Air Mata

572 23 0
                                        

Sekembalinya mereka ke kamar masing-masing semua dapat dilepaskan dari Pundak mereka semua. Setelah saling menguatkan, saling melempar senyum dan tawa yang mereka semua juga tau bukanlah perasaan mereka yang sebenarnya, akhirnya mereka dapat mengeluarkan emosi sebenarnya.

Ahsan, ya dia merasa ini semua adalah salahnya dan tetap begitu setelah bertahun tahun bergelut dalam dunia ini. Hendra? Tentu dia sadar tentang perasaan partnernya tersebut.

"san"

"maaf ya koh"

"ya, saya juga minta maaf ya"

"ngga, kokoh ngga salah, ngapain minta maaf"

"loh? Kalo gitu kamu juga salah, gausah minta maaf"

"tapi kan saya gabisa nyumbang poin koh, kita ga bisa pertahanin karena saya mainnya kurang"

"emang kamu mainnya ga maksimal?"

"tetap aja ga cukup koh"

Ahsan kemudian menundukkan kepalanya tanpa bersuara lagi. Hendra pun tersenyum melihat Ahsan-nya yang selalu menyalahkan dirinya sendiri. Hendra paham tak ada gunanya lagi mereka beradu argumen.

Tanpa ragu kemudian Hendra memeluk juniornya itu, menenggelamkan kepala junionrya dalam hangatnya dada bidang yang ia miliki itu. Dan dirasakannya tubuh juniornya itu sedikit bergetar.

"udah keluarin aja, gausah ditahan ya. Kamu gaperlu selalu kuat sama saya", sambil dielusnya lembut kepala juniornya.

Tangis Ahsan pun akhirnya pecah. Dilingkarkannya tangannya ke badan kokohnya itu agar bisa lebih menyembunyikan wajahnya.

Hendra pun cukup menahan perasaan "kuat" itu, dilepaskannya air mata yang daritadi ditahannya itu. Diletakkannya kepalanya di atas kepala orang dalam pelukannya itu. Dipejamkannya matanya dan tanpa terasa air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.

Mereka menikmati momen itu untuk beberapa saat. Mengeluarkan semua yang ditahan. Melepaskan sampai perasaan lebih baik, dan harus lebih baik.

Tak lama, Ahsan memecah keheningan singkat itu. Melepaskan pelukannya dan sedikit menarik dirinya dari Hendra, tanpa berbicara apapun.

Hendra pun bertanya tanya, mencoba membaca ekspresi ahsan yang terlihat seperti berpikir serius. Dengan wajah kebingungan, yang juga sebenarnya tidak terlihat, ia membuka suara memecah kebingungan diantara mereka karena tidak biasanya ahsan seperti ini.

"kenapa san?"

"oh, ngga koh", ucap ahsan yang tersadar dari pikirannya, "cuma saya baru sadar koh"

Tetap dengan kebingungannya, "sadar apa san?"

"ternyata air mata itu asin ya koh, tadi masuk ke mulut saya"

Hendra sedikit terkejut untuk pernyataan ini. Ia memang sudah menyiapkan kata kata bijaknya kalau kalau Ahsan kembali mengeluarkan kata kata overthingkin nya itu, tapi, untuk ini? Oh tentu tidak terpikirkan olehnya.

"iya loh koh, Cobain deh, itu kokoh juga ada air matanya"

Hendra pun, yang entah mengapa menuruti intruksi tak perlu itu, menjilat sedikit air mata di pipinya.

"eh, ngga loh san"

"ih, masa sih koh, ini saya kok asin ya?

Tanpa sadar, Ahsan mengeluarkan kata kata yang memancing Hendra. Kemudian senyum pun tersungging di bibirnya itu.

Tanpa aba aba langsung diusapnya, menggunakan ibu jarinya dengan halus, sedikit air mata yang ada di pipi ahsan dan langsung mengecup jarinya tersebut.

"eh, koh, apaan sih?", dengan wajah yang mulai memerah, ia memperhatikan kokohnya yang tampak seperti berpikir dengan wajah datarnya itu

"hmm, ga asin kok san? kamu kok ngerasanya asin ya?"

"apaan sih koh, asin tauk, saya aja ngerasanya asin", sambil menahan rasa malunya setelah Hendra menyentuh wajahnya. Ia pun mulai mengedarkan pandangannya untuk menahan perasaannya.

"loh, tadi air mata saya ga asin, saya juga sudah coba air mata kamu juga ga asin tuh?"

Jantung Ahsan mulai berdebar dengan cepat dan kuat. Ia mulai tak bisa mengontrol salah tingkahnya atas apa yang dilakukan dan diucapkan Hendra sesaat sebelum ini. Hendra yang sadar dengan hal itu pun segera melanjutkan aksinya tersebut.

"hmm, apa perlu saya Cobain yang kamu rasa ya?"

"hah?", Ahsan cukup terkejut dengan apa yang diucapkan partnernya itu.

"iya, kan kamu ngerasanya asin, saya ngga. Nah, saya penasaran, saya coba langsung ya?"

Ia pun menundukkan tubuhnya dengan tujuan menyejajarkan kepalanya dengan kepala juniornya itu. Ditatapnya dengan penuh arti bibir milik partnernya yang terlihat lembut nan manis itu.


- Continued by your own guys, peace -

oneshots daddiesDove le storie prendono vita. Scoprilo ora