Rundung

1.5K 23 8
                                        

Sepi.
Gelap.
Sunyi.
Tidak ada yang menemani.
Tuhanku, kapankah kau akan membawaku keluar dari sini?

Entah malam ke berapa aku sudah terdiam di dalam ruangan ini.

Aku bahkan tidak ingat lagi bentukku seperti apa tadinya.

Hanya tersisa kesadaranku yang melayang-layang tanpa arah.

Ingin rasanya aku melangkah melewati pintu itu.

Namun apa daya, sukmaku lebih lemah dari debu yang beterbangan di sekitarku.

Kudengar sayup-sayup langkah petugas kebersihan yang sibuk merapikan ruangan aula, ah, nampaknya mereka sedang kembali berbahagia dan berpesta.
Bercengkerama dengan makhluk lain...

Nikmat yang sungguh tiada tara.

-----------------------

Sepi.
Gelap.
Sunyi.
Tidak ada yang menemani.
Tuhanku, kapankah kau akan membawaku keluar dari sini?

"Lap sampe bersih. Paham? Anak baru gak usah banyak gaya!" Kata seorang santriwati dengan lantang.

Aku tidak pernah menemuinya langsung, ketika sadarku tiba, ketenangan malam menyelimutinya. Ketika mentari menyinari aktivitasnya, aku harus berlindung di bawah bayang-bayang.

Namun suara itu sering kudengar beberapa minggu ini. Bersamaan dengan dentingan pemukul bola, raket, serta berbagai macam bola yang menemani hari-hariku.

"Iya, kak...." Jawab santriwati lain lirih, ia didorong dengan paksa ke dalam ruangan, debu-debu yang menempel di lantai seketika berpindah pada jilbab dan seragam olahraganya.

Satu-satunya jawaban yang ia dapat dari rintihannya adalah kunci yang diputar hingga menutup pintu itu dengan sempurna. Meninggalkannya sendirian di ruangan ini bersamaku, air mata dan keringat bersatu mengusamkan wajahnya.

Andaikan saja aku dapat memelukmu, Nak. Atau Dik? Aku tidak merasa setua itu untuk bisa memanggilmu 'Nak', namun aku yakin usiamu hanya segelintir dari perjalanan hidupku.

Aku mengintip dari celah yang ada, berhati-hati agar tidak ada pancaran sinar matahari yang menyentuhku. Kulihat nama 'Anis R' disablon dengan rapi di punggungnya.

Yang kuat, ya, Dik Anis. Kalau aku bisa, setiap malam aku akan membantumu mengelap seluruh alat yang ada di ruangan ini. Namun apa daya, mengusir lalat yang hinggap di jendela saja aku tak mampu.

----------------------------------
Sepi.
Gelap.
Sunyi.
Tidak ada yang menemani.
Tuhanku, kapankah kau akan membawaku keluar dari sini?

Oh, ternyata tidak. Aku tidak sendirian. Siapa gerangan yang memasuki ruangan ini di tengah gelapnya malam?

Anis rupanya. Apa yang ia lakukan di sini? Tentulah ada tempat yang lebih nyaman baginya untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

"Untung masih ada. Bisa gawat kalau hilang...." Gumam Anis. Ia mengarahkan lentera kecilnya ke bawah lemari, mencari sesuatu. Sepertinya ia menemukan apa yang ia cari, namun....

"Aaaaaaaah!!" Sejenak ia menjerit kesakitan, namun ia tahan sebisa mungkin agar tidak menimbulkan keributan. Setelah menarik lengannya dari bawah lemari besar yang sangat berat itu, terlihat warna merah lebam yang lebar dari sekitar sikunya. Entah terkilir karena posisi yang salah barusan, atau ia memang sudah sakit dari sebelumnya.

Anis lalu keluar, giginya menggertak menahan rasa nyeri yang hebat dari lengannya. Kunci kecil yang ia cari telah ditemukan.

Andaikan saja....aku bisa menggeser kunci itu lebih dekat, tentu ia bisa mengambilnya tanpa harus melukai dirinya sendiri.

Life AroundTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang