Ingatan ku berputar pada hari dimana aku tidak sengaja mendengar ceramah seorang ustadz yang menjelaskan tentang pedihnya setelah manusia memasuki liang lahat.Di kumpulkan di Padang Mahsyar, yang katanya ada yang mengatakan bahwa matahari hanya berjarak satu meter dari tempat kita berdiri.
Lalu lihat para manusia berdosa ini, terus mengeluh kepanasan saat upacara bendera telah berlangsung selama beberapa menit tadi.Mataharinya masih jauh ribuan kaki,tapi mengeluhnya sudah seperti di bakar bara api.
Masih mending mereka nonis yang memakai seragam pendek dengan kepala tak terbalut kain.Apa kabar dengan kami?jilbab putih bersih yang tidak selaras dengan kulit wajah yang mulai memerah hitam akibat kepanasan.
Heh,lagian kenapa aku malah mengeluh tentang aturan agama.Harusnya aku bersyukur karena dengan balutan kain itu malah membuat kami bisa terhindar dari siksanya api neraka.Panasnya di dunia tapi tidak dengan di akhirat.
Bersyukur lah kalian,dan berhenti mengeluh.
Karena hidup itu di selimuti berbagai ujian.Jika kalian merasakan kemudahan di dunia dan tidak menemukan kesulitan sedikit pun di dalamnya,mana mungkin Allah menyediakan hadiah syurga dengan segala keistimewaan nya.
"HORMAT,GRAK!"
Dengan takdir,semua ujian dan ketetapan di golongkan dalam jenis ada yang bisa di rubah dan ada yang tidak bisa di rubah.Jika membicarakan tentang syurga dengan segala isinya, bagaimana jika pembicaraan ini di rubah sedikit rumit.Rumit dan sangat asimetris,tidak memakai rumus untuk menemukan jalan keluarnya.Tidak semudah tau rumusnya tau jalan usahanya dan menemukan hasilnya.
Lalu setelah aku menceritakan semuanya,solusi yang mengganjal di hati kalian karena melihatku yang bodoh dan tidak mengerti agama,akan sirna setelah ku beri tahu plot twist jenis apa yang ada dalam story itu.
"SEMUA PEMIMPIN UPACARA MEMBUBARKAN PASUKANNYA MASING-MASING"
"Lapor upacara hari senin tanggal 12 Juni 2022 telah selesai di laksanakan"
"Laporan di terima"
Rentetan akhir upacara yang telah di suarakan membuat kami menghembuskan nafas lega.Rasanya hanya berdiri saja tapi kaki kami sudah seperti berjalan puluhan kilo meter.Seperti terbebas dari sesuatu,Yang ku inginkan saat ini hanya sebuah kursi.Aku ingin segera duduk dan mengistirahatkan otot-otot kaki ku.
Belum usai gerah di jemur di lapangan,mataku malah di suguhkan pemandangan panas yang membuat batinku beristighfar berkali-kali.
Bukannya sekolah sudah menerapkan tata tertib nya untuk berbusana sopan?meski menutup seluruh bagian tubuh bukan aturan resmi yang wajib di laksanakan.Tapi kenapa aku sendiri yang perempuan merasa risih dengan penampilan nya?
But i think... pagi-pagi seperti ini bukan waktu untuk mencuci mata.Tapi mencuci mata juga bukan selalu tentang kain yang bagian bawahnya terlalu atas dan bagian atasnya terlalu ketat bukan?
"Ga,lo mau gak nanti pulsek temenin gue ke mall bentar?gue ada barang yang mau di beli lo temenin ya?"
"Nanti gue traktir apa deh di sana,janji"
Dia fokus pada jawabanku sedang kan otakku masih fokus pada pakaian nya.Yang semakin hari semakin mengecil,entah gadis itu pergi lagi ke tukang jahit untuk memotong lagi seragamnya atau memang berat badannya yang bertambah.Tapi watak Aurel bukanlah seseorang yang baru ku kenal.Ditambah lagi, menutup aurat bukan hal di wajibkan di agamanya bukan?jadi,wajar saja.
Ya meski pun kami bersahabat,aku tidak ingin rasa toleransi kami hilang.
"Beli apa lagi? bukannya kemarin kamu baru aja borong itu Mall?masih belum cukup?"
