Tittle : The Prince [part 1]
Cast : Lee Jeno x Jung In Ha
Sub cast : Lee Haechan, Lee Donghae, Jung Jinyoung, So Young.
=Cerita ini cuma fiksi ya, gak ada hubungannya sama kisah nyata kerajaan Joseon=
========================
"Hidup raja Dong Hae ."
"Hidup raja Dong Hae,"
Terlihat beberapa prajurit kerajaan memadati seluruh jalanan dengan sebuah tandu besar yang menutupi seorang sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat.
Tampak pula pasukan berkuda ikut mengekori dari belakang, seolah menjadi pelindung jika saja terdapat penyusup yang mungkin bisa menyerang kapan saja.
Senyum tulus terpancar dari raja Dong Hae yang memperhatikan warga nya bersujud hormat padanya.
Setidaknya ada rasa bangga di hatinya dimasa kepemimpinannya, semua warga Joseon tidak mengalami masalah serius. Semua sandang pangan tercukupi.
Pandangannya kini tertuju pada sosok sang putra yang kini berada tepat didepannya dengan menaiki kuda tunggangan miliknya.
Tersirat kegelisahan dihatinya jika suatu saat ia harus meninggalkan dunia, apakah sang putra bisa menggantikannya dan bisa mengurus warga dengan baik?
"Berhenti," mendengar perintah raja Dong Hae, seluruh pasukan tampak berhenti. Begitu pula dengan sang pangeran yang ikut memperhatikan sang ayah dalam kebingungan.
"Apa ayahanda membutuhkan sesuatu?" Seruan pangeran -Lee Jeno- membuat gurat senyuman melingkar dibibir raja Dong Hae. Kewibawaan yang dimiliki pangeran Lee Jeno memang persis seperti dirinya. Ia yakin suatu saat pangeran Jeno pasti bisa memimpin kerajaan dan warga nya dengan baik.
"Tidak. Lanjutkan perjalanan."
Kening pangeran Jeno terlihat berkerut beberapa saat. Kenapa sangat aneh sekali. Bukankah tadi sang ayahanda menyuruh mereka berhenti? Tapi setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan? Fikirannya sedikit terganggu.
=======
Kepulan asap hitam terlihat menggunung disebuah ruang dapur. Beberapa orang bahkan terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Termasuk seorang -Jung In Ha- wanita yang hanya dari pakaiannya saja terlihat berbeda dari penghuni yang berada diruangan itu.
Putri dari seorang menteri yang bertugas di istana. Bahkan tak ayal satu orang yang ikut serta bersamanya selalu memperhatikan dengan penuh ketakutan.
"Nona, lebih baik kita kembali saja ke kamar. Biar tugas dapur mereka yang mengerjakannya."
Namun tetap tak ada jawaban dari sang gadis yang masih setia dengan beberapa racikan makanannya. Bahkan dia tak segan memeriksa tungku api yang bisa saja jika tidak teliti mungkin asap hitam itu akan mengenai wajah cantiknya.
"Astaga nona, kenapa kau.."
"Husst, diamlah So Young-ah. Aku sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting." Balas nya dengan kembali meracik bahan makanan yang akan dia masak.
"Tapi nona jika ayah nona tau, nona akan mendapat masalah."
"Ayah tidak akan tau. Bukankah ayah masih berada di istana. Dan ini masih bukan jam nya ayah pulang dari istana bukan?"
Terdengar desahan nafas kasar dari So Young. Sebagai seorang pelayan yang kerap mendampingi anak majikan nya, ia tetap lah harus sentiasa meluruskan apa yang seharusnya tidak dilakukan anak majikannya. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika putri majikan nya justru keras kepala ingin melakukan apa yang diinginkannya.
-Jung Jin Young- pria paruh baya yang kini dengan sangat gagah masuk kedalam kediamannya. Matanya terlihat memicing saat suasana rumahnya yang terlihat sepi. Kemana para pelayan yang bekerja dirumahnya? Kenapa tidak terlihat?
