Trigola : 1 (Saphiera)
Tangisan serta suara ribut menggema hingga membuat ribuan penduduk serempak menuju istana. Suasana suram, kabar kematian sang Raja telah menyebar hingga ke pelosok negeri membuat para utusan, kesatria hingga Raja dari kerajaan lain yang datang menggunakan portal besar.
Ratu Zoana, permaisuri dari kerajaan Flairc yang berusaha tenang sembari menggendong bayi dengan mahkota kecil dikepalanya. Raut wajahnya sama sekali tak menampilkan rasa sedih. Hanya saja ia terlihat khawatir ketika suaminya yang mulai akan diangkat beberapa inti ksatria menuju bukit suci hingga membuat penduduk yang memberontak masuk ke dalam ribut mempertanyakan apa yang sebelumnya terjadi.
"Zoana!"
Panggilan dari wanita dengan wajah yang sangat mirip dengannya membuat Zoana diam-diam tersenyum lega.
Di balkon kecil kamar pribadinya, terlihat kembarannya yang telah berdiri disana. Kemudian ia membuka lebar jendela kamar dan mengulurkan bayi digendongannya pada Ziera.
"Kau bisa mempercayakannya padaku"
Zoana mengangguk lalu tersenyum membalas perkataan Ziera.
"Aku percayakan semua padamu, dan saat Kaff telah dewasa yakinkan dia jika ibunya belum mati" ucap Zoana sungguh-sungguh.
"Ini cukup mudah. Kita mempunyai ikatan, datang dan berikan isyarat penting jika kau dalam bahaya" balas Ziera.
Kedua wanita tersebut berpelukan singkat dengan bayi diantara mereka. Tepat ketika lonceng gerbang istana berbunyi menandakan bahwa sang Raja yang telah diangkat menuju bukit suci, semilir angin mengibaskan jubah hitam Ziera.
Wanita itu terlihat merapalkan beberapa mantra, hingga saat bayi digendongannya membuka mata tubuhnya mulai memudar. Semakin menipis bagai kabut dan semakin menghilang dengan bayi digendongannya tersebut.
Zoana sempat terdiam dan menatap kosong dimana Ziera berdiri dan bayinya yang terlelap tadi. Namun seketika lamunannya terhenti kala telinganya menangkap suara yang sangat ia kenal dan derap langkah kaki menuju ruangannya.
Matanya terpejam bersamaan benda-benda ringan dikamar yang berjatuhan. Dengan sengaja ia mencakar lengan serta merobek gaunnya. Tak sampai disana, Zoana menarik sebuah pedang di sela ranjang tidurnya.
Susah payah ia melangkahi jendela besar disana lalu berjalan menuju pinggir balkon. Sebulir air mengalir melewati pipinya ketika pedang ditangannya telah menembus dada Zoana. Tepat saat dua orang pria mendobrak paksa kamarnya, Zoana terjatuh. Melayang terjun dari balkon masih dengan pedang yang menancap membiarkan dua pria serta beberapa pengawal dan dayang kerajaan masih mencerna apa yang baru saja mereka lihat.
Mayatnya meninggalkan luka baru di kerajaan. Zoana pergi, hanya raganya, namun jiwanya masih tetap disana. Ia akan kembali dengan raga dan kehidupan baru suatu saat, dimasa depan.
"YANG MULIA RATU DIBUNUH! KERAHKAN SEMUA PRAJURIT MELACAK KEBERADAAN PEMBUNUH ITU!"
Ziera memegangi dadanya yang sakit, ikatan saudara membuat ia dapat merasakan sakit Zoana saat menusuk jantungnya sendiri. Ia menangis, namun lain dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum saat melihat semua penghuni istana kalang kabut sekarang. Lirikan matanya ia alihkan pada sosok bayi di gendongannya. Di balik sebuah pohon disana, Ziera berbisik.
"Selamat bayi kecil, kau yang akan terpilih menjadi pimpinan di masa depan"
Ceritanya masih berantakan wkwk
Pemula soalanya..
Biar paham sama alur, baca lanjutannya + vote
Hehe
KAMU SEDANG MEMBACA
Trigola
FantasiTrigola Rentetan alur hidup mereka ada disini. Tiga tokoh dengan tujuan masing-masing yang sama namun dengan cara yang bertolak belakang. Membuatnya rumit, yang seharusnya bersaing memperebutkan namun berubah seiring berjalannya waktu. Calon pemimpi...
