Ini adalah perjalanan pertama bagi livia juga merupakan perjalanan terjauhnya, harusnya di ulang tahunnya yang ke 19, Minggu depan dia bisa merayakan bersama kedua orang tuanya,tapi takdir yang Livia miliki berkata lain
Tepat satu Minggu yang lalu ayah dan ibunya harus meninggalkan dirinya karena sebuah kecelakaan,
Yah dan disinilah dirinya sekarang berdiri di tanah Alaska, kota paling lembab di ujung Amerika
16:50 Alaska air port
Livia menenteng tas ransel nya, satu tangannya dia gunakan untuk menarik koper kecil miliknya, disebelahnya ada bibi Riana yang menemaninya sambil menelepon taksi
Saat keluar dari air port, Livia disambut dengan rintik hujan satu-satunya yang disukai Livia dari Alaska hanyalah suhu rendah dari kota itu dan Alaska merupakan tanah kelahiran dari ibunya tercinta
bibi Riana segera memanggil taksi yang sudah dia pesan dan segera memasukkan barang mereka ke bagasi dan mereka pun melaju di jalanan kota Alaska
"Liv,apa kau lelah?"
Bibi Riana bertanya kepada Livia yang sedari tadi melihat kearah luar jendela
"Aku hanya sedikit mengantuk bibi"
"Bersabarlah beberapa jam lagi kita akan sampai,kita akan tinggal di rumah peninggalan nenek"
Livia hanya membalas perkataan bibinya dengan sebuah anggukan kecil
Sebenarnya jika disuruh memilih, Livia enggan untuk merepotkan bibinya bagaimana pun bibinya juga pasti punya kehidupan nya sendiri,yah walaupun bibinya belum juga memiliki seorang pendamping hidup sampai di usianya yang ke 30 tahun
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Livia sampai juga di rumah peninggalan nenek nya,
Seorang pelayan yang cukup tua sudah menanti mereka di depan rumah
"Selamat datang kembali,saya sudah merindukan nyonya muda"
Livia menjabat tangan pelayanan itu dan tersenyum menanggapi perkataan pelayanan tua itu,
Pertama kali bagi livia untuk melihat rumah milik neneknya yang tidak terlalu besar tapi terlihat sedikit bernuansa abad pertengahan dan Livia menyukai itu ditambah lagi rumah neneknya berada cukup dekat dengan area hutan bebas,
"Liv..Livia ayo kita masuk ke dalam di luar sudah mulai dingin"
"Ahh baik bibi"
Bibi Riana menunjukkan kamar Livia yang berada di lantai dua dan Livia sangat menyukainya bagaimana tidak, jendela kamarnya menghadap langsung ke hutan yang pohonnya begitu rimbun
"Baiklah, sekarang kau istirahatlah dan saat kau lapar kau bisa langsung turun kebawah di meja makan selalu ada makanan yang tersedia"
"Baiklah bibi"
Livia segera membereskan barang bawaannya,benda pertama yang Livia ambil adalah pigura keluarga nya,foto dirinya dan kedua orang tuanya di saat perayaan ulang tahunnya tahun lalu Livia berbaring di tempat tidur nya sambil memeluk figura itu dengan erat,
rasanya baru kemarin dia dan orang tua nya makan bersama di rumah sambil bercanda,tapi sekarang mereka sudah terbaring tak bernyawa di pusaranya
Air mata Livia mengalir dari pelupuk matanya
"Ayah,ibu aku merindukan kalian"
Livia pun jatuh tertidur dalam kenangan akan orang tuanya
****
Saat Livia bangun dia melihat kearah jam dan rupanya ini sudah pukul 06:00 sepertinya dia tertidur sangat lama
Livia menaruh figura tersebut di atas meja dan berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajah nya,dia melihat dirinya di dalam cermin dan menyemangati dirinya
"Ayo Livia margin kau pasti bisa menghadapi ini semua"
Kemudian bergegas ke bawah untuk mencari makan karena sekarang dia merasa sangat kelaparan
Livia sampai dimeja makan dan sudah menemukan pelayan tua yang sedang menyiapkan sarapan pagi
"Nyonya muda mau sarapan, silahkan saya akan menghidangkannya"
Livia sepertinya Merasa tidak enak jika terus dipanggil nyonya muda
"Nenek tidak perlu memanggil ku nyonya,itu terdengar tidak enak ditelinga ku"
"Baiklah,lalu saya akan manggil nyonya dengan sebutan apa?"
"Panggil saja Livia atau Livi"
Livia berujar sambil menyeruput secangkir susu hangat
Kemudian mereka mengobrol dengan Santai
"Oh iya nek,apa bibi belum bangun"
"Sepertinya nyonya akan segera turun"
Livia menaggapi dengan menggangguk sambil memakan Pai strawberry yang lembut
Tidak lama bibi Raina turun hanya dengan menggunakan piama tidur dan rol rambut yang masih menempel
"Hoammm, selamat pagi semua"
"Pagi juga bi"
Bibi Riana segera bergabung dengan Livia di meja makan, dihadapannya telah tersedia secangkir kopi dan sepotong pie
"Apa tidurmu nyenyak.liv"
"Yah sangat nyenyak bi , mungkin karena aku terlalu capek karena perjalanan yang cukup jauh"
"Apakah ingin ikut bibi berbelanja keperluan rumah? dan juga kau pasti harus membeli keperluan untuk dirimu"
Livia segera mengangguk antusias
"Tentu saja,aku harus membeli beberapa barang"
dan disinilah Livia di swalayan yang cukup besar yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal jika dihitung mungkin hanya beberapa km saja
Livia sedang memilih beberapa barang sampai dia melihat jika,
Tidak jauh dari tempatnya berdiri ada seorang pria aneh dengan tatto yang memenuhi lengan bawahnya dan lehernya sedang menatapnya dengan tajam
Livia merasa ketakutan dengan tatapan pria itu dan bergegas mencari bibinya,saat dia menoleh ke arah pria itu dia sudah tidak ada disana
Dan itu membuatnya semakin merasa takut sampai-sampai tangannya berkeringat
"Ya Tuhan apa dia itu seorang penculik,dimana bibi Riana sekarang kenapa aku tidak melihatnya"
Livia sibuk mencari bibinya, sampai seorang pria menariknya dan menghimpit tubuhnya di balik rak
"Akhhhh"
Pria itu membekap mulut Livia dan mengendus aroma livia
********
Cerita baru aku yahhh judulnya the Luna 😁😁😁😁
Jangan lupa kalo habis baca kasih ⭐⭐⭐dan komentar nya😘😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
the Luna (On Going)
WerewolfLivia margin yang baru saja tiba di Alaska mengikuti sang bibi ,harus mendapati sebuah kenyataan yang mengejutkan dari seorang pria asing bernama Dominic Toretto Livia -apakah dia baru saja mengendus ku? Dominic -aromanya membuatku ingin menerkamnya...
