Kasus bunuh diri di kota Sidle semakin meningkat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu alasan dari aksi mengakhiri nyawa diri sendiri ini disebabkan oleh depresi berat. Pemerintah sedang berusaha mengurangi kasus bunuh diri ini dengan menggalakkan beberapa program ....
Suara pembawa acara berita di televisi, remang-remang masuk ke telinga seorang gadis. Ia tengah duduk dengan memeluk lututnya. Baju lusuh, rambut kusut, kelopak mata bengkak, dan sorot mata bergetar, menjadi pertanda gadis itu benar-benar dalam kondisi buruk.
Berita yang terdengar seolah memberikan kekuatan bagi lutut untuk menopang tubuhnya berdiri. Langkahnya terseok menuju ke dapur. Tangannya meraba dengan kasar seluruh laci yang ada. Maniknya membulat tatkala jemarinya menemukan sebilah pisau.
Tangannya bergetar mencengkeram gagang pisau. Bisingnya suara televisi tidak menjadi pengganggu fokusnya mengarahkan pisau pada pergelangan tangannya. Perlahan tetapi pasti, pisau itu mulai menyentuh permukaan kulitnya. Bersiap untuk merobek vena di lengannya.
Brak!
"HENTIKAN!" teriak seseorang yang berlari meraih pisau itu segera.
"Apa yang kau pikirkan, hah?"
Seorang gadis lain mendekapnya penuh kasih sayang. Membuang jauh-jauh benda tajam itu. Gadis yang mencoba bunuh diri itu, terisak cukup hebat.
"Kau mau meninggalkanku?" tanya Aera mendekap tubuh lemah gadis itu.
"Aku tak mau hidup lagi! Dia tak kan mau bertanggung jawab, Ra." Daisy terisak meratap.
"Kita akan merawat bayi ini berdua, Sy, aku akan bersamamu apapun yang terjadi."
Derap langkah berat, menapak lantai kayu gubuk, tiba-tiba menghampiri keduanya. Menyela adegan sedih itu.
"Tidak akan!" seorang lelaki menggelandang Daisy dengan kasar.
"Lepaskan! Dia sedang hamil!" teriak Aera menghalangi.
"Justru itu, dia harus segera menggugurkannya!"
Daisy mencoba memberontak, akan tetapi lelaki itu jauh lebih kuat dari dirinya. Aera yang mencoba menghentikannya pun, terbanting oleh dorongan lelaki itu. Tubuhnya limbung menabrak lemari kaca di belakangnya. Serpihan kaca melukai punggung dan telapak tangannya.
"Aera! ... Tolong jangan sakiti dia!" Daisy memohon.
"Makanya nurut! Atau mau sahabat kamu ini aku nikmati juga, hah? Biar kamu mau nurut denganku!" ancam lelaki itu.
Tanpa menunggu jawaban Daisy, lelaki itu berjalan menuju Aera yang sedang mencoba bangkit dari jatuhnya tadi.
"Tidak! Kumohon jangan lakukan itu juga pada Aera! Dia tak pernah mengusikmu!" gelayut Daisy di lengan lelaki itu.
Lelaki itu tak menggubris ucapan Daisy dan justru mendorong gadis itu hingga menabrak meja dapur. Perutnya terbentur hebat hingga mengeluarkan darah dari sela kakinya.
"Daisy!" teriak Aera yang kini sudah dihadang oleh lelaki itu.
"Minggir! Pergi dariku sekarang juga!" Aera panik, melempar segala barang yang ada di dekatnya. Namun, lelaki itu tetap mendekat dengan tatapan bengisnya.
"Kenapa tak terpikir olehku? Bahkan kau lebih cantik dari wanita jal*ng itu," ucap lelaki itu sembari meraih dagu Aera.
Aera terus berjalan mundur sambil mengawasi Daisy yang sedang kesakitan di seberang. Laki-laki itu terus memojokkan Aera. Namun, gadis itu tak kehilangan akal untuk mencari kesempatan berlari ke arah Daisy. Naasnya lelaki itu berhasil menyeret tubuhnya dengan kasar.
YOU ARE READING
Rainy Day!
RomanceKisah cinta 2 insan yang dipertemukan oleh hujan dan terluka karena hujan, namun tak semenit pun mereka membenci hujan
