Cho Seungyoun, laki-laki tiga puluh empat tahun yang selalu tenang. Bak danau yang tak beriak dan tak berombak, dirinya selalu terlihat damai dan bersahaja. Wajah tampan nan rupawan menjadi faktor pendukung yang membuatnya jadi semakin memesona.
Siapa yang menolak untuk mematri pandangan dan terpaku pada sosoknya?
Tidak ada.
Pun seorang Lee Hangyul, bintang paling terang di industri musik hari ini.
Namun seperti segala sesuatu yang memiliki kecuali, pagi ini adalah pengecualian bagi tenang dalam diri seorang Cho Seungyoun. Sebab setelah potret dirinya tengah mengusak surai milik Lee Hangyul di parkiran basemen kediaman penyanyi muda itu tersebar begitu saja di dunia maya, dan membuat geger hingga namanya dan nama Lee Hangyul jadi trending topik di jejaring sosial, Seungyoun tidak lagi mampu untuk tenang.
Banyak sekali spekulasi tentang hubungan mereka. Banyak yang berasumsi bahwasanya hubungan keduanya lebih dari sekedar hubungan manager dengan artis semata.
Hingga kini berganti hari, topik panas itu masih enggan mereda. Seungyoun tidak baik-baik saja. Apalagi headline pemberitaan media yang terkesan memojokan dirinya. Seungyoun dibilang memanfaatkan hati Hangyul yang terlampau baik. Seungyoun dicap aji mumpung karena Hangyul begitu memercayai Seungyoun selaku orang terdengat di keluar keluarga.
Perasaan tidak nyaman terus mengganggu dari kemarin hingga detik ini. Ingin rasanya berteriak, menyuruh mereka semua untuk diam. Cara bagaimana mereka di luar sana memberi predikat pada diri Cho Seungyoun terlihat begitu picik. Bagaimana bisa mereka memberi penilaian di kala mereka tidak tahu apa-apa.
Konyol.
Saat ini, setelah memantapkan diri, Seungyoun berdiri di depan suite room yang ada Hangyul di dalamnya. Dari balik pintu, ia bisa mendengar suara televisi dari dalam sana. Dirinya gamang antara harus mengetuk pintu itu atau tidak.
Wajah kecewa Hangyul semalam masih jelas terputar dalam kepalanya. Membuat Seungyoun sedikit enggan. Kalau saja Seungyoun tahu diri, mungkin ia sudah angkat kaki dari hotel ini. Bukan malah unjuk diri seolah ia bukanlah penyebab dari kekacauan yang sedang terjadi.
Tetapi Seungyoun tidak mampu memungkiri kalau ada cemas yang menyelimuti hati.
Takut Hangyul-nya kenapa-napa.
Maka pintu kayu itu diberi ketuk tiga kali.
"Hangyul. Ini saya Seungyoun." Jelas tidak ada jawaban. Tidak mungkin Hangyul bangun dalam sekali panggil. Mustahil.
"Hangyul, bangun yuk. Kamu harus rehearsal sebentar lagi."
Masih belum ada sahutan. Seungyoun jadi kian penasaran bagaimana kondisi Hangyul di dalam sana.
"Hangyul, kamu harus siap-siap sekarang kalau tidak ingin terlambat." Sayangnya Hangyul masih enggan membuka mata setelah semalaman menangisi dunia yang dirasa telah jahat padanya.
Apakah mencintai harus sesakit ini?
Pertanyaan itu Hangyul rapal berulang kali bagai jampi-jampi yang dipercaya bisa memberi apa yang diingini. Berharap jalannya bisa sedikit lebih mudah untuk dilewati. Berharap Seungyoun sudi mengamini asa Hangyul yang selama ini berdiam dalam sanubari.
Tentang mereka. Tentang masa depan yang Hangyul yakini akan jauh lebih indah. Sayangnya Hangyul harus rela untuk melepas inginnya tentang Seungyoun setelah malam tadi sang manager itu lebih memilih untuk menyerah.
Bukannya Seungyoun tidak memiliki kunci cadangan kamar hotel ini, hanya saja dirinya tidak ingin seenaknya pada Hangyul. Lima tahun menjadi manager artis muda itu tidak lantas membuat Seungyoun lupa dengan yang namanya privasi. Seungyoun sangat menghargai Hangyul. Ia menaruh Hangyul di atas dirinya sendiri.
YOU ARE READING
SEUNGYUL ONE SHOT STORY
FanfictionKumpulan one shot yang sebelumnya sudah pernah di publish di twitter. Satu judul satu cerita.
