Prolog

66 10 10
                                        

"Aw! Sakit Rara!", kata Gema dengan nada sedikit tinggi sambil mengusap lengannya yang kucubit dengan dahi yang mengerucut.

"Bodo amat wlek," kataku dengan tersenyum sambil menjulurkan lidah.

"Oh ngejek ya lo? Sini lo Rara binti Yadi," ucap Gema sambil mengejarku bersiap membalas cubitan mautku.

"Aaaa nggak mau Gema," teriakku berusaha menghindar dari kejaran Gema.

Cubitanku berakhir dengan kejar-kejaran.

Aku berlari dibalik punggung ayah berusaha menghindari kejaran Gema, "Ayah tolong Rara, Gema jahat yah."

Ayah tertawa melihat tingkah kami.

"Rara, Gema udah ayo sini makan," ucap Tante Gina, ibu Gema yang berhasil mengakhiri aksi kejar-kejaran kami.

Aku dan Gema pun akhirnya malah berlomba mencapai tikar piknik.

Begitulah video yang direkam ayahku saat piknik antara keluargaku dan keluarga Gema di pantai 3 tahun lalu.

Kami berdua memang begitu, masih seperti anak kecil meski usia kami 17 tahun sekarang. Persahabatan kami sudah terikat sejak usia tiga tahun. Tak heran kami begitu dekat dan tak terpisahkan.

Setiap segala senang, susah, sedihku, Gema-lah yang selalu ada untukku. Tak ada sedikitpun rahasia yang kusembunyikan pada Gema. Namun, tidak dengan satu rahasia besar yang mungkin dapat menghancurkan persahabatan kami. Aku tak mungkin mengatakannya pada Gema karena jelas aku tak ingin kehilangan Gema.

Namun, kebodohanku merusak segalanya.

RedupWhere stories live. Discover now