Kata Baru dalam Kamus Hidupku yang Bernama Cinta

59 8 2
                                        

Kata orang cinta itu tentang bahagia, indah dan menyenangkan. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu menyakitkan, penuh derita, angkara dan nestapa, kecewa, lara, dan hal buruk lainnya. Bahkan jika disikapi secara berlebihan seseorang bisa gila karenanya.

Ah, maaf kawan. Pikiranku gelap. Aku belum mengerti dimensi cinta. Rasanya aku masih menganggap diriku terlalu dangkal untuk mengenal hal seperti itu.
Rasanya tak bisa dipungkiri, kala itu bagiku cinta itu terasa lebay sekali, haha.

Aku terlahir dari sepasang manusia istimewa yang Tuhan cipta, mereka sederhana namun mereka kaya, kaya akan aturan dalam mendidikku dengan keras dan penuh tegas. Ya, mereka adalah orang tuaku.

Selama aku menempuh pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, aku ditekankan untuk fokus belajar sehingga aku tumbuh dengan jiwa penuh ambisi dan semangat tinggi. Orang tuaku mengarahkanku untuk lurus dan memiliki tujuan. Jangan sampai terbawa arus dan berpindah haluan. Apalagi terbawa arus dalam dunia percintaan, ah rasanya mimpi buruk bagiku. Maka dari itu rasanya kata cinta amat asing di kepala ini. Dan nyaris berada pada barisan paling bawah didalam kamus hidupku.
Tak ku pungkiri, aku pernah menyimpan rasa kagum pada seseorang namun aku tak terobsesi seperti remaja yang pada umumnya rasakan. Ya, aku pernah jatuh cinta, tapi aku tak pernah merasakan patah dan sakit hati karenanya. Haha, aneh bukan? Tapi itu fakta. Dan ku rasa jatuh cinta itu wajar, hanya saja kita harus pintar- pintar dalam mengontrolnya. Agar tidak membutakan dan membodohi pikiran dan jiwa. Dan cinta yang sehat menurutku bukan ia yang membuat semangat belajarmu turun, tapi ia yang justru mampu mendorongmu untuk bisa lebih maju dan bersemangat.

Orang tuaku keras. Hingga pikiran bodohku ini kadang merasa tak nyaman saat mereka acap kali memeriksa ponselku yang dipenuhi pesan dari teman kelas dan guru. Mereka cek satu per satu. Hingga suatu waktu, kebetulan pesan masuk dari teman kelasku yang menanyakan tugas, ia laki laki. Orang tuaku langsung merespon sinis lalu bertanya "ini siapa? Dia tinggal dimana?" Dan hal lain ikut dipertanyakan. Hingga aku merasa sedang diintrogasi dengan penuh pengawalan. Akupun menjawab apa adanya, sesuai fakta, no bohong bohong.

Bahkan aku seringkali tidak diberi izin untuk mengikuti kegiatan sekolah, seperti tugas kelompok, mengikuti organisasi di sekolah, bahkan berekreasi dengan teman dan guru pun aku kesulitan. Aku pikir mereka terlalu berpikir negatif pada segala hal. Hingga aku bertanya- tanya sebenarnya salahku apa, dan dimana? Sampai mereka tak percaya akan setiap hal yang aku pilih dan yang akan aku lakukan. Aku menangis dan aku merasa terkekang dan kurang berkembang. Namun satu hal, aku tak memberontak, aku tak melawan, karena aku masih takut akan Tuhan yang selalu memantau tingkah laku baik burukku dengan penuh ketelitian tanpa kesalahan. Aku berusaha menjalani hari sesuai aturan yang mereka buat hingga lambat laun maksud dari semua ini terjawab. Ternyata, orang tuaku sering menemukan contoh buruk yang terjadi dilingkungan, dan akhirnya mereka ambil pelajaran dan melindungiku dengan penuh penjagaan.
Uh, melelahkan memang saat overprotektif mereka menjadi- jadi. Namun disisi lain aku syukuri sekali hal ini karena diluar yang aku rasakan banyak sekali anak yang mendamba kasih sayang, perhatian dan kepedulian orang tuanya. Dan aku beruntung, aku mendapatkan itu. Saat seprti inilah Tuhan selalu memberikan mata hati yang mampu melihat kebaikan dari setiap hal yang seringkali kita pandang sebagai sesuatu yang menyakitkan dan penuh keburukan, seolah Tuhan membisikkan pesan bernada penuh ketenangan. Alhamdulillah, terimakasih Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, satu tahun setelah lulusku dari Sekolah aku kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kecil.
Menjadi mahasiswa adalah impianku sejak lama, namun karena himpitan ekonomi aku memutuskan untuk membantu perekonomian keluarga dengan bekerja. Dengan harapan besar yang masih tersimpan untuk bisa kuliah, aku yakini saja bahwa Tuhan pasti memiliki rencana indah untukku. Sabar, dan Keep husnudzon saja kataku sambil menahan sesaknya dada kala berusaha mengurungkan keinginan yang membara ini.
Hingga suatu ketika, disaat ku menikmati aktifitas harian sebagai karyawan swasta, Tuhan akhirnya mempertemukan kita. Ya, aku dan kamu.
Dan kata cinta kembali muncul dan berperan sebagai kata baru dalam kamus harianku saat aku mengenalmu.

"Kita tak bisa menebak dan memilih untuk menjatuhkan cinta pada siapa. Cinta itu anugrah. Tuhan yang pilihkan. Akan tetapi, kita harus tau bagaimana cara mengolah perasaan yang dapat seketika datang dan pergi secara tiba tiba itu. Hati hati, hatimu akan patah jika salah langkah".

Antara Tulus dan LukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang