Tuan menyapa di bulan Desember kala wabah sedang merambah negeri saya.
Tuan dari planet sebelah.
Tuan yang kikuk dan tak tahu arah, bagai gembala kehilangan domba.
Tuan tidak bisa menyapa duluan, jadi saya yang harus membuka langkah.
Waktu itu, saya ingat Tuan mengenakan pakaian abu-abu dengan rambut berantakan dan ikat kepala usang. Tuan menaiki kendaraan planet lain yang berwarna kuning terang.
Maaf, waktu itu saya hampir tertawa.
Hei! Ternyata Tuan tidak semenyeramkan rupa yang terpantul di bingkai kornea mata saya.
Tuan asik diajak bercanda dan bicara tentang segala hal tidak penting yang akhirnya menjadi penting.
Tetapi sayangnya Tuan tidak berkata jangan! pada saya yang tidak bisa berhenti melangkah.
Saya masuk terlalu dalam. Hingga lupa caranya pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seorang Tuan dari Planet Sebelah
AcakTuan adalah impian, dan saya adalah nona yang ingin menggenggam Tuan
