Chap 1

98 12 0
                                        

Hi semua, ini sad story pertama yg aku buat. Hope u like it guys

Happy Reading~





💚💚💚🌻💚💚💚








Bruk bruk bruk

"BANGUN SIALAN!"

Mark menggedor pintu kamar berwarna coklat gelap yang bertuliskan nama HAECHAN dengan hiasan bunga matahari kecil dipojok kanan atas.

"Aku hitung sampai tiga jika tidak keluar aku benar-benar akan mendobrak pintu ini, SATU... DUA... TI-"

Ceklek

"Kau mau menyiksaku lagi?"

Di hitungan ke-3 pintu terbuka menampilkan seorang pemuda dengan rambut berantakan, muka sembab, dan ada memar didekat bibirnya. Haechan, pemuda dengan surai berwarna coklat madu itu membuka pintu dengan malas setelah mendengar ancaman dari kakak tertuanya.

"Kau tau jam berapa ini?" Mark berkata sembari menunjuk jam dinding yang sekarang telah menunjukkan pukul 07.15 pagi.

Haechan menengok "Tentu aku tau karena aku tidak buta"

"Lalu mengapa kau tidak pergi sekolah sialan?! Kau tau berapa banyak biaya yang aku keluarkan untuk menyekolahkan orang sialan sepertimu?!" Mark menoyor kepala haechan yang membuatnya sedikit terdorong ke belakang.

"Kau mau aku pergi ke sekolah dengan memar diwajahku? Kau yakin?" Haechan berkata sembari menunjuk pipi dan pojok bibirnya yang sedikit kebiruan.

Mark melipat tangannya didepan dada "Aku tidak peduli salah siapa kau membuatku marah kemarin, cepat turun dan buatkan kami sarapan!"

Haechan menghela nafas lelah "Bahkan jika aku mengatakan seribu kali bahwa itu bukan kesalahan ku apakah kau akan percaya?"

"Cih, aku tidak akan pernah mempercayai pembunuh sepertimu" Mark pergi meninggalkan haechan yang terdiam lalu kembali memasuki kamarnya berniat untuk membersihkan diri.

Haechan memasuki kamar mandi lalu mencuci mukanya perlahan karena luka yang ada diwajahnya masih terasa sangat perih.

"Apakah aku akan selalu seperti ini sampai mati?" tanya haechan pada pantulan bayangannya di cermin. Jujur dia lelah dengan semua ini, dicap sebagai seorang pembunuh oleh kakak kandungnya sendiri merupakan hal yang benar-benar tidak terduga dihidup haechan.

Tidak ingin mendapat amarah dari kakaknya lagi, haechan segera mandi lalu menuruni tangga menuju dapur untuk memasak.

"Apa kau seekor siput? Kami sudah sangat lapar sialan!" jeno, kakak ke-3 haechan menatap tajam haechan yang baru saja memasuki ruang makan.

"Maaf, kakakmu memukuliku hingga aku pingsan dan baru saja terbangun. Padahal aku berharap tidak pernah terbangun lagi" jawab haechan dengan memelankan suaranya di akhir agar tidak ada yg mendengarnya.

"Cepat buat makanan atau aku akan memakanmu" Renjun, kakaknya yang ke-2 menodongkan pisau buah sambil menatap tajam haechan.

"Hmm" Haechan hanya berdehem lalu melenggang memasuki dapur.

Sedangkan jaemin, anak ke-5 dikeluarga tersebut sekaligus merupakan adik haechan hanya bisa menatap punggung kakaknya yang kemudian menghilang dibalik pintu dapur. Ingin sekali ia membantu haechan tetapi, tentu ia takut dengan kakak tertuanya.

"Hyung, bisa aku membantu?" Tanya seorang pemuda yang baru saja memasuki dapur hendak membantu haechan untuk memasak.

Haechan menoleh sembari tersenyum "Tidak perlu jisung-ie, tetapi bisakah kau membangunkan chenle saja?" Jisung, adik bungsunya, satu satunya orang yang menyayangi haechan dan selalu melindungi haechan dari amukan kakak-kakaknya. Jisung memang berani melawan kakak-kakaknya karena dia merupakan anak bungsu dikeluarganya jadi, tidak mungkin kakak-kakaknya akan tega memukulinya.

Sorry, Sunflower🌻 [Lee Haechan]Stories to obsess over. Discover now