Last October

39 7 4
                                        

"Jadi bersediakah engkau untukku pandu mengelilingi istana dan mengunjungi Putri, tuan?"

.
.

Malam ini langit begitu kelam. Padahal ini belum tengah malam. Tapi Istana Valencia, tepatnya sang raja, Jack Sangpotirat sudah membunyikan bel. Gun yang masih setengah tidur membuka jendela kamarnya, hawa dingin dan air hujan tipis-tipis berhamburan masuk lewat jendela, menempel pada kulit halus wajahnya.

Gun mendongak keluar jendela, menyipitkan mata untuk melihat apa yang terjadi di istana. Walau kamar Gun berada di lantai dua, tetap saja yang bisa ia lihat hanyalah lonceng raksasa yang berada di puncak bangunan tertinggi di Valencia; atap istana itu sendiri.

Samar-samar terdengar derapan kuda dan deritan kereta yang berlalu lalang. Pasti kurir istana. Tidak cuma satu, bahkan lebih dari lima. Salah satunya ada yang berhenti persis di depan rumah Gun.

"Biar aku yang ambil!" Teriak Gun pada ibunya yang sedang membuka pintu dibawah.  Dia berlari sekencang mungkin, menuruni anak tangga yang tak seberapa namun napasnya terengah saat ia sudah sampai didepan si kurir.

"Jangan buru-buru seperti itu Gun, kau harus bersikap manis didepan keluarga kerajaan"

Kurir dan kusir itu saling berbagi tatap. Yah mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa menyalahkan celotehan ibunya Gun. Tidak benar memang, tapi tak salah juga.

"Raja mengundang setiap remaja Valencia untuk menghadiri lamaran Pangeran Krist.. dan Putri Jane- huh?! Sudah mau menikah??" Gun terkaget.

"Masih lamaran, tuan. Putri dan Pangeran masih sangat muda untuk itu" Kurir itu mengangkat alis.

"18 dan 20 tahun. Mereka sudah mapan. Lagi pula, Jane selalu cerita padaku kalau dia menyukai Krist dari kecil" Gun sibuk membaca surat. Tidak sadar bahwa kurir itu menertawakannya dalam diam.

"Oh? Aku harus kirim kartu nama ku ke istana juga? Kapan batas waktunya?"

"Mungkin tengah malam tuan, tapi jika berkenan untuk menulis cepat, kau bisa menitipkannya pada kami" kurir itu menawarkan.

Tapi Gun menolak, "silahkan cepat pergi, ku lihat masih banyak surat yang belum kau kirim. Aku akan kirimkan kartu namaku ke pos kerajaan sendiri!" Dengan angkuh, Gun menutup pintu rumahnya sekencang mungkin.

Dia pikir dia harus latihan untuk bertemu Jane- uh maksudnya Putri Jane nanti.

"Ada apa Gun?" Ibunya keluar kamar.

"Sepertinya, Jane akan menikah bu. Setiap remaja Valencia diundang loh bu, aku harus mengirimkan kartu namaku untuk daftar sebagai tamu. Aku akan ke istana sekarang, sekalian akan memberikan selamat kepada mereka jika sempat bertemu. Pestanya besok. Aku sudah tak sabar" Gun berlari kesana kemari untuk mengambil baju dan jaketnya yang masih baru.

"Aku cocok, tidak bu?"

Ibunya masih dalam keadaan terkejut, bibir nya baru saja ia katup. "Kau cocok nak. Nanti jika bertemu, kirim salam ku untuknya ya. Jangan lupa!"

Gun mengangguk dan memeluk ibunya sebelum pergi ke istana. Mata ibunya menghangat, mengeluarkan cairan bening sebagai bukti bahagia.

Night Of December [OFFGUN]Stories to obsess over. Discover now