Chapter 1: Prolog

42 2 0
                                        


Tahun 1914 adalah tahun dimana Perang Dunia Pertama terjadi, dan tahun itu adalah tahun terburuk yang pernah ia alami...

Benar sekali, anak laki-laki yang masih berusia 2 tahun ini mendapatkan dampaknya. Bahkan ia sendiri secara tidak langsung memiliki perasaan khawatir dengan keadaan. Ia bernama Rook Loreanz. Ia tinggal di Jerman yang dapat memungkinkan dia untuk mendapatkan bahaya.

Kehidupan dia sangat berbeda dengan yang lain. Ia selalu mendapatkan hukuman 'kecil' dari ayahnya sendiri bahkan saat ia tidak melakukan apapun. Seorang anggota keluarga yang ia cintai kini harus berkorban di medang perang. Kehidupan yang sangat hancur baginya...

Namun, ia dapat menenangkan diri dengan bermain bersama teman-temannya. Ia terkadang mencoba untuk kabur, namun hasilnya sia-sia. Ia selalu di jatuhi hukuman yang seharusnya tidak ia dapatkan.

***

" J- Jangan hukum aku...!! " Kata Rook kecil yang malang dengan rasa takut sembari bergetar dan berkeringat. Namun, ayahnya tidak mempedulikannya.

" SEHARUSNYA AKU TIDAK MEMILIKI ANAK SEPERTI MU!! " Itulah yang ia ingat dari apa yang ayahnya katakan dengan teriakan keras.

Ibunya hanya memandang tanpa membantu atau bahkan membela. Bahkan ibunya sendiri seperti bukan ibu asli.

Rook selalu menunggu kedatangan anggota keluarga yang ia sayangi agar bisa bermain bersama. Namun... Ia hanya mendapat kabar bahwa ia telah tewas di tengah medan perang pada saat akhir Perang Dunia pertama,yaitu tahun 1918. Rook merasa terpukul dan bersalah.

" Aku tau aku tidak bersalah... Tetapi... " Lirih Rook dengan rasa terpukul yang dalam

Setalah kejadian tersebut, semua berubah 180°. Teman-temannya yang ia kenal menjadi musuh, ia akhirnya tau bahwa temannya hanya ingin menggunakannya agar menjadi boneka untuk melampiaskan rasa bosan. Rook sendiri tidak percaya itu, karena ia sudah lama memercayai mereka.

" Apakah aku tidak diinginkan...? Namun itu tidak benar... Kan..?" Pikir Rook dengan rasa tertekan

Pikiran Room semakin hari semakin memburuk. Pada akhirnya ia dimasukkan ke dalam sekolah. Ia berharap bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi ternyata semakin memburuk.

Banyak yang menindasnya dan bahkan para guru menganggap Rook sebagai orang yang 'bodoh' karena nilai yang ia dapatkan selalu rendah. Rook sendiri tidak dapat belajar dengan tenang akibat perlakukan keluarganya.

***

Ia sudah muak dengan perlakuan yang ia dapatkan. Kali ini ia nekat untuk kabur, walaupun akhirnya tetap gagal.

Walupun begitu, ia tidak menyerah untuk mengubah hidupnya. Ia berkali kali mencoba agar bisa lari. Hukuman yang ia dapatkan menjadi suatu pijakan untuk melarikan diri, ia tidak segan kabur dari rumahnya jika ia mau.

Sungguh, Rook sendiri tidak ingin menjadikan beban. Tetapi, ia merasa bahwa sudah menjadi takdirnya untuk pergi dari keluarganya.

Pada malam hari, Rook diam-diam keluar dari rumahnya melewati jendela kamarnya. Kali ini ia berhasil, karena ayahnya sedang tidak berjaga. Namun walaupun begitu, ia harus berhati-hati.

Ia berjalan keluar dengan selamat, namun sayangnya ia tak tau arah. Sampai akhirnya ia terpaksa mencari tempat untuk beristirahat di malam yang gelap gulita, sayangnya membutuhkan waktu lama untuk mencarinya.

Ia akhirnya menemukan tempat yang pas pada tengah malam, ia sengaja mencari yang lebih jauh agar terhindar dari keluarganya.

"Tch- Aku lupa bahwa seharusnya aku membawa lentera... " Gumam Rook

The Last Long Journey (Long Hiatus)Stories to obsess over. Discover now