Sesuatu terjadi di luar kendali.
Wang Yibo merasa tertarik kepada kekasih keponakannya sejak dikenalkan pertama kali. Pemuda manis bernama Xiao Zhan.
Xiao Zhan menyadari tatapan paman kekasihnya yang terus diarahkan padanya sepanjang acara makan mal...
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
※※※
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Xiao Zhan merasakan bahwa tatapan paman kekasihnya, yang diarahkan padanya, terkesan sangat aneh. Sudah setengah jam sejak acara makan malam itu dimulai tapi sang paman masih saja terus menatapnya. Ia merasa risih. Sungguh amat risih meski berusaha mengabaikannya. Tatapan itu membuatnya tidak nyaman.
Wang Yibo tidak bisa melepaskan matanya dari pemuda manis yang bernama Xiao Zhan. Ia sendiri terkejut mendapati dirinya merasakan sesuatu yang liar saat melihat pemuda itu untuk pertama kali. Perasaan yang seharusnya telah lama membeku dalam dirinya tiba-tiba dibangkitkan dengan cara yang tak terduga. Namun, sialnya dia adalah kekasih Ailin, keponakan satu-satunya. Perasaannya ini jelas tidak boleh ada atau ia akan menghancurkan hati Ailin. Walau otaknya memerintahkan agar ia mengalihkan mata dari Zhan tapi hatinya tidak mau bekerja sama. Matanya tetap terpaku pada pemuda manis yang telah menarik perhatiannya.
"Zhan Zhan, kau suka ini, bukan?" Ailin menaruh lauk ke dalam piring Zhan yang diterima pemuda itu dengan senyuman.
"Terima kasih," sahutnya sopan.
Di seberangnya Wang Yibo memejamkan mata berusaha menghindari aksi fatal yang dilakukan Zhan, tersenyum dengan sangat mempesona.
"Kau pemuda yang sopan," puji Yuxi—ibu Ailin. "Orangtuamu pasti sangat bangga padamu."
"Bibi terlalu memuji," Zhan menolak dengan halus. "Pada kenyataannya aku selalu membuat kepala mereka pusing."
Perkataan itu sontak membuat meja makan penuh gelak tawa, kecuali Yibo yang hanya tersenyum tipis. Entah mengapa ia senang mendengarkan Zhan bercerita.
"Bagaimana kau bisa membuat orangtuamu pusing sementara sikapmu sopan seperti ini?" Tuan Li Minde—ayah Ailin, berusaha mengontrol rasa humornya.
Zhan berpikir sejenak. "Mereka bilang kalau aku tidak pernah memperkenalkan pacarku kepada mereka dan itu membuat kepala mereka pusing."
Tuan dan Nyonya Li tertawa lagi.
"Kalau begitu sekali-kali kau boleh membawa Ailin ke rumahmu," sahut Yuxi.