01.

0 0 0
                                        

senyum tercetak jelas di wajah cantik milik kalaina ketika mobil yang dikendarai oleh papanya berhenti di depan rumah yang terasa sangat familiar.

rumah yang sukses membangkitkan memori masa kecilnya. rumah yang selalu menemaninya melewati masa-masa terindah dalam hidupnya.

rumah yang mengingatkan dirinya akan sosok yang sangat berarti bagi kehidupannya.

"permisi, tuan putri." ujar sang papa yang sedang menarik koper bawaan mereka, diikuti oleh anak bungsunya, sekaligus adik laki-laki kalaina, kiel namanya.

kedua lelaki yang berada di keluarga kecil itu memimpin jalan masuk mereka ke dalam rumah yang sudah lama sekali mereka tinggal.

kalaina sedikit tertegun dengan interior rumah yang sama sekali tidak berubah, semakin membuat dirinya bersemangat.

sudah lama sekali ya,

"kangen ya?" tanya sang mama kepada putri sulungnya, lebih ke arah menggoda, mengundang tawa salting dari kalaina. "kangen lah sama rumahnya. masih gak berubah."

"sama yang itu nggak?" mama melirik ke arah cincin yang telah dijadikan liontin oleh gadis itu karena ukuran jarinya yang sudah membesar dari terakhir ia diberikan cincin itu.

"ya, kangen juga sih. kan udah lama nggak ketemu. tapi entah dia masih inget sama kala atau nggak."

sang mama hanya tersenyum pada putrinya, tidak sanggup membalas perkataannya dan menyatakan apa yang sebenarnya terjadi.

belum saatnya, batin wanita itu.

"hei, gadis-gadis, gak ada yang mau bantuin nih? diliatin doang?" seru sang papa yang sibuk memindahkan barang bawaan mereka. tidak banyak sebenarnya, tapi tetap saja merepotkan jika hanya empat tangan yang bekerja.

kedua gadis yang disebut tertawa sebelum membantu membereskan semuanya.

tak terasa waktu sudah sore ketika semuanya sudah beres, kini keempat anggota keluarga kecil itu sedang duduk bersama di sofa ruang tengah, ditemani dengan empat cangkir teh hangat di meja kecil di hadapan mereka.

"besok kalian udah bisa mulai sekolah. papa udah beresin semua pendaftarannya, tinggal masuk."

"eh? langsung nih? cepet banget, cape tau abis dua belas jam lebih di pesawat, masih jetlag juga nih." kalaina mengeluh pelan ke arah papanya yang asik menyesap tehnya.

"iya, biar ga ketinggalan, kamu kan udah kelas akhir, kala cantiknya papa."

"kalo gitu kiel boleh diundur dong? kan baru tahun pertama." kiel mengerjapkan kedua matanya penuh harap.

"ya, nggak dong. enak aja kamu. kamu juga bisa ketinggalan, udah sma." jawaban itu sukses membuat kalaina tertawa puas, menertawai adiknya yang gagal berbuat licik. tangannya mengacak rambut kiel dengan gemas.

"belajar aja yang rajin disini, okay?" kedua anaknya mengangguk patuh.

"oh ya, sabtu ini, alias lusa, kita diundang tante sarah buat acara makan malam bareng keluarganya." ujar sang mama dengan senyum lembutnya.

"sekalian ngasih undangan pernikahannya javier."

"wah, kak je beneran bakal nikah, ya? waktu jalan cepet banget."

"iya, haha, gak kerasa kan? rasanya baru kemaren papa nembak mama kalian di halte bus, tiba-tiba sekarang udah ada dua anak yang bahkan udah mau dewasa, udah hampir seumuran papa mama waktu masih pdkt."

"apalagi kiel, tingginya udah hampir nandingin papanya."

"bentar lagi bakal ngalahin papa." kiel mengeluarkan cengirannya.

forgottenStories to obsess over. Discover now