"Kamu mau kemana?" Ilma menoleh dengan senyum hangat. Mia, sahabatnya selama empat tahun ini menaikkan alis, bertanya dengan gaya bicara ketus seperti biasanya.
Sambil menggeret koper sedang berwarna Baby Blue miliknya, Ilma menimpali pertanyaan Mia dengan jenaka, "Mau pulang ke Sumsel, mau nikah."
"Ilma Wagiya! Aku serius!" geram Mia menghalangi langkah sahabatnya itu ke pintu utama kos-kosan.
"Lah? Aku juga serius!" timpal Ilma menyingkirkan tubuh kurus Mia, di depan pagar sebuah taksi telah terparkir sejak lima menit lalu.
"Kiamat dunia ini, Ma! Kalau kamu sampai suka rela nikah gini!"
Ilma memutar bola matanya, "Lebay!"
Setelah memberikan kopernya pada supir taksi, Ilma berbalik pada Mia yang bersandar di gerbang kosan, ia memeluk sahabatnya itu tulus.
"Aku mau jemput Ayah sama Bunda di desa, buat ngehadirin wisuda bulan depan." cakap Ilma setengah hati, "Doain aja aku enggak di nikahin beneran, ayahku udah rewel banget. Katanya aku bakal jadi perawan tua kalau enggak nikah tahun ini." lanjutnya sewot.
"Ya, ya! Kalau kamu di jodohin sama om-om di sana telpon aja aku, entar aku minta bantuan anak-anak fakultas nuklir buat bom desa kamu itu." timpal Mia menggebu.
Sudah menjadi konsumsi teman-temannya, bahwa Ilma Wagiya yang baru berumur dua puluh satu tahun lebih telah di beri predikat perawan tua di kampung halamannya. Padahal, bulan depan Ilma baru akan melaksanakan wisuda S1 setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran umum, baru setengah jalan.
Bagaimana pun juga, Ilma telah bertekad meminta penangguhan ayahnya untuk melanjutkan pendidikan spesialis selama empat tahun ke depan.
"Tenang aja, kalau sampai terjadi, om-omnya aku suntik mati duluan," tukasnya sambil terkekeh.
Mia dengan wajah pias memegang tangan Ilma yang tertutup cardigan rajut berwarna senada kopernya sejenak. "Ma." panggilnya ragu.
Wanita dengan kerudung hitam yang ingin memasuki taksi itu berhenti lagi.
"Masih ada laki-laki baik di dunia ini, itu pasti." pesan Mia pada Ilma dengan taburan makna.
Ilma menatap dalam Mia yang mencepol rambutnya asal, sahabatnya tetap cantik walau hanya menggunakan kaos oversize polos dan celana training bergaris. "Hm, mungkin."
"Aku pergi, ya," pamit Ilma pendek.
"Hati-hati."
Mia memandang nanar taksi berwarna biru yang semakin menjauh, ia tahu pasti mengapa sahabatnya itu sangat membenci pernikahan.
Kasus kekerasan rumah tangga dan susahnya wanita menjalankan pernikahan yang ia lihat saat kanak-kanak begitu membekas dalam ingatan Ilma.
Membuatnya sangat problematik terhadap pernikahan dan laki-laki.
***
Ilma mengusap hijabnya yang agak kusut setelah beberapa jam berada di udara, perjalanan lintas pulau Jogjakarta dan Sumatra Selatan cukup menguras tenaga walau panjang waktu telah terpangkas banyak oleh kecepatan burung besi yang ia tumpangi di udara.
Rok plisket hitam serta cardingan rajut baby blue dengan panjang setengah paha yang menutup tubuhnya juga sudah tampak lecek.
Melalui dinding bangunan bandara yang banyak terbuat dari kaca, Ilma bisa melihat dengan jelas semburat awan yang menjingga. Di ufuk barat sana, lengkung indah dengan cahaya menyilaukan perlahan turun ke peraduan.
"Ilma?" seorang pria dengan perawakan tegas namun lembut memanggil Ilma dari arah belakang, sang wanita yang masih menikmati senja sejak tadi menoleh, ia mengulas senyum ramah.
YOU ARE READING
Love Pattern
RomanceIlma Wagiya punya pandangan buruk tentang pernikahan. Ia merasa pernikahan hanya cara masyarakat memperbudak wanita di bawah kaki pria. hal itu karena saat masih kanak-kanak ia kerap kali melihat kekerasan dalam rumah tangga juga ketidakadilan hak d...