Aurel malah nyengir dengan pernyataan yang ku buat.Memang bukan hal yang mengejutkan mengingat gadis itu terlahir dari keluarga kaya hedon yang mempunyai segudang bisnis Properti dan namanya sudah berserakan dimana-mana.Banyak orang yang mengatakan bahwa aku beruntung bersahabat dengannya,mungkin yang mereka sebut beruntung adalah 'kekayaan'.Tapi itu bukan alasan aku bersahabat dengan Aurel.
"Engga,no no no,kali ini gue mau belajar dari lo.Gue mau beli buku pelajaran dan lo bantu milihin.Oke?gue mau serius Ga.Gak mau main-main lagi soalnya udah kelas dua belas kan kita,udah mau lulus"kata Aurel.
"Tunggu,ini beneran niat mau belajar apa cuman alasan biar kamu di beliin Lamborghini sama Ayah?"selidikku.Karena minggu lalu gadis itu bercerita tentang keinginannya yang selalu di tolak mentah-mentah oleh ayahnya.Aku tau maksud Pak Bromo,karena Aurel tipikal remaja yang bisa di bilang terlalu bebas.
"Enggaklah!"sentak Aurel,tapi detik berikutnya malah bilang"ya tapi pasti Ayah beliin gue Lamborghini sih kalo nilai gue bagus bagus"Aurel terkekeh menilai perkataan ku ada benarnya juga.
Padahal aku menilai keluarga mereka gila harta.
Nilai bagus saja di beri hadiah Lamborghini,apa kabar dengan ku yang sebelas tahun berturut-turut bertahan di angka satu.Karena bagiku, Allah ijinkan meraih prestasi saja sudah sangat cukup.Walaupun Ayah ku juga menawarkan hal yang sama,tapi bagiku satu motor Scoopy juga tidak akan berguna jika trauma ku dulu yang jatuh dari sepeda masih tersimpan utuh.Masalahnya saat itu aku jatuh dari tebing dan mengakibatkan patah kaki sebelah kanan.
"JINGGA!"
Suara bariton itu mengalihkan fokus kami ke sebelah Utara.Dimana tepat di belakang nya adalah perpustakaan sekolah kami yang luasnya tak terhingga.Dan menjadi background seorang yang barusan memanggilku tengah berlari dengan sebuah benda elektronik di tangannya.
Anak itu punya ilmu hipnotis tanpa harus menatap mata korban.Karena setiap melihatnya,setan selalu berlomba-lomba menggodaku untuk terus menatap mata hitam legam itu.Definisi dosa tidak terasa,ya candu melihat nya.Cerita antara aku dengan dia bukan cerita yang mudah di rangkai lalu mudah di ceritakan.Padahal kami sama-sama memiliki rasa, sama-sama mengetahui rasa sialan yang kerap di sebut cinta itu.Sama-sama memiliki komitmen yang serupa.
Hanya saja...
"Mau ke mushola kan?ayo bareng sama aku.Aku juga mau ganti speaker mushola yang rusak"Katanya masih selalu memasang senyum ramah ke setiap orang.
Rasa antusias nya malah membuat perasaan ku tak terdefinisi bagaimana.Bohong jika aku tidak pernah mengharapkan nya.Sejak dua tahun silam laki-laki itu sudah menguasai hatiku,entah dari segi apa yang ku sukai.Padahal untuk sekedar membaca kitab suciku saja dia di haramkan.Bagaimana bisa telingaku ini mendengar lantunan ayat suci Alquran dari mulutnya.
Itu mungkin jadi alasan senyum sumringah Nolan yang mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam masjid.Miris memang.
Dan sebelumnya aku sudah berbicara tentang filosofi takdir.Dimana dalam situasi seperti ini aku hanya berharap semoga Allah mendengar doa ku dan sedikit merubah skrenario cerita yang di buatnya.
Aku ingin Nolan mendapat cahaya hidupnya,dan Allah mendatangkan hidayahnya agar doa yang kami ucapkan bertebaran di langit yang sama.
Meyakinkan diriku bahwa yang sering di sebut amiin yang berbeda itu sebenarnya bisa menjadi amiin yang sama.
ESTÁS LEYENDO
Jingga
De TodoJika di tanya apa penyesalan terbesar dalam hidupku.lalu Aku akan menjawabnya dengan lantang Bahwa penyesalan terbesar dalam hidup ku adalah plot twist yang di pakai di cerita ini. Selamat membaca,ini hanya kisah klasik yang menceritakan tentang per...