"Kemana semua pelayan?" Gerutu Jinyoung sembari merolling matanya ke segala arah. Sampai seorang pelayan terlihat berlari menghampiri sang majikan yang sudah berdiri tegak.
"Tuan,"
"Dimana Jung In Ha, kenapa tidak terlihat?"
Sang pelayan terdiam sejenak. Mencari alasan yang pas untuk menjelaskan semua yang dilakukan putri majikannya. Bagaimana ia mengatakan semuanya?
"Kenapa kau diam? Dimana putriku?"
"Nona In Ha sedang..."
"Ayah,"
Mata Jinyoung membidik tepat keseorang gadis yang kini berlari menghampiri tubuh sang ayah yang justru membeku saat melihat penampilan tak biasa dari putri satu-satunya itu.
Bukan karna paras ataupun kecantikan anak gadisnya, melainkan dengan penampilan yang terlihat sangat berantakan. Tidak tampak seperti putri seorang bangsawan.
"Jung In Ha, apa yang sedang kau lakukan?"
"Ayah, aku membuat sesuatu untuk ayah."
Beberapa saat Jinyoung kembali berkutat dengan fikirannya. Mengamati piring berisi makanan yang dipegang putrinya tersebut. Bahagia, tentu saja. Hanya ia tidak menunjukkannya didepan gadis itu.
"Bukankah ayah sudah mengatakan jangan lagi-lagi kau melakukan apapun didapur. Itu sangat berbahaya buatmu." Ucap Jin Young kembali menasehati sang putri dan itu sudah yang kesekian kalinya.
"Aku bosan berada dikamar. Menyulam, melukis aku tidak suka. Aku ingin melakukan hal yang berbeda."
"Bukankah kau bisa menyalin beberapa buku pedoman yang ayah berikan padamu tempo hari?"
Menyalin? Sungguh itu adalah hal yang paling membosankan dari menyulam dan melukis. Itu juga alasan kenapa ia lebih sering berada didapur memasak makanan untuk dirinya dan juga sang ayah.
"Bukankah ayah sudah tau, aku bosan melakukan hal itu. Ayah harus tau keahlian terpendam ku."
"Keahlian terpendam?"
In Ha mengambil sedikit makanan yang ia buat untuk diberikannya pada sang ayah.
"Ayo buka mulut ayah."
"In Ha-ya, ayah..."
"Ayolah,"
Rengekan yang tidak bisa ia dengar dari putri kecilnya. Meskipun ia tidak menyukainya, sebagai seorang ayah ia tetap harus menuruti apapun yang diinginkan putrinya tersebut.
Jin Young menerima suapan dari tangan In Ha yang kini sudah tersenyum memandang seolah menunggu komentar dari masakan yang sudah ia buat.
"Bagaimana rasanya? Apa ada yang kurang?"
"Apakah ayah juga harus berkomentar?"
"Tentu saja. Setidaknya lain waktu jika aku membuat makanan, aku tidak akan mengecewakan ayah lagi."
Jin Young membelai lembut pucuk kepala sang putri. Membiaskan rasa bangga nya pada sang putri yang tanpa ia ketahui ternyata juga punya bakat terpendam. Dan ia tidak pernah mengetahui itu.
"In Ha-ya, tugas dapur sudah ada pelayan yang mengurusnya. Kau tidak perlu bersusah payah melakukannya."
"Tapi aku ingin melakukannya. Aku yakin dulu ibu juga sering membuatkan ayah makanan bukan? Setidaknya aku ingin seperti ibu."
Jin Young kembali terdiam. Sebuah memori kelam kembali terngiang dikepalanya. Mengingat perjuangannya membesarkan gadis itu dari semua bahaya yang menimpanya. Entah apa yang akan terjadi, jika suatu saat In Ha tau tentang kebenarannya.
=ToBeContinue=
