Yangyang anak baik, pintar, patuh dan selalu membantu teman-temannya. Di sekolah ia adalah kebangganofan para guru dan disayangi teman-teman. Coba tanya penjuru kelas 11 tidak ada satupun yang tidak kenal padanya. Dikenal dengan berbagai julukan, si rajin, si lugu, si baik, si pandai. Rasanya semua kebaikan ada pada anak itu. Bak malaikat ia juga memiliki senyum yang indah, siapapun yang melihatnya akan ikut merasa bahagia.
"Yang nanti ngerjain tugas bareng ya? Gue ga ngerti," tanya Haechan. Teman sekelas Yangyang. Sahabat sih lebih tepatnya. Seseorang yang pertama kali ia kenal dibangku SMA dan sudah sangat akrab dengannya.
"Boleh ayok. Sama Renjun juga kan?"
"Iya lah ya kali gua ga ikut," sambung Renjun. Bisa apa dia tanpa Yangyang apalagi dengan tugas bahasa jerman yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Di rumah Yangyang kuy kali-kali," tawar Haechan.
Yangyang mendengarnya hanya gugup "Um... jangan dirumah aku dong."
Yangyang bukan anak yang bisa menggunakan bahasa gue lo seperti yang lain. Bukan karena tidak dibiasakan namun ia pernah mencoba dan orang lain pikir itu aneh, dia juga nerpikir seperti itu. Akhirnya mereka menerimanya. Lagipula bahasa bukan hal yang perlu dipermasalahkan.
"Sekali-kali dirumah lo. Gak pernah kita main kesana, ya gak Jun?"
"Renjun anjir!! Jun mah artis," kesal Renjun.
"Tapi rumahku--"
"Dah ah nanti gue beli MCD lu gausah suguhin apa-apa dirumah."
"Sok kaya banget Haechan."
"Lah? Emang gue kaya!"
Keributan itu dihiraukan oleh Yangyang. Ia masih berpikir diam membayangkan bagaimana jadinya jika mereka masuk ke rumah, Namun tangan Renjun sudah lebih dulu menariknya untuk keluar kelas. Padahal ia mau menjelaskan.
"Buruan ga tahan gue laper mau di traktir orang kaya."
Yangyang hanya pasrah ketika tangannya di tarik paksa oleh Renjun. Dalam hati merutiki kebodohannya yang menurut saja dengan mereka.
¤
Mobil Haechan terparkir sempurna di depan gerbang rumah kawasan elit. Haechan terdiam baru tahu bahwa kawannya tinggal disini. Pasalnya Yangyang bukan anak mencolok yang terlihat seperti orang-orang kaya dengan harta. Ia sederhana dan cenderung biasa saja.
"Yang kok gabilang rumah lu segede stadium."
"Stadion Haechan astaga."
"Lah bukannya stadium ya?"
Renjun hanya memutar bola matanya malas. Mending ia memandang wajah imut Yangyang yang sedari tadi diam.
"Temen lo gajelas banget Yang."
"Lah bukannya itu temen kamu ya?" Sambil tertawa ia keluar mobil. Disusul mereka berdua.
Ia berdiri membuang napas kasar dan membuka gerbang rumahnya. Mempersilahkan mobik Haechan untuk masuk lalu berjalan menyusul mereka.
Langkahnya diam ketika sampai diambang pintu. Tangan Yangyang menggenggam erat gagang pintu yang besar. Ia menarik nafasnya dalam lalu membuka pintu perlahan.
"Assalamualaikum.."
Kakinya perlahan masuk.
"Yang ini rumah lo anjir jangan kaya maling ngendep-ngendep," protes Haechan.
YOU ARE READING
Strong Kid | Yangyang Brothership
FanfictionYangyang. Sang lelaki penabur cinta namun dirinya sendiri tandus.
