Hari itu adalah hari pertamaku bertemu dengannya setelah 3 hari sebelumnya kami bertengkar. Sudah lama sejak terakhir kali kami bertengkar, kalau tidak salah 3 bulan yang lalu. Kami bertengkar karena masalah kecil jadi tidak butuh waktu lama berbaikan.
Pukul 22.15 aku berangkat menjemputnya pulang kerja, aku berangkat lebih lambat dari biasanya. Aku mengendarai motorku ditemani gerimis yang disisakan oleh hujan yang sebelumnya mengguyur. Malam sudah larut, dinginnya hujan membuat orang-orang tidak keluar dari rumah sehingga jalan menjadi tambah sepi, hanya aku dan motorku yang melintas.
Aku sampai, dia terlihat sudah berdiri diluar rumah makan tempatnya bekerja. Saat itu aku merasa senang melihatnya karena sudah 3 hari tidak melihatnya, saking senangnya aku tidak bisa menahan wajahku untuk tersenyum lebar. Dia melihatku dan langsung menghampiriku lalu naik ke motorku.
"Nggak pakai mantel dulu?" Tanyaku.
"Nggak usah," Ungkapnya singkat.
"Gerimisnya agak deres lho, tetep basah ini kalau sampai rumah! Yakin nggak pakai mantel?" Tanyaku sekali lagi.
"Iya."
Dia adalah orang yang keras kepala, jadi aku menyalakan motorku lalu kami berangkat.
Waktu itu perjalanan terasa sangat sepi, selain karena tidak ada kendaraan lain yang melintas kami juga tidak berbicang. Mungkin dia masih merasa canggung setelah bertengkar denganku, jadi saat itu untuk mencairkan suasana aku memulai pembicaraan dengan bertanya padanya.
"Udah nunggu lama tadi?" Tanyaku.
"Nggak," ucapnya singkat.
"Maaf kalau tadi telat, aku sengaja nelat sih hehe ... soalnya hujan. Pikirku kalau berangkat kayak biasanya nanti sampai sana harus nunggu dulu, daripada nunggu sambil hujan-hujanan" ucapku berusaha membuat percakapan tetap berlanjut.
"Hm ... iya gakpapa" ucapnya singkat lagi.
Mungkin dia masih marah atau mungkin dia marah karena aku telat menjemputya. Karena aku berpikir dia marah jadi saat itu aku tidak berusaha lagi membuka percapakan.
Setelah berbelok di pertigaan dekat rumahnya akhirnya dia mengajak bicara, tapi itu akan menjadi awal dari sebuah pembicaraan yang tidak pernah ingin aku dengar.
"Mas." Dia memanggilku pelan.
"Iya," Ucapku.
"Mas ... makasih ya udah jemput tiap malam, kadang sampe kehujanan," Ucapnya pelan.
Dengan nada bercanda aku mengatakan, " Makasih doang nih? Bayarannya mana? Rugi dong aku jadi ojek cuma dibayar makasih."
"Mm ... mas kayaknya ini terakhir kalinya aku pulang bareng kamu," ucapnya pelan dan agak lambat
Aku masih merespon dengan candaan, "Lah ... dimintain bayaran langsung bilang ini yang terakhir."
"Iya mas ... maaf ya ... aku rasa kita udah saatnya putus," ucapnya.
Aku merasa seperti disambar petir saat itu, padahal tidak ada petir yang menyambar meski keadaan gerimis. Aku merasa sangat kaget mendengar ucapannya.
"Ha? Bentar ... bentar lagi kita sampai ... kita lanjut lagi nanti di chat ya ...." ucapku kaget.
Dia hanya diam sampai kami tiba didepan gerbang rumahnya. Dia langsung turun dan berdiri sebentar sambil memandangku dengan tanpa ekspresi lalu berkata padaku.
"Makasih mas ... ati-ati ya dijalan." Ucapnya lalu langsung masuk meninggalkanku.
Beberapa saat aku masih terdiam diatas motorku dengan perasaan kaget dan tidak percaya bahwa aku diputuskan disaat mengantarnya pulang. Gerimis berubah menjadi hujan membuatku tersadar aku harus segera menyalakan motorku dan pergi dari sana. Beberapa saat setelah aku pergi aku melihat kembali pagar rumahnya melalui spion motorku, aku teringat biasanya dia menungguku tak terlihat karena berbelok. Mengingat hal itu aku merasa semakin sedih.
Itulah yang aku dapat setelah 3 hari tidak bertemu dengannya karena bertengkar. Perasaan senang dan rindu ketika berangkat berubah menjadi perasaan sedih dan terkejut ketika pulang. Ditemani hujan aku pulang dengan hati yang patah.
YOU ARE READING
when the raindrops fall
RomanceHujan selalu membawa kenangan, salah satunya kenangan saat aku terakhir kali menjemputnya pulang kerja. Saat itulah aku diputuskan, dan saat itu pula hujan sedang turun.
