#1.

22 1 0
                                        

MULA


    “Fa!, tembusin Gn.Selamet yuk!”, ucap teman saya yang biasa di sapa Andi.
“Ayu tapi mau kapan? Jangan di waktu weekdays ya”, ucap saya dengan nada notasi semangat.

Waktu itu pukul tujuh di pagi yang sedikit buta dan rindu tertata pada mata tertatap.
Seperti biasa sebelum berangkat sekolah saya dan teman-teman saya nongkrong dulu di temani filter dan kopi,  dengan sedikit obrolan tentang pendakian gn.selamet dan yang paling dinanti para perempuan berangkat sekolah, hehhehe.

   Setelah beberapa obrolan akhirnya kami sepakat untuk mendaki pada tanggal 17 maret 2019 dihari Jum’at. Akhirnya yang kami tunggu-tunggu pun datang sebelum hari-H, kami berdua mempersiapkan matang-matang mulai dari alat pendakian, logistik hingga tiket bus.

    Ke-esokan harinya pukul 16:30 saya dan teman saya sudah stay di terminal jati jajar, waktu itu cuaca sangat cerah seakan akan semesta memberi kabar baik.

     Setelah lamanya menunggu akhirnya tiba bis untuk perjalanan terminal bobot sari, dan pukul tujuh belas lewat 25 akhirnya kita berangkat,  setelah lamanya berjam-jam perjalan hingga 8 jam lamanya akhirnya-pun sampai juga di terminal bobot sari, setelah itu kawan saya mulai menghubungi setter pick-up untuk menuju base camp bambangan. Setelah berapa  waktu perjalanan menuju base camp, akhirnya kita sampai.

    Gunung Selamet merupakan salah satu gunung berapi aktif di indonesia. Dengan gunung tertinggi di jawa tengah, biasa para pendaki menyebutnya atap negri jateng, yang berketinggian 3.428 mdpl.

    Setelah brifing, istirahat, makan dan sebagainya akhirnya kami memutuskan untuk mendaki setelah sholat jum’at, setelah berapa jam kemudian kami mendapatkan info dari BMKG bahwa Gn.Selamet erupsi.

“Akhhh... ucap saya dalam hati” dengan tatapan kosong seolah-olah ini hanya candaan para pendaki, dan benar saja Gunung yg begitu indah nan anggun di depan mata tergagalkan oleh erupsi.

      Setelah ini kami berdua-pun hanya terdiam sambil menerima kenyataan pahitnya. Benar saja yang sebenarnya kita taklukan itu bukan hanya puncak melain kan ambisi dan ego kita sendiri.

“Mas...!” Ucap salah seseorang dari kejauhan sambil menghampiri saya, 

“Iya kenapa mas?” Balas saya dengan nada rendah sambil memagang sebatang kretek.

    Lalu kita pun berjabat tangan seraya perkenalan dan lainnya mulai dari nama hingga tempat tinggal pun menjadi pertanyaan, setelah lamanya mengobrol hingga tak terasa rokok habis sebungkus hingga kopi pun yang terasa hanya ampasnya saja.

  “punya haluan ke gunung lain ga bang afa?” Ucap teman baru kami sebut saja bang adit.

   “belum tau bang adit” balas saya, “ke sindoro aja ayu” kata andi yang asal selonong boy menyelak obrolan saya dengan bang adit. 
 
   “wah bisa tuh” ucapnya teman bang adit sebut saja bang andri. Setelah di pikir matang-matang kami ber empat pun sepakat untuk haluan mendaki Gunung sindoro.

MENGARTEHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin