sapaan yang paling sederhana

18 0 0
                                        

Biarkan aku tenggelam dalam kolom chat kita, biarkan aku menghilang dalam keramaian linimasa.
Mengapa?
Karena tidak ada yang seindah senyumu.
Tidak ada yang menarik lagi selain parasmu.
Jangan pergi tetap lah disini aku akan selalu ada menemanimu meski hatimu kini tak lagi utuh.

Ini adalah kisahku. Kisahku dengan seseorang yang pernah menjadi pusat semestaku. Meski kini ego telah menyelimuti diri masing-masing.

Sapaan salam yang sederhana. Itu lah yang cocok untuk mengawalinya. Pernahkah kau merasa,  ketika hidupmu tengah berjalan sebagaimana mestinya. kau melakukan kegiatanmu dengan sangat teratur?. Lalu dengan sangat tiba-tiba sesosok itu muncul dan menghancurkan segala apa yang kau rencanakan seharian tadi. Ini semacam konspirasi alam semesta yang tidak kau tau.

Begitulah awal kisah ku dengan dia. Dia yang datang dengan segala kesederhanaannya. Yang mampu mengobrak-abrik jagat rayaku.

Aku tak ingin menyebutmu malam. Karena ia terlalu kelam.
Aku tak ingin menyebutmu senja.
Karena ia hanya sementara.
Aku hanya ingin menyebutmu fajar.
Yang membawa semangat untuk hariku. Yang memberi harapan untuk baik baik saja dalam setiap detikku.

Obrolan demi obrolan pun terketik. Aku dan kau pun terjebak dalam ruang kenyamanan. Sempat terlintas di pikirku, pantaskah aku untukmu? Telah menjadi tanda tanya yang besar didalam isi kepalaku.
Tanpa permisi kau meyakinkan ku.

Perihal hati, aku bukanlah orang yang mudah menaruh hati.
Perihal rasa, aku bukanlah orang yang mudah untuk jatuh cinta.
Jika satu nama tertulis dalam dada, maka sulit untuk menghapusnya.
Dan dengan sengaja pun aku ukir namamu dengan penuh perasaan. Tanpa melibatkan keraguan sedikit pun.

7/365 hari. Aku menemukanmu. Menjalin kisah beradu kasih.
Hadirmu dalam hidupku melepaskanku dari duka yang panjang. Menyelamatkan ku dari dramatisir keadaan. Dengan begitu, tugas ku hanya untuk membuatmu bahagia. Tanpa sedikitpun rasa kecewa. Lihat rembulan diatas sana. Tatap tanpa perlu keraguan. Ia bersinar terang tanpa syarat. Seperti rasa ini tumbuh semerbak tanpa sedikitpun ia berpikir akan layu pada waktunya.

Tak bisa ku ungkap kan, Hanya bisa ku rasakan.
Inilah aku. Jeritan jiwaku.
Pahamilah aku sia tanpamu,
Mengertilah aku redup tanpa
Cintamu.
Menetaplah aku antah berantah,
Tanpamu.

Perjumpaan ini sangat sederhana. Disini, di Januari seperti engkau berbisik dalam kabut sunyi. Yang memberi rasa kasih sayang mu, dalam kelokan tanpa syarat itu.
Kau mulai populer dalam isi kepalaku. Satu kalimat berbisik kala itu "aku ingin kamu menjadi yang terakhir."
Katamu.

Adalah rasa yang mendorong kita untuk saling mengisi ruang harap.

Trilogi Cinta Where stories live. Discover now