1. Dihujam rindu, ditikam pilu

6 0 0
                                        

Surabaya, 30 September 2022.

Di atas kasur, sambil ditemani lagu-lagu galau berbahasa Indonesia. Bisa dihitung jari berapa banyak aku mendengarkan lagu lokal untuk menggalau, ini adalah rekor. Ketikan ini jugalah rekor, sebab laman menulis ini sudah sangat berdebu tidak pernah disentuh. Kembali tersentuh, karena ingin mencurahkan isi hati yang tidak tahu ingin dibuang ke mana.

Aku.. rindu.

Aku terus rindu, dan rasa-rasanya makin parah. 

Makin ke sini, realita makin memperparah rasa rinduku.

Ingin rasanya hati ini menyerah saking beratnya rindu membebani diri. Ingin rasanya kusudahi semua ini, untuk berhenti merasa sakit seperti ini. 

Rasa-rasanya, kita kini terasa kian jauh. Bukan, bukan karena kemauan, tapi karena keadaan. Aku tahu kamu selalu berjuang, masih berjuang, dan akan terus berjuang. Namun, aku.. aku yang tidak yakin dapat bertahan. Berapa lama lagi harus begini? Lima tahun? Tujuh tahun? 

Bahkan, membayangkannya saja rasanya terlalu berat untukku. 

Aku merasa seluruh hariku dan hidupku terdistorsi olehmu, meskipun kamu jauh di sana. Aku menomorsatukanmu, mungkin di atas diriku. Dan ini tidaklah benar.

Aku mulai kehilangan diriku, karena aku tidak bisa mengontrol sebanyak apa kamu berhak memenuhiku. Kamu.. kamu terlalu menjadi penting bagiku. 

-

Aku tahu kalau percintaan saat dewasa tidak bisa sama seperti percintaan remaja. Terlalu banyak realita yang datang menghujami untuk mengubah keadaan. Keadaan telah beranjak, ikut menjadi dewasa.

Aku rindu kamu.

Sangat rindu, sampai-sampai rasanya sesak.

Ditambah, keadaanmu kini kian dewasa. Kamu, kini sibuk dengan duniamu di sana. Kamu masih selalu memperhatikanku, tapi kini mulai terpaksa dipotong oleh realita. Aku di sini tersiksa, lagi-lagi merasa, cinta kita sekarang sudah mulai mendewasa. Transisinya terlalu cepat, dan aku belum terbiasa.

Kamu dan segala kenangan,

Kamu dan segala usahamu, untukku.

Aku harus apa? Aku selalu bilang kalau aku rindu, tapi kita bisa apa? Karena aku tahu kamu di sana juga rindu, hanya saja lebih terdistraksi oleh realita. Aku berusaha menyamakan kesibukanmu dengan menjadikanku juga sibuk, tapi ini masih berat. Aku butuh kamu di sini, aku butuh kamu dan aku mencemburui kesibukanmu di sana.

Aku butuh kamu, sangat butuh kamu.

Sejak kapan aku menjadi begini?

Aku yang dulu bukanlah seseorang yang bergantung seperti ini, aku yang dulu selalu pandai mengontrol diri untuk tidak menjadi tergantung pada seseorang yang aku tahu di masa depan belum tentu akan tetap bersamaku. 

Ini membuatku takut. Aku takut jatuh begitu kerasnya. Aku takut terbentur kerasnya kenyataan. Aku mau kamu, tanpa aku harus kehilangan diriku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 30, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dear, universeWhere stories live. Discover now