alone.

15 2 0
                                        

Eleana Esmira, sang pemilik Surai pirang dengan manik matanya yang berwarna biru bak berlian yang dapat membuat orang tak dapat mengalihkan mata darinya.

Hari ini, sekolah Eleana sedang mengadakan acara kemah di gunung yang letak dan jaraknya lumayan jauh dari kota.

Yap! saat ini, Eleana dan teman teman sekelasnya sedang berada di bis Untuk menuju ke daerah perkemahan yang akan mereka tuju.
Leana sedang duduk sebangku dengan teman dekat nya yang bernama "Hera."
Di bis, Leana banyak berbincang bincang dan bersenda gurau dengannya dan teman temannya yang lain hingga mereka mulai kelelahan, lalu mereka berdua pun tertidur dan mulai menjelajahi alam mimpi mereka masing masing.

_________________

'Krik krik...'

Suara bising kodok dan jangkrik kini membuat gadis ini lepas dari alam mimpi yang sedari tadi ia jelajahi.
Leana mulai mengusap matanya dan menguap.
"mmh, Kok sepi?.." Gumam gadis tersebut heran.
Ah, seperti yang kalian tau, Leana masih setengah bangun atau biasa orang bilang 'nyawanya belum terkumpul' karena memang ia baru saja membuka matanya.

yang pertama Leana lakukan ialah menolehkan kepalanya ke arah samping, dan menyadari bahwa ia tidak melihat sosok sahabatnya di sampingnya.

"Her!" Panggil Leana sambil melihat ke arah kursi di sampingnya dengan harapan agar temannya itu akan menjawab panggilannya. Ia mencoba mengecek kursi hera dengan memegang kursinya untuk mengetes apakah Hera sudah lama pergi atau baru saja pergi, dari suhu yang tertinggal di kursi tersebut. dan Lena mendapati kursinya dingin, tidak meninggalkan jejak hangat sama sekali. Kini Leana sadar bahwa Hera sudah lama tak ada di sampingya.

"HER!ALDO!FELL!PAK GURUU!!" Teriak Leana kembali memanggil nama teman temannya satu persatu beserta pembimbingnya sambil beranjak dari kursinya dan melihat ke kursi kursi yang lain di bus itu.

Nihil. Tidak ada yang menjawabnya, dan juga tak ada yang sedang berada di dalam bus itu selain dirinya. Hera, Begitu juga dengan siswa-siswi yang lain, bahkan para guru dan pak supir tidak terlihat sama sekali pangkal hidungnya.
Hanya ada satu orang saja di bus ini. orang itu adalah Leana. Hanya Leana.

ia mencoba untuk berpikir positif, "Apa bis nya sudah sampai?" Pikirnya.

Leana pun menengok ke arah jendela dan hanya melihat bis ini saja yang dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi dan dengan rerumputan yang lebat dan pencahayaan yang sangat minim.

"Apa ini di hutan?" Tanyanya. Ah, entah ia masih setengah sadar atau lupa bahwa kini hanya dirinya saja yang berada di bis ini, tak ada yang akan menjawab pertanyaannya.

"Sepertinya iya." Leana yang menjawab pertanyaan yang ia katakan sendiri.

"Ink yang lain pada kemana sih? Masa ini cuma gue sendiri??" Leana pun kembali melihat keadaan sekitar bis yang baru saja ia dan teman temannya bersenda gurau disini.
Rasa dingin dan penerangan yang minim mulai membuatnya merasa ketakutan.

Leana mencoba untuk melangkahkan kakinya berjalan ke arah pintu bis.
Tapi udara dingin terus menerpa dan menusuk kulitnya. Membuat Leana menjadi mengurungkan niatnya untuk pergi keluar bis dan mendudukkan kembali dirinya di tempat duduknya, sambil mulai mencoba untuk mencerna keadaan yang sedang ia alami ini. Suhu udara di hutan ketika malam malam memang sangat rendah. "Serius ini kalau emang candaan ga seru banget, ulang tahun gue udah lewat." Benaknya kesal. Yang benar saja? Siapa insan yang ga takut ketika ditinggal di hutan seorang diri tanpa tahu apapun tentang seluk beluk, isi maupun letak hutannya?

"Uhh mana ini dingin banget disini.. padahal udah pake jaket loh"
ucap keluh Leana yang kini menggigil kedinginan dan mulai memeluk dirinya sendiri.
Kasihannya, aku harap ada seseorang yang dapat memberinya sebuah selimut walau hal itu sepertinya tidak akan mungkin. Leana sama sekali tidak memikirkan akan terjadi kejadian buruk yang menimpanya seperti ini. Jikalau tau, ia pasti tidak akan mau ikut acara perkemahan ini, dan lebih memilih menghabiskan waktu dirumah bersama anggota keluarganya. Emm, lebih tepatnya bersama kasur kesayangannya.

Eleana EsmiraWhere stories live. Discover now