SAHABATKU OBAT JIWA
(EPISODE : 1)
Oleh:Rahma_Abu
Diujung trotoar tua, diperbatasan kota. Berdiri dua sejoli perempuan, sisi kanan bahunya erat terjuntai tas ransel navi dan hijau muda. Seakan lenyap pandangannya usai keluar dari ujung lorong makam pahlawan provinsi, Sulawesi Tenggara. Terlihat betul kaki mereka melangkah penuh semangat, kendaraan roda dua dan empat, ikut senyam oleh tawa mereka. Memang mereka sahabat, hampir lima tahun sudah. Dua perempuan desa yang disatukan oleh jurusan sama, serta organisasi yang mereka masuki.
“ aku bingung dengan isi kepalaku sendiri, dimarginalkan tanpa ada satupun yang pasti”
Malam hampir saja dipenghujung hari, pukul 21:30 WITA, kedua sahabat itu masih bertutur dengan bahu jalan kecamatan Baruga. Seharian sudah mereka berdua. mencicipi pahitnya hidup dikota.
“kamu plin-plan le, tidak konsisten dengan tujuan hidupmu sendiri” balas sahabatnya.
Luar biasa! Aku juga berusaha sekuat-kuatnya bisa percaya dengan misi hidupku, tapi karena beban keluarga dan tugas organisasi yang terus merongrong menyempitkan isi kepala, maka yang bisa kulakukan adalah memahami sakitku. Itu adalah sekadar menggumam bahwa mungkin takdirku adalah begini,
Hampir sejam mereka beradu kata, tiba-tiba teringat dengan istilah
“manusia kuat adalah aku”. Terdengar sombong tapi bermakna.
"Konsekuensi dari semua sakit yang menderamu, adalah titipan tuhan untuk mendewasakan." Ucap makhluk bumi sebagai penguatan katanya. Akupun memerkarakan banyak hal dalam hidupku. palsunya kasih sayang, anehnya keluarga, menipunya persaudaraan, juga bobroknya akhlak. Sampai detik ini aku bingung dengan manusia dan akalnya.
Aku tak lagi mengimani cinta, atau apalah yang menyangkut tentang kebersamaan. Sementara sahabatnya itu terus memerdekakannya dengan kalimat
“kamu tidak yakin aku sahabatmu?” jawabnya
Sambung hatiku:
“apakah aku harus percaya?” “pembuktiannya apakah cukup”
Karena rendah maka aku tidak beriman kasih sayang, aku jalani apa yang ada saat ini, aku dan kamu adalah sahabat, besok adalah rahasia Ilahi.
Persahabatan seperti kita tidak bisa lagi lepas, tak lagi bisa keluar. Dan kau dengan sekuat-kuatnya yang kau bisa berusaha meyakinkanku
“bahwa tidak semua manusia bangsat”.
Kau berani mendeskripsikan itu tepat ditelinga kananku saat itu, termasuk soal-soal kau akan setia padaku bersahabat sampai kapanpun. Dan dianggap sesuatu yang laur biasa. Kau memang berani, juga tentu sangat nekat.
Bersambung......
