Setelah perjalanan yang panjang dari Sydney, akhirnya Acha dan keluarganya sampai di Bandara Albureque yang bertepat di Jakarta. Acha terlihat sangat cantik dengan rambut dijedai dan hodie pink yang menutupi badannya dari atas hingga ke paha, juga celana Jeans kecil yang membuat kakinya terlihat sangat jenjang. Sambil menunggu mobil yang akan menjemput mereka, Acha dan Mama Linda duduk di kursi yang telah disediakan didekat tempat penjemputan. Mama Linda duduk sambil mengetik di bends berbentuk kotak yang bisa dilipat dan bisa mengeluarkan cahaya, benda itu bernama Laptop. Sedangkan Ayah Acha sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon genggamnya sambil bolak-balik berjalan didepan Acha dan Mama Linda. Acha sendiri terlihat bingung ingin melakukan apa, lalu tiba-tiba Acha teringat bahwa ia belum memberitahu sahabat masa kecilnya, Salsa. Langsung ia buka aplikasi Whatsapp, dan membuka kontak paling atas yang ia pin. Disana tertuliskan "Salsaa >.<".
Salsaaaaaa!! Gua punya
kabar baikkkkk
Hah? Apanii? Apa apa apa kabar baiknya ?
/send foto
Tebak
gue lagi dimana ^^
Itu...BANDARA ALUREQUE KANNN?!!!!!!!
LO?! DI INDO???!!!!
Yea babe !!!
Berapa menit kami chatingan, akhirnya sampailah mobil yang ditunggu-tunggu. Ayah, Mama, dan aku pun masuk kedalam mobil yang dikendarai supir kami, aku tidak tau siapa namanya, sepertinya dia supir baru, atau mungkin supir lama ya ?? Entahlah aku tunggu mama ku mengenalkannya saja.
"Nak, kenalin ini Pak Wono. Pak Wono nanti yang akan mengantar dan menjemput kamu dari dan ke manapun kamu pergi", kata mama seraya tetap mengetik di laptopnya itu.
"Owh..oke Ma. Halo Pak Wono, kenalin aku Acha", dengan sopan pun aku memperkenalkan diriku pada Pak Wono
"Baik Non, salam kenal", kata Pak Wono
Aku sebenarnya tidak terlalu suka dipanggil dengan panggilan "Non" ataupun "Nona". Aku lebih suka dipanggil dengan namaku saja, atau dengan sebutan mbak/kak/dek. Kalau panggilannya non, rasanya seperti aku ini seseorang yang memiliki peranan yang penting didunia ini, sedangkan aku hanya manusia biasa, yang terlihat seperti seorang putri karena kekayaan orangtuaku.
"Maaf Pak, panggil saya Acha aja. Gausah pake non ehehe", langsung kukatakan seperti itu pada Pak Wono, karena aku memang tidak menyukai panggilan itu.
"Apaan sih?! Bagus loh dipanggil non, lagian kamu juga cocok dipanggil non, cantik kayak seorang putri. Lagipula kamu juga dari keluarga kaya raya, jdi wajar kalau kamu dipanggil seperti itu. Kamu itu harus tau diri dan derajat kamu, kalau kmu ga dipanggil non, ntar kamu dikira anak pemulung diluar sana. Tidak apa apa Pak, panggil dia non saja!", kata mama tiba-tiba sambil menaikkan nada suaranya.
"Tapi ma.."
"Diam kamu!"
"Iya ma.."
"Pak Wono! Anda dengar saya ?!", kata mamaku kembali
"E-e iya bu", jawab Pak Wono
Aku merasa bersalah...karenaku Pak Wono jadi terkena amarah mama. "Maaf Pak", kataku didalam hatiku. Aku hanya bisa terdiam selama dimobil. Telepon genggamku bergetar dari tadi, menandakan adanya pesan yang masuk, entah dari siapa itu. Namun, aku sedang tidak ingin membuka telepon genggamku, jika aku membukanya, maka nanti mama akan marah lagi. Akhirnya, kuputuskan untuk membuka hp ku dikamar nanti.
