🌙 DUABUS 🌙

188 37 42
                                    

Park Jisung, murid baru itu ternyata adalah seorang lelaki mungil yang seminggu lalu terluka di jalan akibat di bully itu. Dia tampak pendiam, sangat pendiam. Hobinya membaca buku, ia selalu memakai hoodie dan baju panjang saat sekolah. Tak pernah sekalipun menampakkan tangannya.

"Hai Jisung," sapaku ramah melihat ia duduk sendirian di taman sambil membaca buku. Jisung tersenyum simpul kemudian fokus membaca buku lagi. Aku duduk disebelahnya tanpa ragu. Aku memang tidak punya malu dengan siapapun.

"Lo suka baca buku ya," ucapku berbasa - basi. Jisung menutup bukunya kemudian tersenyum manis. Senyumnya membuatku berdebar, ia sangat lucu dan manis.

"Iya, oh iya namamu siapa?" Jisung bersuara lagi membuatku semakin berdebar. Aku tersenyum bisa - bisanya dia lupa namaku.

"Gue Huang Ferlyn, kenapa lo lupa? Haha."

Jisung menunduk, pipinya tampak memerah karena malu. Aku dengan gemas mencubit pipinya. " Jujur, lo sangat menggemaskan." Ucapku sambil menangkap pipinya membuat Jisung tersenyum canggung kemudian menunduk.

"Apa lo pemalu?" Tanyaku lagi, harusnya seorang wanita pemalu ini malah berkebalikan.

Jisung mengangguk. "Iya, aku tidak punya teman." Ucapnya sambil memeluk bukunya.

"Ayo jadi teman gue," ucapku sambil menggenggam tangannya. Jisung tersenyum lagi membuatku senang. Setiap ia senyum moodku naik drastis sampai hatiku rasanya ingin meledak. Ferlyn memang gila.

Semenjak saat itu, hari hari kulalui lebih dekat dengan Jisung. Dimana ada Jisung disitu selalu ada Aku. Dan sebaliknya aku bahkan tidak segan - segan melawan banyak orang yang menghinanya.

"Ferlyn,"

"Ferlyn,"

"HUANG FERLYN"

Aku memutar bola mata kesal melihat seorang laki - laki berdiri di depan pintu kamarku. Dia adalah kakakku Huang Renjun. Pria yang sangat dingin, galak, dan menyebalkan.

"Apa?" Jawabku malas.

"Dasar bocah bengal, lo gak mendengar hah? Dari tadi ibu manggil lo?" Mendengar kata ibu dengan cepat aku turun dari kasurku kemudian berlari menuju ke arah ibu berada.

Renjun yang melihat tingkah adiknya itu hanya bisa menggeleng.

"Oh iya Fer, itu siapa temanmu yang lucu itu Park Jisung ya? Ibu dengar dia pindah di sebelah rumah kita. Ini antarkan makanan ini untuk dia ya." Ucap ibu sambil menyodorkanku rantang makanan. Dengan senang aku segera keluar rumah, mendengar Jisung semakin dekat aku jadi sangat senang.

Setelah tiga kali memencet bel rumah aku berdiri sambil sesekali merapikan rambutku.

"Jisuuuuung," ucapku sambil memeluknya tanpa malu. Jisung terkekeh kemudian mengelus pelan punggungku.

"Kenapa gak bilang kita akan bertetangga?" Ucapku sambil memasang ekspresi ngambek.

"Oh iya, ini dari ibu gue. Dimakan ya hehehe."

Jisung tersenyum lagi. "Terimakasih Lyn cantik."

DREG DREG DRUG DRUG.

APA DIA BILANG? CANTIK.

Jantungku sukses berdetak tidak karuhan.

"Lyn? Kamu sakit ya? Kenapa wajahmu memerah?" Ucap Jisung menampakkan ekspresi bingung, telapak tangannya terulur menyentuh dahiku. Aku meneguk ludah, kemudian menggeleng cepat. Ini benar - benar tidak sehat untuk jantungku. Aku segera membalikkan badan dan berlari menuju rumahku tanpa mempedulikan Jisung yang memanggil - manggil namaku. Aku positif gila.

Sampai rumah aku menutup pintu dengan sangat keras sampai ibu datang dari arah dapur. "Astaga Ferlyn, kau kenapa? Habis dikejar hewan buas?" Tanya ibu. Aku menggeleng sambil menggigit bibir. "Ferlyn harus kekamar mandi bu, hehe" aku segera berlari menuju kamarku kemudian menjatuhkan tubuhku ke ranjang kesayanganku sambil berguling - guling tidak jelas.

