Ergian berkali-kali merapikan anak-anak rambutnya yang terus mencuat keluar. Ia tidak berhenti mematut diri lewat kaca hitam yang menjadi pelapis dari pintu di hadapannya. Sebuah amplop coklat besar berada di pangkuannya dan menjadi penemannya selama hampir satu jam ia duduk menunggu. Handle di pintu kaca itu bergerak, menandakan seseorang membukanya dari dalam. Tubuh wanita monolid itu pun langsung menegak, ia menghembuskan nafas untuk menghilangkan kegugupannya.
"Ergian Kenanga" Seorang wanita memunculkan kepalanya dari balik pintu sambil memanggil namanya.
Ergian pun tersenyum lalu berdiri. "Saya" balasnya.
Wanita dengan pakaian formal itu tersenyum lalu membuka pintu tersebut lebih lebar.
"Silahkan masuk." Ujarnya. Ergian mengangguk sopan dan melakukan apa yang wanita itu perintahkan. Mata monolidnya langsung mengedarkan pandangan ke setiap sudut dan mengagumi si Pemilik ruangan yang mampu menata ruang kerjanya dengan sangat rapi. Bahkan kamar kosnya yang tidak ada isinya itu pun tidak akan bisa ia tata serapi ruangan kerja tersebut, pikirnya.
Ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kursi wanita yang tadi memanggil namanya. Sebuah meja yang ukurannya mungkin tidak lebih dari 3 meter itu menjadi penghalang yang cukup membantu, karena bisa menutupi dirinya yang tengah meremas-remas tangan di bawah meja karena terlalu gugup. Matanya pun mengekori wanita berambut panjang sebahu itu sampai ia duduk di kursi kebesarannya.
"Oke sebelumnya perkenalkan saya Stephanie selaku HRD di perusahaan ini." Ia memperkenalkan diri dengan nada yang sangat ramah. Ergian menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Saya Ergian tapi ibu bisa panggil saya dengan nama Egi saja," balas si Monolid.
"Baik Mba Egi kita langsung saja ya. Jadi saya sudah melihat CV anda dan posisi yang anda lamar adalah driver, benar?" tanya wanita itu.
Ergian pun mengangguk, "Benar, bu."
"Boleh dijelaskan mengapa anda ingin mengisi posisi tersebut karena seperti yang mungkin anda tahu, perusahaan kami juga membuka lowongan untuk posisi yang lain?" Wanita itu bertanya dengan ramah namun matanya tidak lepas memerhatikan kandidat di depannya itu.
"Alasannya karena saya merasa tidak masuk ke dalam kualifikasi untuk posisi yang lain bu, baik dalam segi pendidikan maupun pengalaman. Sedangkan jika saya menjadi driver, saya sudah berpengelaman mengendarai mobil sejak SMP bu, jadi saya cukup mahir di bidang tersebut. Bahkan saya berhasil membuat SIM lewat tes mengemudi bukan karena membayar bu." Ergian menjawab dengan lugas. Dia bahkan tidak menyiapkan kata-kata itu sebelumnya, dia hanya mencoba menjawab dengan sejujurnya, tanpa ada yang ditambahi ataupun dikurangi.
Wanita di hadapannya pun mengangguk, terlihat cukup terkesan dengan jawaban yang Ergian berikan. Ia pun kembali bertanya, "Anda belajar mengemudi dengan orangtua?"
Kali ini Ergian tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Bukan bu, kebetulan rumah saya waktu itu dekat dengan terminal angkutan umum, jadi saya diajari oleh supir-supir angkot di sana, terus saya suka diminta jadi supir tembak." Jawabnya yang kali ini membuat sang lawan bicara mengernyitkan dahinya.
"Lho, memangnya boleh? Anda kan masih di bawah umur, tidak ketahuan oleh Polisi?."
"Sebenarnya sih tidak boleh bu," Ergian terkekeh malu. "Tapi pintar-pintar kita saja melihat situasi. Jadi saya tanya dulu pada supir yang sudah melewati rute yang ingin saya lewati, ada Polisi atau tidak. Lagipula wajah saya juga boros bu, Saya mengaku sudah lulus SMA pun, Polisi pasti percaya." Lanjutnya. Stephanie pun ikut mengeluarkan tawa kecilnya. Mewancarai Ergian tidak terlalu buruk menurutnya, sejak pagi ia terus bersikap tegas sambil memasang topeng angkuhnya namun entah mengapa ia tidak bisa melakukannya pada Ergian, pelamar terakhirnya di hari itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Prompt) Story Only I didn't Know
FanfictionErgian tidak menyangka jika kegagalannya dalam mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan justru mengantarkannya ke takdir lain yang tidak ia duga sebelumnya.
