'Sangat melelahkan, seperti halnya menunggu senja saat hujan turun'
Benua Januar atau kerap disapa Ben, seorang laki-laki berusia 16 tahun yang duduk di kelas 2 SMA. Jika ada yang bertanya siapa ketua band di sekolah SMA Merdeka, maka Ben sendiri yang dengan percaya diri akan maju dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berkata "Saya ketua band paling ganteng se-universe."
Orang lain yang mendengar ucapan Ben hanya bisa menertawakan kenarsisannya. Menjadi orang dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi memang sedikit melatih mental. Jika tidak siap mendapat hujatan maka jangan pernah ingin menjadi orang narsis seperti Ben.
Kesukaanya pada gitar, mendorongnya untuk menjadi siswa yang dikenal banyak orang di sekolah. Siapa yang tidak tahu Benua Januar? Bahkan tukang bersih-bersih pun tahu siapa itu Benua.
Ben hanya memiliki satu masalah, ia tak percaya dengan cinta. Saat orang seusianya tengah sibuk menikmati masa remaja mereka dengan mencari pacar berbeda dengan Ben, ia tidak peduli dengan hal itu, ia hanya fokus pada dirinya dan melakukan apa pun yang ia sukai.
Memiliki paras yang tampan memang membuatnya menjadi salah satu dari golongan siswa famous. Ben memiliki sifat yang ceria dan selalu membuat orang di sekitarnya tertawa. Auranya benar-benar sangat positif vibe. So, inilah kisah Benua.
Udara pagi benar-benar sangat sejuk, walaupun udaranya lumayan dingin tapi hal itu tak akan menghambat semangat pagi di sebuah rumah minimalis yang di isi oleh dua orang yang terdiri dari seorang Ayah dan anak.
Ben duduk di samping Ayahnya yang tengah menyantap sarapan paginya. Ia mengambil piring dan segera menyantap sarapan yang sudah tersaji di meja makan. Tatapannya tak henti menatap sang Ayah yang makan dengan terburu-buru.
Rega, Ayah Ben, bekerja di toko miliknya sendiri. Seorang duda sejak 13 tahun yang lalu. Memiliki paras yang tampan sehingga ia selalu dikagumi oleh pelanggan di tokonya.
"Ayah, mau berangkat ke toko sekarang? Tumben buru-buru banget?" tanya Ben sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
Rega mengangguk, "Ayah banyak kerjaan. Kamu berangkat sama a Surya aja ya?"
"Besok Ayah mau pergi ke Jakarta, mau ikut?" tanya Rega.
Ben menggelengkan kepalanya, "Gak, Ben di rumah aja. Lagi pula Ben harus sekolah. Berapa lama Ayah pergi ke Jakarta?"
"Sekitar 5 hari aja habis itu Ayah balik lagi ke Bandung kok, Ayah mau buka cabang toko kita di Jakarta. Kamu kalo takut sendirian di rumah, nginep aja di rumah a Surya biar ada temen."
Ben mengangguk, kemudian Ayahnya pun berpamitan dan pergi ke Toko. Ben duduk kembali di meja makan. Ia membuka ponselnya dan mengetik sebuah pesan. Karena hari ini Ayahnya tak bisa mengantarkannya pergi ke Sekolah ia harus ikut bersama sepupunya. Ia dan Surya berada di sekolah yang sama, hanya saja Surya satu tahun lebih tua daripada dirinya, jadi Surya berada di kelas 12.
Setelah beberapa menit ia menyelesaikan sarapannya, suara motor tiba di pekarangan rumahnya. Ben sudah tahu itu pasti Surya, ia segera keluar dari rumah dan tak lupa untuk mengunci pintu.
"Om Rega pergi ke toko dari pagi? Tumben," ucap Surya heran.
"Ayah sibuk banget akhir-akhir ini, besok juga katanya mau pergi ke Jakarta," ucap Ben sedikit cemberut.
Ben menaiki motor Surya kemudian mereka berdua berangkat ke sekolah. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di sekolah.
"Nanti pulang sekolah tungguin aja di depan gerbang sama pa satpam ya, mau nganterin pacar pulang dulu," ucap Surya di hadiahi pukulan sedikit keras di bahunya oleh siapa lagi jika bukan Ben.