Hari sudah malam, akhirnya kami sudah sampai didepan rumah. Kami langsung disambut dengan seorang perempuan yang memakai daster, ia sedang membukakan pagar untuk kami. Aku tebak pasti ini pembantu baru yang mama pekerjakan lagi. Kami langsung turun dari mobil, dan mobik diparkirkan di bagasi rumah. Mama menyuruhku untuk langsung masuk ke kamar, sedangkan barang-barangku akan dibawakan oleh perempuan yang tadi membukakan pagar.
"Aku mau diluar bentar ya ma, mama masuk dulu aja. Aku masih mau lihat-lihat rumah kita yang baru"
"Yaudah kalau gitu, kalau udah selesai langsung istirahat ya. Besok kamu langsung sekolah lho, jangan sampe telat"
"Oke ma"
Mama sama Ayah pun langsung masuk kedalam rumah. Kalian penasaran tidak? Kenapa dari tadi Ayah ku tidak berbicara ? Ya..Ayahku sekarang memang seperti itu, dia sangat irit sekali bicara, bahkan saat aku bercerita, dia hanya diam saja. Tapi, Ayah aku dulu tidak seperti itu. Waktu aku masih kecil, Ayah selalu menemaniku dan mengajakku bermain dan lain-lain, Ayah selalu ceria dulu. Sekarang.. Ayah sangat berbeda, semenjak ia memiliki banyak sekali pekerjaan, ia menjadi cuek dan pendiam. Kadang aku merasa khawatir, aku takut Ayah sakit karena ia terlalu fokus bekerja dan tidak memikirkan kesehatannya. Sesekali, aku mengingatkan Ayah untuk makan, untungnya Ayah selalu langsung makan setelah aku ingatkan, sehingga rasa khawatirku pun sedikit berkurang.
Sampai pada saat perempuan yang membuka pagar tadi ingin mengambil dan mengantar barang-barangku, aku menghentikannya
"Mbak, tidak usah dibawa, biar saya aja yang membawanya. Mbak bisa urusi barang barang yang lain saja"
"Oh baik non", kata perempuan itu
"Eh mbak, nama mbak siapa? Supaya saya ga bingung manggilnya hehe"
"Panggil aja Bi Inem, Non"
"Owh okee Bii"
Aku langsung membawa barang-barangku, membawanya ke lantai atas dengan hati-hati dan melihat sekitar, takut mama melihat tindakanku ini dan Bi Inem jadi terkena amarah mama. Akhirnya setelah perjalanan yang sangat membua jantung berdebar kencang, aku sampai juga didepan pintu kamarku. Aku membuka pintu kamar itu. Saat aku membuka pintu, aku langsung disambut dengan warna serba pink yang sangat cantik. Diatap kamar ada kupu-kupu yang terbang, ada jendela dengan gorden warna pink muda. Meja berwarna putih, seprai kasur yang berlatar belakang putih dan bermotif bunga juga kupu kupu. Sangat cantik.
Aku sangat lelah, aku ingin segera tidur dikasur yang sangat cantik itu. Aku buru-buru meletakkan barang-barangku pada tempatnya, pakaian langsung aku gantungkan dilemari pakaian, dan sepatu aku susun dirak sepatu. Semuanya aku susun pada tempatnya. Setelah selesai, aku langsung merebahkan tubuhku dikasur, dan langsung tertidur pulas.
YOU ARE READING
Lubang Asing
FantasyIni kisah tentang dua sahabat yaitu, Acha dan Salsa. Mereka sudah bersahabat dari kecil hingga saat ini mereka sudah di jenjang SMA. Kedua nya sama-sama pintar, memiliki kedua orang tua yang kaya yang sudah pasti masa depan mereka terjamin bahkan sa...