"Aarghhh Park Jisung lo bikin gue gila, dunia ini pahit kecuali Park Jisung." Aku guling - guling kasur tidak jelas.

CEKLEK, pintu terbuka menampakkan sosok makhluk ciptaan Tuhan yang menurutku sangat menyebalkan.

"Heh, Ferlyn? Lo gila ya? Lo kerasukan?" Suara itu menggema di kamarku membuatku yang awalnya bahagia menjadi kesal, sangat kesal.

"Apa?? Kenapa?" Ujarku sambil bangkit dari kasur menampakkan wajah kesal yang tidak ditutup - tutupi.

Renjun, kakak biadap itu tersenyum miring. Kemudian tertawa mengejek. "Lo lupa ya? Hari ini kau les dance bodoh! Ya sudah kalau tidak mau aku antar biar senior galak lo itu mendepak lo dari grup jadi jadian itu." Ujar Renjun sambil berlalu dari kamarku. Aku segera berlari mengejarnya. Menarik baju putihnya agak keras.

"Kak Renjuunn, Pleasee gue lupaa. Manusia itukan memang tempatnya salah dan lupa." Ujarku memohon mohon sampai terduduk di hadapannya. Renjun tetap saja cuek, aku yang emosi mengacak rambutku.

"RENJUN SIALAN!" Jeritku frustasi.

TING TONG

Suara bel rumah berbunyi membuatku segera berlari menuju ke depan rumah. Dari kecil kebiasaanku adalah, suka sekali menyambut kedatangan tamu.

Aku mematung di tempat kala membukakan pintu.

"Hehe hallo Ferlyn, hari ini kau ada les di sekolah? Aku ada les vokal, kau mau berangkat bersamaku?" Tanya Jisung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hehe hallo Ferlyn, hari ini kau ada les di sekolah? Aku ada les vokal, kau mau berangkat bersamaku?" Tanya Jisung. Aku rasanya ingin menjerit dalam hati.

"Okee, gue siap siap dulu yaa." Ujarku sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Namun aku mundur lagi, mengeluarkan senyuman termanis yang bahkan tidak pernah aku keluarkan untuk kakak kakakku yang menyebalkan.

"Jisung masuk dulu ya tunggu di ruang tamu," ucapku sambil menggandengnya.

Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar. Aku berpapasan dengan Renjun sialan. "Berangkat? Bareng siapa?" Ucapnya sambil menaikkan alis. Aku mendongak kemudian sengaja menubruk tubuhnya. "Bukan urusan lo Renjun!" Ujarku kemudian berlalu dari hadapannya.

Aku tidak lupa untuk berpamitan dengan ibu yang sedang menyirami tanaman di taman belakang rumah.

"Ibuuu,, aku pamit berangkat les dulu ya." Ucapku sambil mencium tangan kanan ibu.

"Diantar siapa Lyn? Kak Renjun?" Tanya ibu sambil menata mawar kesayangannya. Aku menggeleng cepat. "Renjun malas mengantarku, untung ada Jisung penyelamat. Hehe aku berangkat dulu ibu." Ujarku sambil berlari kecil.

Ceng Xiao menggeleng sambil tersenyum, anak anaknya memang sangat unik dan jarang akur. Itu sudah pemandangan sehari hari.

Sampai ruang tamu aku melihat Renjun sialan dan Jisung sedang mengobrol dengan akrab membuatku menekuk wajah.

Aku semakin kesal sampai di kepalaku ada asap ketika melihat Jisung dan Renjun sang kakak biadap ber- tos ria. ARGHHH aku sangat marah.

"Lo racuni Jisung dengan bualan sialan lo kan?" Semburku sambil menatap tajam Renjun. Ia tersenyum miring kemudian berlalu sambil mengedipkan sebelah mata pada Jisung. Aku hanya bisa menutup mulut menahan muntah.

Aku melotot pada Jisung namun setelah itu berusaha tersenyum manis. "Apa yang barusan Renjun sialan omongin ji?" Kepoku. Jisung tersenyum manis sambil menggeleng. "Kita membicarakan permainan di game." Ujarnya, aku hanya mendengus kesal kemudian berjalan duluan.

TBC

Verus Amor || Park Jisung || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang