Nakisha diandra dan hujan adalah satu dari banyak hal yang terus dipertemukan walau sang puan sangat membencinya, menurutnya hujan menghambat banyak kepentingan, membuat orang harus berhenti dan menepi hanya untuk berteduh karena tidak mau kebasahan, ditambah lagi tanah yang kian melembab karena kadar air yang berlebih
seperti saat ini, ia tengah berada disebuah mobil yang dirinya pesan lewat aplikasi online yang sedang melaju dibawah hujan yang tengah mengguyur seluruh kota menuju suatu tempat yang kini tengah mengisi seluruh pikirannya, kakinya terus bergerak tak henti, kakinya terus bergerak gelisah sampai akhirnya mobil avanza putih itu berhenti didepan sebuah bangunan putih yang berdiri kokoh dengan gerbang hitam tinggi yang melindungi batas wilayahnya
Tanpa memedulikan guyuran hujan yang masih membasahi, sang puan melangkahkan kakinya keluar dan bergegas untuk masuk ke bangunan putih tersebut usai memberikan biaya ongkos kepada sang supir
"Narendra dimana?" tanyanya begitu pintu utama terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya yang kini juga tengah menatapnya
"aden ada diat--" belum selesai mendengar kalimat yang masih rumpang, daksa sang puan berlari lebih dulu ke arah atas dan membuka sebuah ruangan tanpa mengetuknya terlebih dahulu, menampakkan sesosok pria yang kini tengah terbaring lemas diranjangnya
Tanpa ingin berlama-lama, ia melepaskan tas selempangnya, menaruhnya di ujung ranjang lalu turun kebawah guna mengambil kompresan untuk Narendra
"ini non sudah bibi ambilkan" ujar wanita paruh baya yang kembali ia temui diujung tangga
"Terimakasih bi, maaf tadi langsung memotong" jawabnya sambil menerima nampan berisi kompresan itu
" tidak apa non, saya paham kok, saya lanjut masak bubur dulu ya biar si aden bisa langsung makan kalau sudah bangun"
"Iya bi.. sekali lagi terima kasih banyak ya, saya juga mau kompresin naren dulu"
"Baik non"
keduanya kembali dengan kesibukan masing-masing, Nakisha masih setia mengompres dengan sabar walau sesekali si pria bergerak gelisah dalam tidurnya dan membuat air kompresan yang masih terasa agak panas itu mengenai pergelangan tangannya membuat bekas merah menjejak dengan jelas
"mama.. mama kemanaaa, ma jangan tinggalin naren .." sang adam bahkan berbicara dalam tidurnya
"ma.. mamaaaa" teriaknya, nafasnya memburu, ia terbangun dari tidurnya membuat handuk kompres terbuang kearah perempuan yang sedari tadi setia menunggu kesadarannya
"naren.. hei, kamu kenapa?"
"l-lo ngapain disini?"
" aku?nungguin kamu sadar, tadi bibi nelfon katanya kamu sakit"
"gue enggak sakit" sanggahnya
"kamu iya"
enggan menjawab sang gadis, Narendra malah mengambil ponselnya diatas nakas, jarinya bergerak mengetik sesuatu, sepertinya ia tengah mengirim pesan pada seseorang
"Kamu hubungin siapa?"
"Karina"
"tapi buat apa? kan ada aku disini, buat apa kamu nelfon dia?"
"gue gak mau di urusin sama lo, biar karina aja yang ngurus gue"
"tap--"
"mending lo keluar, habis ini karina datang, biarin dia yang ngerawat gue"
"Narendra.. Nakisha diandra ini masih pacar kamu kalo kamu lupa"
Ya betul sang puan ialah Nakisha diandra, kekasih dari lelaki bernama Narendra Alega yang kini hubungannya sudah berusia sekitar 3 tahun, Nakisha ialah seorang dokter psikologi di sebuah rumah sakit sedangkan Narendra adalah seorang yang tekun menjalani hari-harinya sebagai pengurus bisnis keluarga.
sedangkan Karina? jika kalian bertanya tentang siapa itu Karina maka jawabannya adalah sahabat Narendra sejak kecil, gadis dengan nama lengkap Katarina aleandra itu bertemu dengan Narendra untuk pertama kalinya ketika keduanya memasuki taman kanak-kanak, sifat keduanya yang bertolak belakang membuat keduanya kesulitan untuk bergaul diawal namun karena Karina yang selalu penuh semangat, Narendra jadi terbiasa dengan gadis itu
Ditambah lagi semenjak Narendra mengetahui bahwa sahabat perempuannya itu mengidap penyakit jantung bawaan, yang membuatnya lebih memperhatikan dan berpikir bahwa ia harus selalu melindungi gadis itu
"Yaudah aku pulang aja kalo itu yang kamu mau, tapi kamu janji harus sembuh" sang gadis mengalah, tak ingin berdebat karena mengingat kondisi prianya yang belum pulih,
Nakisha mengambil tas selempangnya lalu beranjak keluar dari kamar Narendra , ia tersenyum simpul walau sebenarnya dadanya terasa sesak karena perlakuan sang adam, ia sempat bertemu dengan sang Art yang ingin mengantarkan bubur pada sang tuan
"Loh non kisha kok sudah mau pulang? masih hujan loh diluar?" Tanya sang Art
" iya bi, gapapa" jawabnya sambil tersenyum, mulutnya berujar demikian namun netranya memandang derasnya hujan dibalik jendela kaca di sudut ruangan dengan harapan untuk memintanya berhenti barang sebentar
"si aden ya non?" pertanyaan dari sang ART lagi-lagi menarik atensi sang gadis
"engga kok bi, udah-udah mending bibi anterin buburnya ke Narendra, anaknya udah bangun tuh di dalam, kasian kalo nunggu" ujarnya guna menghindari pertanyaan-pertanyaan lainnya
"baik deh non kalo gitu, hati-hati di jalan ya" selepas berujar demikian, keduanya pun kembali pada kesibukannya masing-masing
Tanpa ingin berlama-lama lagi, nakisha membawa langkahnya keluar dari rumah itu, lagi-lagi ia tak memedulikan curahan hujan yang kian membuatnya basah kuyup, langkahnya terhenti pada sebuah taman kecil yang berada di komplek itu, ia berlari dan mendudukan daksanya pada bangku taman, sesak memenuhi dadanya, rentetan kalimat angkuh nan menyakitkan yang keluar dari mulut Narendra, terngiang jelas bak sebuah radio rusak yang terus menghantuinya
Bahkan kali ini semesta seakan ikut menertawainya, gaun putih yang dipakainya kini sudah lusuh, penampilannya pun urak-urakan, lagi-lagi hujan menyaksikan Nakisha dengan keterpurukannya, dan untuk kesekian kalinya hujan membuat gadis itu jauh lebih membencinya.
YOU ARE READING
gatau
RomanceTentang perasaan yang tak kunjung mereda meski kamu tau penawarnya -audi
