga tak bereaksi. Aku si zombie...si mayat hidup yang cuma numpang bolak-balik dengan rutinas rumah dan kantor. Kantor adalah alasan satu-satunya aku bertahan hidup, alasan aku tetap berdiri waras.

Tersadar dengan tiba-tiba dari lamunan. Kantor..ya kantor, hari ini aku masih masuk kantor seperti biasa. Aku meloncat dari kasur dan berlari ke kamar mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi kemudian menarik sweater yang menggantung di belakang pintu kamar dengan berlari di koridor menuju tangga, saat menuju pintu aku teringat kunci mobil yang biasa disimpan di atas meja rias lalu kembali ke kamar. Di depan meja rias aku tertegun, tak ada kunci...tak ada apa-apa kemudian seringai Gerry terbayang, aku lupa selain kekasih yang pergi membawa hati juga membawa mobilku. Sialan. Umpatku, sambil berlari.

Aku menarik nafas panjang, celingukan karena bis Damri yang ku tunggu tak juga datang, setelah hampir 15 menit bis itu akhirnya datang juga. Mataku menyapu sekeliling tak ada kursi kosong, aku berdiri dan menggantungkan tanganku ke pegangan. Aku meringis pegal tas yang aku bawa berisi netbook, file-file, plus high heels sialan ini. Ingin rasanya menangis sejadi-jadinya, meraung-raung di Bus Damri ini seperti bocah yang tak dibelikan permen namun apa dayaku yang sudah jadi perempuan berumur selain mengeluarkan smartphone dan mendengarkan music keras-keras lewat headset dan bernyanyi dalam hati.

Aku berhenti di halte berikutnya, berjalan kaki dengan lambat menuju pangkalan ojek. Betapa hidup mempermainkanku, dulu aku dengan mudahnya bisa kemana saja dengan mobilku saat malas membawa mobil bisa meminta Ayah atau Gerry untuk mengantarku dan sekarang lihatlah aku wanita yang bercucuran keringat karena kepanasan membawa tumpukan file yang menginap akut di rumah minta diselesaikan sekaligus sepatu yang kotor karena sisa hujan semalam. Tuhan, aku benar-benar benci hujan.

Perjalanan yang super duper melelahkan, perjuangan dari rumah menuju kantor memasuki ruangan kantor yang segar membuatku dengan dengan nikmatnya menjatuhkan tubuhku ke sofa di ruang kerja. Dengan sisa-sisa tenaga ku buka notebook dan berusaha focus membuka-buka file menggunung dan harus diselesaikan. Ada program yang harus dibereskan perintah si Boss langsung alias Mas Dave, tapi saat membaca filenya ,alah bayangan Gerry dan pengkhianatannya yang terbayang. Bagaimana ia membuat malu saat kabur pada saat akad, aku seperti ada di kantor tapi pikiranku tidak. Aku terdiam lama dan menggosok mataku yang perih dan tak sadar kalau mas Dave tengah memperhatikannya.

My Pejuang SenyumStories to obsess over. Discover now