Matahari menyapa dari balik peraduannya. Cahanya membelai lembut kepala seorang gadis yang sedang tertidur lelap di kamarnya. Dia sendirian. Tinggal sendiri, hidup sendiri. Dalam kesendirian dia selalu berpikir, kenapa aku masih hidup? Seseorang yang mencoba untuk tetap tegar dengan kejamnya dunia ini. Seorang gadis yang masih mencoba untuk menemukan jati diri yang sebenarnya. Dari balik topengnya dia memendam segalanya. Kedua orang tuanya sudah bercerai, dan dia memutuskan untuk tinggal sendirian. Menjauh dari kedua orang tuanya. Tapi orang tuanya tetap mencukupi apapun yang dia butuhkan untuk tetap hidup. Dia seorang perempuan yang kuat. Tapi tidak disadari oleh dirinya sendiri. Sejauh ini dia melangkah dengan tertatih dan penuh dengan luka yang diberikan oleh dunia padanya.
Dia membuka matanya. Sinar matahari menyambutnya dengan sangat riang, tapi dia tidak bisa seriang matahari yang kini menyinari dunia. Dia hanya bisa menjadi bulan yang kelam saat tidak disinari oleh matahari. Bisa dibilang dia butuh seseorang yang sangat berarti. Memang dia memiliki sahabat. Seorang sahabat perempuan yang selalu menemani dirinya dalam hal suka dan duka. Xania Laurencia. Itulah namanya. Nama seorang gadis yang kini sedang menatap langit langit kamarnya dengan tatapan penuh harapan bahwa hari ini akan baik baik saja. Dia harus sekolah hari ini. Karena sekarang Senin. Xania tidak bisa terlambat, jika terlambat pasti kena masalah.
Xania bergegas menuju ke sekolah setelah semuanya siap untuk hari ini. Cahaya matahari berpendar dengan agung ke seluruh penjuruh dunia. Dia memasuki mobilnya dan langsung bergegas ke sekolah. Baginya jenjang SMA adalah masa masa yang paling berat. Dimana dia harus segera memikirkan bagaimana untuk kedepannya lagi. Dan juga, dia sekarang sudah kelas 2 SMA. Yang mana dia harus segera berpikir bagaimana kehidupannya yang selanjutnya. Harus dikemanakan dirinya nanti? Pikiran tentang menjadi dewasa selalu datang di waktu yang tidak menentu.
Mobilnya berhenti di parkiran sekolah. Kedua kaki membawanya memasuki sekolah dengan langkah pasti. Allena, dia melihat sahabatnya sedang berbicara dengan seorang cowok. Langkah kakinya semakin mendekat ke mereka berdua. Xania menyapa Allena, sahabatnya itu menoleh dan menyapa balik. "Xania? Tumben lo dateng sepagi ini?" Allena bertanya seperti itu, karena dia sudah paham dengan kebiasaan sahabatnya yang biasanya bangun kesiangan.
"Ya... gue pengen aja. Kenapa emang?"
"Nggak papa. Terusin kebiasaan lo yang baik ini... untung lo hari ini gak telat. Karena gue denger denger, kalo telat hari ini bakalan dapet sanksi lebih dari hari biasanya."
"Oh, ya? Untung aja gue dateng duluan. Kalian berdua nggak masuk kelas?" Xania menunjuk mereka berdua. Keduanya saling tatap menatap dan akhirnya saling membuang pandangan.
"Kami? Oh, bentar lagi masuk kok. Gue lagi ngomong aja sih, soalnya ada perlu sama Alva." Allena tersenyum.
"Oh, ada perlu. Yaudah gue duluan aja ya..." Xania berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Iya, lo duluan aja."
***
Di dalam kelas, suasananya sepi. Hanya ada beberapa siswa yang sedang sibuk dengan dirinya masing masing. Sebagian diantaranya bermain ponsel mereka. Xania memasuki kelas dan langsung duduk di bangkunya. Dia sangat lelah sebenarnya hari ini. Karena kejadian kemarin yang begitu menguras tenaganya. Kedua tangannya menangkup di atas meja dan kepalanya langsung lemas. Dia menaruh kepalanya ditangan. Tidak ada semangat baru hari ini. Sama seperti sebelumnya. Dia tidak memiliki tujuan. Seperti berada di ujung tanduk. Dirinya sudah merasakan kesakitan yang luar biasa.
"Assalamualaikum dunia!!!" suara itu. Pemiliknya adalah Helena. Temannya yang sangat suka mencari keributan dengan semua orang. Bukan ingin bertengkar, tapi suaranya yang sangat memekakan telinga jika berteriak. Sudah seperti speaker yang rusak. Helena duduk di samping Xania. "Xania??"
YOU ARE READING
A & X
Romanceberharap akan dibuat baik oleh keadaan tapi nyatanya justru membuatnya bertambah buruk. kejadian waktu itu, pertemuan pertama kali antara Aland dan Xania yang membuat semesta mempersatukan mereka dalam sebuah garis takdir yang tidak menentu. akan di...
