Hei, Camden

18 2 0
                                        

Tiga bulan dua hari setelah aku menarik pesanku padamu di aplikasi messenger. Ada tiga yang kutulis di sana. Tak kau sempatkan untuk membalas, atau barangkali kau hanya tak punya waktu menggubris hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Well, aku tak bisa menyangkal kalau aksiku ini merupakan buah dari perasaanku yang merasa haus akan perhatian.

Camden. Bukan nama yang selama ini kuharapkan untuk menjadi satu hal yang selalu mengisi pikiranku. Namun, faktanya tiga bulan belakangan yang kuhabiskan untuk menahan diri tidak menanyakan kabarmu membuatku habis-habisan memikirkan tentang bagaimana untuk memulai ulang percakapan.

Hei, Camden. Pernahkah terpikirkan olehmu tentang hal yang bisa dilakukan bersama?

Hei, Camden. Bagaimana gagasan tentang menghabiskan waktu istirahat dengan kopi di kedai baru?

Hei, Camden. Apakah daftar nama acara penyambutan kembali mahasiswa tingkat dua yang memunculkan namaku membuat ingatanmu akan diriku melewati pikiranmu?

Hei, Camden. Kalau kutulis semua pembicaraan satu arahku yang hanya berakhir di pikiran ini, kurasa selusin buku yang begitu tebal tak sanggup menampungnya.

Hei, Camden. Maukah kau meluangkan waktu untuk membaca? Barangkali hanya satu klausa, atau kalimat jika kau tidak keberatan.

Hei, Camden. Kenali aku. Kenali aku pada dirimu yang misterius. Karena setiap hal yang kita bicarakan, setiap hal yang membiarkanku mengenal sedikit demi sedikit dirimu, mereka hanya akan membuatku semakin jauh.

"But before the fall, you were always real to me."
Rhythm of Your Heart oleh Marianas Trench

• • •

Message in a BottleStories to obsess over. Discover now