Fana adalah kekasihku,
Kekasihku yang tidak aku rencanakan.
Tiba-tiba ia hadir, masuk ke hidupku tanpa permisi, menggandeng tanganku seperti aku adalah boneka beruang yang dapat ditarik kemanapun. Ia juga senang mengamunisiku dengan berbagai lauk pauk yang mengantarkan berat badanku pada angka yang terus meningkat. Makmur katanya.
Aku ingat betul sore itu, ditemani secercah cahaya senja yang mulai meredup kami bercengkrama melalui telepon. Ntah bagaimana isi percakapan tersebut, dipenghujung jingga langit sore itu kemudian aku menjadi miliknya.
YOU ARE READING
Tentang Fana dan Garaya
PoetryFana adalah dia yang aku gambarkan tak kekal meski aku inginkan selalu ada. Tak apa, paling tidak Fana kekal di hati milikku.
