Matahari pagi masuk lewat celah tirai yang menutup jendela sebuah kamar di rumah bertingkat dua, penghuninya menggeliat pelan, terusik dengan cahaya yang membuat matanya terbangun.
“Jam berapa sih?”
Kelopak mata itu terbuka, nampilin sepasang iris yang serupa bola coklat.
“Baru jam delapan juga.”
Stelah ngumpu;in nyawa di atas kasur, akhirnya dia ngebuka selimut dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
“GYAAA! Bangun!”
“Udah mami.”
Kedua lengan kekarnya melingkar di pinggang Heera yang lagi masak sarapan di dapur, nggak ada kelebat papinya di mana-mana, bisa jadi pria itu udah berangkat ke rumah sakit atau mampir sebentar di klinik.
Pekerjaannya sebagai dokter spesialis bedah toraks menjadikan Mark super sibuk. Tapi, walaupun begitu, dia akan tetap menyempatkan diri untuk ngabisin waktu bareng keluarga kecilnya.
“Duduk gih, kita sarapan dulu.”
“Papi mana?”
“Udah berangkat, ada operasi hari ini.”
Gya nurut, duduk di kursi makan dengan tenang sembari nunggu Heera bawain nasi goreng sosis ayam kesukaannya.
“Kamu nggak ada kuliah, Mas?”
“Nggak ada sih, Mi. Paling nanti aku mau keluar.”
“Sama Nao?”
Kening pria muda itu terlipat bingung, “Kenapa Nao?”
“Ya emang siapa lagi? Kamu punya temen selain Nao?”
“Ya iyalah!”
Naomi itu gadis manis yang udah nemenin dia dari TK sampe kuliah, semua orang juga tau kalo Gya dan Nao itu sepaket, di mana ada Gya di situ ada Nao.
Tapi, sejak masuk ke universitas, pertemuan mereka jadi nggak seintens dulu lagi, Heera jarang ngeliat Nao mampir lagi ke rumah, mungkin karena kesibukan di jurusan masing-masing, atau karena ada teman baru yang lebih menarik.
“Mau kemana sih, Mas?”
“Perpus.”
Harusnya Heera nggak perlu nanya lagi, tempat favorit Gya selain taman kota ya perpustakaan daerah.
“Ya udah, makan gih.”
“Mama kerja nggak hari ini?”
“Iya, tapi nanti malem. Papi pulang malem kok.”
“Oh, oke.”
Memiliki orang tua sehebat Markurius Kalasrenggi dan Almaheera Prameswari Seomardi nggak lantas ngejadiin Anargya berkecil hati. Justru, sejak masih muda, dia udah dididik dengan sangat baik agar bisa mengikuti jejak sukses mereka.
Papinya menamatkan sekolah spesialis saat Gya kelas empat sekolah dasar, sementara karier maminya semakin menanjak sejak dia masuk sekolah menengah pertama.
Membuat dia lebih sering sendirian di rumah karena mami dan papi kadang bekerja sampe malem. Sebenernya pengen protes, tapi makin ke sini, dia makin paham kalo itu semua buat dia, buat diri mereka juga.
Mami bahagia dengan bekerja, menjalani passionnya di bidang pertelevisian. Sementara papi senang mendeklarasikan diri sebagai tangan kanan Tuhan, menyelamatkan nyawa orang dan kembali ngebawa bahagia di wajah keluarga.
“Mas?”
“Nanti aku mau ke uti aja deh.”
“Oh, yaudah. Ajakin Ndhis keluar kalo gitu.”
YOU ARE READING
Serein
FanfictionAnargya nggak akan pernah bisa memilih di antara dua hati yang meminta untuk cinta.
